Petualangan Memasak
Sukamantri Ceria..

Jika kami bersama Nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta Hening akan terpecah
Aku dia dan mereka Memang gila memang beda
Tak perlu berpura pura Memang begini adanya
Dan kami tau anda bosan Dijejali rasa yang sama
Kami adalah kamu Muda beda dan berbahaya
~SID feat Shaggy Dog
Sabtu, 23/06/09, pukul dua. Kami setengah berlari menuju stasiun KRL Pondok Ranji. Setengahnya karena KRL ekonomi jurusan Tanah Abang yang akan membawa kami ke Bogor sebentar lagi akan lewat, setengahnya lagi karena hujan mulai deras mengguyur. Dua diantara kami bergantian membawa carrier berisi dua tenda, kompor, nesting, dan bahan makanan, sisanya membawa day pack2 gendut, isinya: makanan semua. Tentu saja, karena sore ini kami mau berangkat kemping. Kami ini: Dian Bonasari ‘Bun Bun’, Selly ‘Gerie’, Yella ‘Chang’, Adin ‘Jemblem’, Rian ‘Geplak’, Nurul ‘Uka’, Diah ‘Dii’, dan Nes. Loh kok cewek semua?? Ya dong.. Mau kemana?? Mau dong.. Loh?!!

di posko sebelum berangkat
Yah, beginilah kalo kemping cewek semua, tak ada jaim-jaimnya. Tunggu punya tunggu, ternyata KRL ekonomi lama sekali berangkat. Sudah dua jam kami menunggu, tak ada kabar KRL ini akan berangkat. Kami yang mulanya riang jadi agak panik. Ketika akhirnya diumumkan KRL Ciujung jur Tn. Abang mau lewat, kami langsung pasang badan dekat bahu rel. Eh, loh kok kereta yang muncul KRL Ekonomi AC? Tak mau kehilangan kesempatan, takut kemalaman, dan sudah bosan menunggu, kami pun langsung masuk dengan perasaan was was. Benar saja, ketika pemeriksaan karcis, kami bentrok dengan petugas. Singkat kata kami pun sampai di Tanah Abang. Menunggu jurusan Bogor ternyata tak lama, meski begitu sampai di stasiun Bogor sendiri hari sudah menjelang maghrib. Kami delapan orang berencana langsung ke tempat kemping, tapi apa daya, sopir angkot menaikkan harga tinggi [Rp. 150 ribu] dengan alasan jalan rusak. Kami menawar sampai harga 80 ribu, meski konsekuensinya harus jalan dari peternakan sapi sampai tempat kemping diatas.
- kujang rider
- hujan deras di stasiun pondok ranji dan kami..
Perjalanan hiking kami tempuh dengan bergelap-gelap, tiga senter untuk 8 orang –ya ya, kami memang gak safety- kurang lebih 1,5 jam. Meski berat, kami jalan tanpa beban, karena kembali ke tujuan semula yaitu ingin kemping ceria, hehe.. Satu hal yang perlu dicatat, jalan ke Sukamantri dari peternakan sapi jauh lebih parah dari terakhir kami kesana. Bila pada waktu itu angkot bisa berjalan mulus sampai pertigaan portal, sekarang jalan sudah rusak sejak peternakan sapi. Kujang Rider, gerbang dimulainya trek Wanawisata Sukamantri telah kelihatan, kami pun bersemangat. Bunbun, Di’I dan Uka langsung riuh mengenang masa-masa bersejarah mereka sebelum dilantik menjadi STAPALA setahun lalu. Dengan meraba2 jalan pintas, kami pun akhirnya sampai di tempat perkemahan lebih cepat. Segelas teh panas dari warung membakar semangat kami untuk memulai mendirikan tenda, beberapa langsung ke masjid untuk salat dan membersihkan diri. Tenda kami menghadap langsung sunrise, angin tak banyak, jadi di tempat yang terbuka itu kami tak terlalu dingin. Lokasi kemping ini telah terisi beberapa tenda, ramai, karena libur akhir

masak-makan-ngobrol
minggu. Lapangan tempat pelantikan bahkan telah di-booking oleh klub mobil offroad Land Rover.
Tenda siap, kompor pun dikeluarkan. Kami membuat spaghetti saus tuna, hmm nyam nyam.. Ngobrol tak jelas khas cewek pun tak ketinggalan. Meski alur obrolan tak jelas, tapi jelas2 lebih mengakrabkan kami. Nes sendiri baru kenal dengan Yella dan Adin karena saat mereka bergabung ke stapala Nes sudah lulus. Rian, masih dengan banyolannya yang segar, yang mencerahkan suasana. Gerie dan Uka yang sigap memilih lokasi dan mendirikan tenda, khas anak Gunung Hutan. Dii yang membuat fly sheet. Adin dan Yella merapikan barang2 di dalam tenda. Malam itu kami sepakat bahwa kami akan kemping lagi dengan cewek2 lain yang belum ikut kali ini. Haha..

