surabaya
Ada banyak patung seperti ini, Sura (ikan) dan Baya (buaya) di Surabaya. Yaiyalah, maskot. Antara lain di belakang Mokas, di depan kebun binatang, dan jalan dari Lamongan ke Bungurasih. Beberapa bulan lalu, Mb. Ratna dan saya jalan di tempat pertama. Di dekat Mokas ini selain lokasinya paling dekat kampus, patungnya paling besar, juga sekaligus arena ‘Skate & Bike’ di Surabaya. Pas kami datang kesana, beberapa komunitas skateboard, in-line-skate, BMX juga Wushu sedang latihan.
Awal lihat patung itu muncul hawa-hawa gak enak dari si patung. Entah kenapa saya langsung kaku dan lemas. Kaki bergetar, dan mulut kaku gak bisa bicara. Islam memang mengajarkan tak boleh membuat patung karena, salah satu diantaranya, sering ‘dimasuki’ makhluk halus. Padahal itu pagi menjelang siang bolong! Gak tahan, saya cuma ambil foto dari jauh, terus pulang.
Nah, foto yang saya ambil sekenanya itu jadinya gak bagus. Ada banyak kabel melintang, posisi si Sura dan Baya gak seimbang, ‘pita-pita’ hitam yang menjulur keatas menutupi sebagian patung. Penasaran, sampai di rumah saya buka lagi foto patung itu dan saya sketch ulang. Hasil sketch ‘mangkrak’ gitu aja tak tersentuh.
Pas pindahan ke kos baru ini, saya embat dari rumah printer deskjet (printer+scanner+copy). Tapi karena buru-buru, software buat scanner itu gak kebawa. Mau download pun lupa terus. Baru sore kemaren, software itu berhasil saya miliki dan install. Udah lama juga saya gak ‘mewarnai’ di PC. Terakhir kali pas kuliah di Bintaro, pas lagi laku-lakunya jadi seksi publikasi, hehe..
Kangen, gambar surabaya itu saya scan.
Ini pertama kali mewarna via Pixelmator. Masih belum familiar, saya gak mengaktifkan fungsi lain kecuali brush standard buat mewarna, hehe.. Sori kalo hasilnya standar juga, secara cuma iseng. Karena akhir-akhir ini saya jarang jalan, tapi pengen nge-post blog. Juga karena kebahagiaan adalah hak segala bangsa (apa ini :hammer).(_ _ )”
Palembang!
Cerita bagaimana kami (Gerie dan saya) bisa terdampar Palembang (10/7), silakan baca tulisan Uje disini. Dan karena pepatah bilang “Pictures worth thousand words,” semoga foto-foto berikut bisa melengkapi cerita yang sudah tertulis. Selamat menikmati, peace, love dan gaul!
Libur, tapi..
Musim panen mangga apel sudah lewat waktu saya balik Semarang lewat sebulan lalu. Satu-satunya yang tersisa buat saya di pohon, diembat orang juga pagi tadi, huu… :cry. Mangga apel ini mangga yang buahnya bulat seperti apel dan (katanya) rasanya manis. Sejak ditanam, sampai sekarang pohonnya menutupi balkon depan kamar saya, belum pernah saya mencicip rasanya.
Kontra-produktifnya, liburan ini saya susah kemana-mana. Tiap mau keluar ditanyain, pulang malem dikit ditelponin, wew.. Lucunya, kami dibeliin oven buat bikin roti. Pas nanya harga raket badminton, besoknya udah ada tu di ruang tamu, haha.. Pokoknya gimana cara dah biar saya tetap di rumah.
Eh, saya ke Palembang sih, sama Selly, di awal liburan. Hmm.. lumayan seru juga seh pas disana, termasuk acara kunjungan ke wisma atlet yang lagi heboh kasusnya itu, persiapan Palembang jadi tuan rumah Sea Games ke-26. Sampai baliknya naik pesawat dalam kondisi cuaca buruk, wew.. ceritain ga ya?! hehe :mikir
Lalu, diserang bosan, saya ngajak adik-adik saya ke Surabaya dengan iming-iming begini: ‘tak kenalin kalian sama yang namanya koneksi dewa!’. Adik saya yang maniak internetan itu pun langsung ngikut.
Ah, ya.. kabar baru di rumah. Ternyata selama saya gak di rumah, kami punya umm.. kucing part-timer. Maksudnya kucing itu cuma datang pas jam makan kucing aja. ‘Itu makanya rumah sekarang gak ada tikus, terbasmi dengan predator alaminya,’ kata ibu yang mengajar Ekologi. Tapi tetap aja, kan.. Ugh..
Si kucing, yang gak repot-repot dikasih nama itu, sudah mengerti bahasa. Misalnya kalo dia bilang ‘meauw’ berarti lauknya minta diganti, kalo diam saja berarti mau.
Kata-kata sederhana juga dipahami dia, misalnya ‘sini-sini’, ‘makan’, ‘yang ini’, ‘stop’, ‘jangan kesini’. Bahkan adik saya, Ifa sudah mengajarinya bahasa Korea, misalnya ‘chankamanyo’ (tunggu sebentar), ‘anyo’ (tidak), ‘andwe’ (jangan), haha
.
Bulan Ramadhan di rumah sebulan penuh ini pertama kalinya sejak, hmm.. jaman GusDur kali ya. Nuansa jelas beda. Masjid Baiturrahmah, tempat kami biasa taraweh bareng tidak banyak berubah, dan itu banyak membangkitkan kenangan lama. Sebelum masa-masa selewat itu yang terasa lebih rumit. Libur di rumah, saya gak nyangka bakal merindukan masa yang lebih sederhana.
Bromo 2329 mdpl, Kini
‘Kini’ yang saya maksud diatas tentulah pasca hujan abu dari kaldera Bromo sejak 26 November 2010 lalu. Bukan hanya lokasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) saja, melainkan kota-kota di sekitarnya seperti Probolinggo, Malang, bahkan Bali terkena hujan abu. Bromo dibuka kembali Juni 2011 lalu.
Nah, liburan ke Bromo digagas mendadak di awal libur UAS. Maksudnya sih sebagai pelampiasan, karena sudah satu semester ini kami tak bisa keluar Surabaya akibat tugas-tugas yang selalu menumpuk di akhir minggu. Saya diajak oleh kawan-kawan baru, maksudnya baru pertama ‘jalan jauh’ bareng. Sebagai catatan awal, saya sudah pernah ke Bromo akhir 2009 lalu. Spoiler-nya, Bromo 2011 ini jauh berbeda dari yang waktu itu.
Beda dengan Bromo akhir 2009 lalu, dimana tim kami ke Bromo via jalur Semeru naik truk sayur, nginap di posko Arpala (bahkan sebelumnya sempat mendirikan tenda di tubir lembah Cemoro Lawang), jalan kaki pp Bromo dan kenal, berbagi, ngobrol dengan banyak sesama pejalan. Bromo 2011 ini, meski kawan-kawan saya sudah menganggap perjalanan ini ‘nggembel’, tapi bagi saya kurang terasa nuansa ‘kere’-nya. Lebih ke ‘turis’.
Kami berangkat dari kampus ITS ke Bungurasih naik motor. Sambung bus jurusan Probolinggo. Sampai terminal Probolinggo kami shoma. Saya mengusulkan go-show saja, dengan alasan di atas pasti dapat harga lebih murah. Namun kawan2 bersikeras mencari penginapan + sewa jeep sejak dari terminal. Apalagi semua nomor penginapan yang didapat dari internet telah full-booked, menambah parno kami.
Sopir angkot elf Cemoro Lawang menawarkan penginapan 2 kamar @ 100 ribu dan sewa jeep 400 ribu, yang segera kami terima dan bayar dimuka dengan bodohnya (menurut saya). Belakangan, ketika tak sengaja saya bertemu dengan pak Adi, provider jeep tersebut di warung dekat penginapan, beliau bilang tarif ‘sebenarnya’ jeep adalah 250 ribu. Sedangkan kamar ternyata cukup luas sehingga tak perlu sewa dua. Tapi apa lacur, sudah terlanjur dibayar..
Sekitar pukul 7 sore kami sampai Cemoro Lawang. Usai meletakkan tas dan mengambil jaket, kami keluar penginapan untuk makan, ke ATM, dan rapel shalat. Hujan pasir turun saat kami jalan-jalan, membuat kami bergegas. Kasihan kawan saya Miftah. “belum pernah gue pergi ke tempat sedingin ini..,” katanya. Rupanya ia belum pernah melipir ke daerah pegunungan, meski sudah pernah backpacking ke Thailand dan Singapura, haha.. Sementara Jihad dan Novan yang sekamar dengan saya mengaku tak nyenyak tidur karena terlalu dingin dengan selimut setipis itu. Saya yang nempel-molor ini, ditambah dengan membawa light-sleeping-bag, enak-enak aja tuh tidur, haha..