Bunbun sendiri paling pagi bangunnya untuk melihat sunrise dan berjalan2 di tempat mereka dulu dilantik. Sedangkan yang lain memilih foto2 dan memasak. Pagi ini kami masak spaghetti [lagi], masak nasi, sup, dan lainnya lalu makan2, ngobrol2… sampai siang, hehe.. Siangnya kami packing dan langsung menuju ke air terjun. Tak ada dari kami yang pernah ke air terjun Sukamantri sebelumnya, sewa pemandu ternyata mahal, 100rb. Maka kami pun mulai mendaki, menebak2 kira2 dimana lokasinya. Eh, benar saja kami kelewat jauh. Untung masih ada sinyal sehingga kami masih sempat minta petunjuk si Semut dari posko untuk memandu kami. Untuk sampai ke air terjun ternyata kami harus berbasah-basah melewati sungai tangga-tangga batu, berlawanan arah dengan arah arus sungai, menyusur sampai ke muaranya, pengalir air sungai, yaitu air terjun itu sendiri.

di depan air terjun
Ada satu air terjun besar yang diapit dua air terjun kecil di kiri kanannya, air terjun ini tak begitu tinggi, sekitar tiga meter. Pelangi terbentuk di salah satu sisi air terjun, indah, fotogenik.
Puas, kami pun turun ke perkemahan. Sudah menjelang sore ketika kami berganti baju, makan, dan turun ke lokasi angkot. Dari angkot, kembali ke stasiun demi stasiun dan kembali ke rumah kami, posko, 24/06/09 sekitar pukul 20. Makasih buat teman2 atas kebersamaannya kali ini, yuk kapan kita kemana [lagi]?? Makasih juga buat kantor yang sudah memberi Nes diklat di Jakarta selama seminggu ke depannya.
Next: Goa Cibarno [seusai diklat]
Melintas Batas: Danau Ranau

- ki-ka: Agung, Acens, Arie, Syura, Nez, Ricky
Danau Ranau, salah satu aset daerah yang membelah dua propinsi, Lampung dan Sumatera Selatan. Maka wajar saja bila kedua propinsi ini sama-sama ingin mengelola daerah wisata Danau Ranau. Bila dari SumSel dikelola oleh PT Pusri, dari Lampung kawasan wisata ini dikelola oleh PemKab Lampung Barat sebagai kawasan wisata Lumbok Resort.
Tujuan touring kali ini [31/03/09] kami ingin ke SumSel bagian selatan, dan perjalanan ini harus melewati Danau Ranau yang dikelola PT Pusri. Di Ranau, pengunjung bisa menginap di rumah gubug dengan pemandangan langsung ke arah Ranau. Disana dijual juga souvenir kerajinan tangan. “Loh, kok kaya yang di Malioboro –Jogja- ya?,” ternyata kata yang jual “Memang itu dari Malioboro, Yu’ [Ayu, sapaan untuk perempuan di SumSel]. Daripada beli disana kan jauh ,mending beli disini….” Wah belum tahu dia kalo “saya dari Jawa ibu, kalo ke Malioboro saja mah sudah pernah, hehe…” yang langsung di-“Ooo”-i sama si ibu.
Dermaga kecil yang terletak di tengah2 Ranau, bisa membawa pengunjung ke objek wisata lain, diantaranya Pemandian Air Panas, Pulau Marisa, kota Banding Agung, bahkan ke Lumbok Resort. Satu trip perjalanan dengan kapal motor berkapasitas sekitar 10 orang dibandrol Rp. 110.000,-. Sebenarnya kami sempat gentar melihat kapal motor di tengah2 Ranau –seperti- hampir tenggelam, tapi ketika diyakinkan pemilik kapal bahwa “ ini ada banyak drum-drum air terbuat dari plastik yang bisa mengapung, kalau2 tenggelam. Nanti bisa buat berenang balik kesini,” kami pun langsung antusias. Tapi ada yang salah, seharusnya kami butuh pelampung, bukan? Ah ngawur memang… Dengan mengucap bismillah kami pun berangkat ke pulau pemandian air panas. Sauh pun diangkat, kapal dilabuh. Di tengah jalan, iseng, Nes memanjat ke bagian atap kapal. Wah, indahnya, pandangan jadi leluasa. Lokasi pemandian air panas ternyata jauh dari harapan, kumuh dan tak terurus. Kami pun kehilangan selera untuk mandi, cuma basuh2 kaki saja di tepian dengan air panas ber-belerang itu.

Sayangnya, kami tak bisa berlama-lama di Ranau, panas yang menyengat membuat kami harus bergegas. Kami yang touring langsung meneruskan perjalanan ke kota Banding Agung. Kota yang terlatak di Kab. Oku Selatan ini sekitar satu jam ditempuh dengan motor. Di kota kecil inilah kami mengisi perut, dan shalat.

Sudah pukul tiga sore ketika kami usai memutar kota dan memutuskan untuk kembali. Beda dengan perjalan awal, kali ini kami mengambil rute memutar, melintasi kota2 kabupaten Oku, sebelum menembus Kab. Lampung Barat lagi. Perjalanan pulang ini hanya tergambar samar2 di ingatan Nes karena rupanya lelah dan belaian angin membuat Nes berkali2 ketiduran di jalan, hehe… Semoga kami selalu diberi Allah nikmat sehat; biar bisa jalan2, jajan2, jepret2 di kota2 eksotis lainnya, amin..

Di bawah pohon Talas ini, manusia cuma serupa liliput saja -di jalan menuju Banding Agung-
Hari Terakhir SPT

SPT Nes -akhirnya- selesai juga ^^;
Hari ini hari terakhir penyampaian SPT.
Nes sudah, bagaimana dengan kamu?
Agak parah ni pertugas KP2KP-nya.
-___-a

latihan dayung di Situ Gintung 18/02/2007
18/02/2007
Pagi-pagi sekali kami, dengan penuh semangat, sudah kumpul di depan dinding panjat. Setelah melakukan peregangan, lari keliling kampus dua putaran, dan beberapa seri penguatan, kami bergegas menaikkan Sekoneng [nama perahu karet STAPALA] ke atas angkot yang telah dicarter, lalu memasukkan sejumlah dayung, pelampung, helm, pompa perahu, dan peralatan arung jeram lainnya. Tak lupa tenda, fly sheet, tikar, kompor, gas, dan bahan makanan bekal kemping. Ya, hari ini kami akan berlatih salah satu olahraga khas pecinta alam yaitu ORAD [Olahraga Arus Deras] atau yang lebih dikenal luas dengan nama Arung Jeram. Situ Gintung di Ciputat selalu menjadi pilihan tempat berlatih karena letaknya yang dekat kampus STAN [Bintaro, Tangerang]. Situ [danau] yang arusnya tenang akan menjadi area pengenalan kami sebelum nantinya terjun ke sungai.
Untuk masuk ke arena wisata Situ Gintung dikenakan biaya per kepala Rp. 5.000,- sedangkan angkot kena biaya sendiri bila masuk gerbang Situ. Dasar anak kampus yang koceknya minim, kami yang berjumlah sekitar 20 orang ini hanya mencarter satu angkot untuk membawa barang2 dan sekitar 5 orang untuk mengangkut perahu dan barang2 ke dekat Situ. Sebagai informasi, letak gerbang dengan tepi Situ yang akan kami buat tempat kemping lumayan jauh, sekitar 1 km. Nah, sementara itu sisanya yang 15-an orang naik angkot lain sampai ke dekat pemukiman warga, dimana angkot carter-an sebelumnya telah menurunkan pelampung, dayung dan helm dan masuk lewat gerbang depan. Kami yang ber-15 harus berenang sejauh kira2 200m dari jalan kecil dekat pemukiman warga menyeberang ke sisi Situ yang berbayar itu, walah walah..