Tepat pukul 3.00 sopir jeep tiba, yang dikomentari Jihad dengan “anjrit, ontime..”, sehingga kami buru-buru bergegas. Sekitar pukul 3.30, jeep kami beserta 100-an jeep lain, bukti bahwa naik jeep adalah klise dan mainstream sekali, menuju Penanjakan dalam waktu 15 menit saja. Oh ya, Pananjakan ini bukan yang biasanya, karena yang ‘aslinya’ longsor kena erupsi. Objek wisata di Pananjakan ini adalah melihat sunrise. Bukan sunrise terbaik yang pernah saya alami, tapi lumayan lah
.
Kami kembali naik jeep sampai di pelataran Pura Luhur Poten. Sisa perjalanan ke Bromo kami tempuh dengan jalan kaki saja. Miftah sudah sejak dari hiking di Pananjakan tadi sering minta berhenti, sedangkan Novan sempat kram kakinya sewaktu jalanan menanjak ke kaki Bromo. Jihad sudah mulai naik puncak, saya di belakangnya. Disana, 250 anak tangga yang dulunya ada, kini ‘hilang’ ditelan abu. Mendaki puncaknya kini selicin mendaki puncak Semeru. Tak ada beton untuk pegangan tangan, tak ada pagar. Hanya sisa-sisa pembatas jalan yang bisa dikenali untuk menuju puncak (kawah) Bromo.
Sampai di puncak saya melipir ke kiri. Ceritanya, saya ingin napak tilas perjalanan 2009 lalu. Sedari kaki Bromo tadi saya sudah menggumamkan lagu yang sama yang saya nyanyikan waktu itu, ‘Saengil chukha hamnida..’, dst. Baru semenit saya disana tiba-tiba muncul gumpalan hitam dari kawah. Mula-mula kecil dan pelan, lama-kelamaan semakin tinggi dan menghitam. Lalu blaar! Erupsi.
Massa yang berada di puncak bergegas turun. Tapi yang di bawah justru meringsek ke atas, termasuk si Yudhis yang nekad naik ketika Jihad dan saya justru sudah sampai bawah. Untunglah dia selamat, hehe.. Saya jadi tak yakin apakah sebenarnya Bromo sudah layak dibuka kembali, ataukah dibuka ‘paksa’ karena banyak warga lereng yang menggantungkan kehidupannya pada pariwisata Bromo?
Belakangan dalam perjalanan turun arah Malang, melewati Pasir Berbisik dan Padang Savana, saya baru sadar dampak kerusakan yang timbul akibat erupsi. Pasir Berbisik yang dulunya berwarna hitam legam kini seperti susu bubuk cokelat. Awan putih yang dulunya menggantung rendah, kini digelayuti serbuk halus pasir cokelat juga. ‘Bukit Teletubies’ (aslinya Padang Savana) yang dulu kami teriakkan dari atas truk sayur di jalur menuju Ranu Pane, kini meranggas dan tertutup pasir yang sama. Bromo yang (dulu) terkenal dengan fotogenik-nya, entah sampai kapan bisa kembali.
Ojek yang kami sewa sejak dari penginapan mengantarkan kami ke Malang, lalu dari Terminal Arjosari kami kembali ke Surabaya. Selain perjalanan yang cukup berkesan, saya menambahkan catatan karakter pada kawan-kawan baru saya yang tak saya dapatkan ketika berinteraksi di kampus. Inilah bagian paling menarik dari sebuah perjalanan, bukan?! hehe..
Kemana Saja
Whoa, udah lebih dua bulan saya gak nongkrongin blog ini! Jalan-jalan seh malah jadi tambah sering, tapi tiap kali lihat laptop lebih sering keingat tugas daripada keingat nulis, hehe.. Berhubung liburan semester sudah dimulai, semoga nanti sempat cerita-cerita di blog ini. Berikut beberapa jalan-jalan yang pengen saya tuliskan disini:
.: Ungaran 2050 mdpl via Gedong Songo
Ungaran ibarat hutang yang menghantui saya karena letaknya yang cuma beberapa kilo dari rumah. Meski sudah beberapa kali main kesana, tapi sekali ini bersama Selly, Ani, Dennis, Fauzan dan temannya Fauzan, kami mencoba jalur dari Pasar Ungaran dan turun via Gedong Songo. Tepat sebulan sebelumnya, Selly dkk semapat ingin mencoba jalur ini tapi gagal.
.: Arjuna 3339 mdpl dan Welirang 3156 mdpl
Pertama kalinya saya kebut dua gunung sekaligus dalam dua hari. Partner pendakian adalah dua orang monster gunung, yang terkenal dengan speed-trekking-nya: Wildan ‘Codet’ dan Eko si ‘Gokong’. Tak heran kalau waktu pendakian kami melampaui yang biasanya yang tertulis di catper-catper, haha. Kena badai di Welirang, beberapa kali tertipu puncak bayangan di Arjuna. Mereka berdua puncak ke 11 dan 12 saya, alhamdulillah.