ayo... renang teruuss, hosh hosh..
Jauhnya jarak dari satu sisi ke sisi lain membuat kami sering ‘beristirahat’ di tengah2 danau sambil mengobrol dan mengambil napas, hehe.. secara kami memakai pelampung, jadi aman. Lagipula kedalaman danau bisa mencapai lebih 10 m, sehingga pemakaian helm, pelampung dan dayung, selain sebagai sarana latihan juga berfungsi sebagai prosedur keamanan [safety procedure]. Beberapa kawan yang kepayahan ‘dibantu’ dengan cara memegang tali di sisi-sisi perahu karet yang menyusul ke tengah. Naik ke perahu? Enak saja, kami kan sedang dilatih dalam rangka diklat STAPALA 2007. Malah sialnya, beberapa meter sebelum finish, si KoBo [salah satu pelatih ORAD kami] melajukan perahu tepat dibelakang kepala Nes. Perahu karet itupun menenggelamkan Nes, yang panik dan menyelam sambil berenang ke sisi kiri agar lepas dari himpitan perahu. Dasar KoBo, huh! Jadi kangen ngarung sama lu, Bo…
Setelah istirahat di tepi beberapa saat, kami disuruh berenang lagi ke tengah. Di tengah Situ kami berlatih renang jeram [renang dengan posisi badan depan diatas, searah dengan arah arus sungai], cara SAR menolong korban yang jatuh ketika arung jeram, cara naik perahu karet dari posisi di atas air [sulit karena tanpa pijakan kaki, menggunakan daya tekan air, dan harus pull-up] dan cara menolong orang naik perahu [angkat bahu pelampung, bukan tangan/badan orangnya]. Selain itu kami juga ‘dilatih’ dijatuhkan dari perahu secara mendadak, dan sesegera mungkin membalikkan kembali perahu yang terbalik [flip flop]. Dalam salah satu sesi latihan flip flop ini kami menghilangkan satu dayung merk Boogie. Dayung itu pinjaman dari Arkadia [Pecinta Alam UIN] lagi, haduh… Walau beberapa orang penyelam telah dikerahkan sampai dasar perahu, tetap tak ketemu. Kami pun pucat pasi, bukan apa2, tapi demi mengirit ongkos masuk tadi kami telah berenang sejauh 200 m, sekarang masih harus patungan buat beli dayung baru, dasar nasib…
Tak terasa siang hampir usai, kami pun menepi. Tikar telah digelar, dan kami yang kedinginan, mulai menyalakan kompor dan memasak. Bekicot2 yang bertebaran di keliling Situ bernasib naas hari itu, karena kami menangkapi beberapa dan melempar mereka dalam bara. Lumayan untuk lauk teman nasi yang baru matang, hmm… Kami pun bergiliran masak, makan, dan shalat. Lepas asar, kami mulai latihan dayung sesi kedua. Kami memakai lagi perlengkapan, lalu berenang mengejar perahu karet yang sudah terlebih dulu ke tengah, dan berlatih beragam cara mendayung; dayung kanan, dayung kiri, dayung samping, pancung, manuver, dan yang paling penting dayung skipper. Skipper adalah pengendali arah perahu. Tidak seperti sopir alat transportasi lain yang sopirnya berada di depan, skipper arung jeram berada di posisi paling belakang. Ia tidak mendayung, tapi mengendalikan perahu ke kanan atau kiri, sekaligus pemberi aba-aba awak pengarung lain untuk melakukan dayung maju, dayung mundur, atau berhenti, atau menunduk [bum] menghindari akar/ranting yang biasanya menjulur di sisi-sisi sungai. Seperti kegiatan2 lain dalam olahraga pecinta alam, belajar arung jeram kali ini sangat asyik. Berkali-kali kami jatuh, salah, gugup dan berganjar digetok dayung di helm kepala kami oleh pelatih. Kami tertawa dan ditertawakan, jatuh lalu naik lagi, bergiliran jadi korban lalu jadi penolong, semuanya indah. Tak ada yang lebih berharga dari pengalaman, ia adalah guru terbaik.