.: Banyuwangi, pantai Mangrove Alas Purwo
Isma menikah dengan Ubay, dua sahabat saya yang saya kenal di waktu dan tempat berbeda. Peristiwa paling gokil seumur hidup saya adalah kereta Mutiara Timur menunggu saya dan Rian yang terbirit-birit dari Stasiun Turi ke Gubeng, karena Argo Anggrek telat dua jam. Sedangkan si Selly berdiri di depan palang pintu kereta memohon-mohon penjaga agar menunggu kami yang tertinggal, dengan alasan ‘kesalahan’ Argo Anggrek -lah, sesama kereta PT KAI, penyebab kami telat
.: Krakatoa
Ekspektasi saya adalah, banyak mendaki sedikit berenang. Ops.. salah! Baru sampai Pulau Sebuku, lanjut snorkeling ke tiga pulau: Kebon Lebar, Pulau Umang, dan Pulau Sebesi sampai sore. Besoknya habis jalan nanjak sedikit ke Rakata, salah satu pecahan Gunung Krakatau, kami kembali snorkeling ke Legon Cabe sampai puas. Sampai dua hari setelahnya, tiap kali saya tidur selalu berasa lagi mengambang di air, hehe.. Cerita superlengkap dari si superduperlebay, bisa dibaca disini.
.: Jalan-jalan Surabayan
Sebulan terakhir bisa dibilang bulan senggol-bacok buat kami, mahasiswa. Final Project semua mata kuliah muncul bersama-sama, membuat 24 jam tak cukup menyelesaikan tugas dengan puas. Asal selesai. Di sela-sela kesuntukan, saya dan kawan-kawan sempatkan jalan sekitaran Surabaya: es krim Zangrandi, museum House of Sampoerna, pelabuhan Tanjung Periuk, jalan Kota Tua Surabaya, sate kelapa Gubernuran, Duren&Durian di Food Festival Pakuwon, pantai Klayar Madura, resto seafood Layar, rm masakan Surabaya Jenggala, dsb..
Ah ya, berikut adalah video (sebenernya sih kumpulan foto-foto) jalan-jalan yang juga merupakan kuliah, di Klenteng Pak Kik Bio, Surabaya. Disana kami harus memecahkan soal, mewawancarai pemilik klenteng, dsb. Meski tak disangka bahwa laporan tidak hanya berformat paper dan presentasi, tapi juga video (kami tak terpikir bawa handycam/shooting), tapi syukurlah bisa selesai.
RandomShoot (tiga)
Beberapa waktu yang lalu, salah satu dosen saya memperkenalkan tentang konsep Green Computing. Salah satu isu pentingnya adalah pelepasan karbon dan pemborosan yang dilakukan oleh hardware dan sistem operasi. Kapan-kapan insyaAlloh akan saya tulis tentang isu menarik ini. Doakan saja, hehe..
Ketika masuk jurusan SI ITS mulai tahun lalu, satu hal yang saya senangi: pengumpulan tugas dengan upload, dan resume dengan kertas bekas. FYI, kami bikin laporan rata-rata sebanyak 200-300 halaman tiap minggu (3 laporan sih). Bayangkan bila sebanyak itu dicetak dengan kertas, kan.
RandomShoot (dua)
Random foto kedua, semuanya diambil di Malang. Selama disini, sudah tiga kali sih saya ke Malang. Surabaya – Malang bisa ditempuh dalam lima jam dengan moda tercinta kita, kereta. Harga ekonomi cuma Rp. 4500,-. Foto-foto ini rata-rata diambil pas nikahannya Koh Tepi, anak Stapala dengan Mbak Denok, Oktober 2010 lalu.
Citatah 125
Bagi pemanjat pemula, Citatah 125 merupakan ‘surga’.
“Semua orang bisa memanjat,” kata seorang pemanjat dari Skygers, sekolah panjat Indonesia, yang kami temui di Citatah 125 (23/01).
Lepas dari segala hal, materi maupun fisik, lucu-lucuan, poker, kesasar, dan kebodohan lain, kami tetaplah manusia pembelajar. Saya senang mendapati banyak karakter unik adik-adik angkatan yang baru. Karena memang dari segala yang terpenting pada perjalanan, adalah mengakrabkan.




















kata kita