Magrib menjelang dibarengi hujan, kami segera menepi untuk bergiliran masak dan shalat. Kami juga mendirikan tenda dan memasang fly-sheet. Kami duduk melingkari makanan kombinasi campur aduk mie dengan nasi, tempe, kerupuk, dan bekicot, dengan sayur sop yang dituang begitu saja diatas yang lain. Lalu kami pun khusyuk di satu2nya kegiatan yang sanggup membuat kami terdiam bersama-sama, makan. Merdu, merdu sekali. Tak ada yang lebih merdu dari suara kebersamaan, diiringi nyanyian alam tepi Situ Gintung, ditingkahi jeritan kodok dan dengungan nyamuk. Nyamuk?! Ah sial, kami akan kesulitan tidur malam ini. Para puan tidur di tenda, yang lain bertebaran di tikar di bawah fly-sheet dan saung-saung tepi Situ. Tentu saja dengan kemping akan lebih menghemat daripada besoknya kami harus datang lagi dan bayar transport dan tiket masuk, hehe..
Esoknya kami bangun pagi-pagi, usai subuh kami langsung pemanasan. Peregangan, joging, penguatan, lalu berendam dan menyelam. Setelah memakai perlengkapan kami berenang ke tengah dan naik perahu. Kami mengulangi lagi latihan kemarin, kali ini lebih serius dan lebih fokus kepada teknik pengarungan. Vijay dan Komeng, para ORAD-ers senior kami, mengingatkan bahwa latihan ini sangat berguna untuk keselamatan diri. Melakukan olahraga pecinta alam tidak seperti dugaan orang yang penuh bahaya, karena kami telah dilengkapi dengan peralatan dan dilatih dengan sungguh-sungguh. Olahraga ini berbahaya hanya untuk orang-orang yang tidak lengkap dan tidak terlatih. Kami pun jadi tambah semangat.
Sayang siang hari cuaca tidak bersahabat, hujan dan petir menyambar, Sekoneng tiba2 menghilang di balik kabut. Sementara kami yang berlatih sedang berada di tengah2 danau. Kami pun cepat2 mengarahkan Sekoneng ke tepi, lalu menjinjingnya [rigging] ke daratan. Tak mudah menggambarkan horor yang mencekam kala itu, tapi yang jelas pengalaman ini tetap indah untuk dikenang, walau tidak indah untuk diulang, hehe…
Lengkap sudah latihan kami hari itu, kami pun siap menyongsong Sungai Cisadane Atas, Sukabumi. But that’s another story.
*
27/03/2009
Kami sedih sekali melihat Situ Gintung, satu tempat kenangan kami, hancur luluh akibat jebolnya tanggul.
Pemukiman yang hancur itu, tempat kami dulu mengambil start renang demi mengemplang tiket masuk…
Di tepi danau yang luluh lantak itu, tempat kami memunguti bekicot2 dan membakarnya untuk disantap…
Di dasar danau yang surut itu, mungkin masih ada dayung kuning merek Boogie sialan pinjaman yang hilang itu…
Situ Gintung bisa hilang, tapi tidak kenangan kami, ia tetap tinggal selamanya, di kotak-kotak kenangan, di relung- relung hati kami, terus-terusan mengingatkan kami bahwa ia setidaknya pernah ada.

Selamat Datang Saudara…
Dari yakinku teguh
hati ikhlasku penuh
akan karunia-Mu
tanah air pusaka.. ~Syukur
Setelah tiga bulan tak main ke posko, akhirnya kesempatan itu datang lagi. Pelantikan anggota baru STAPALA angkatan 2009 tanggal 8 Maret 2009 waktu lalu bertempat di Gunung Mas Bogor, Jawa Barat. Tempat pelantikannya ada di Ex. Camp Mandalawangi. Yup, benar ini adalah salah satu pos menuju puncak Mandalawangi, Gunung Pangrango lewat jalur Geger Bentang. Jalur yang naik tapi landai dengan pemandangan kebun teh pada awal naikannya. Setelah masuk gerbang hutan, bila kita melayangkan pandang ke kanan, tampak gagah gunung Gede dan Pangrango. Bila benar-benar memperhatikan, kita akan menjumpai air terjun besar yang tersembunyi, artinya air terjun ini tidak bisa dilihat lebih dekat kecuali dari sisi seberang, karena tidak ada jalur tampak menuju air terjun tersebut.
Menariknya, upacara pelantikan kali ini diiringi dengan koor lagu2 perjuangan yang syahdu macam Syukur, Indonesia Tanah Air Beta, dsb dari para panitia yang sumbang acakadut tapi sungguh, merupakan persembahan yang tulus untuk saudara-saudara baru kami yang berjumlah 33 orang itu. Selamat, semoga nomor anggota yang telah kalian kita peroleh tak hanya simbol, melainkan amanah yang harus diemban untuk menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki berbakti kepada masyarakat, tanah air, dan bumi.

Catatan: foto ini sih pelantikan 2008, tapi secara umum hampir mirip lah..
Biha, Kedua Kalinya
“Ia karam, maka tinggallah kini
kesombongannya..”

Kedua kalinya. Ini (14/2) adalah kedua kali Nes menginjakkan kaki di Biha, pantai paling barat Lampung Barat. Bila sebelumnya hanya sepintas lalu, kini ada pemandangan yang berbeda disana. Kapal pengangkut barang ‘Full King’ yang labuh dari Padang ke Bengkulu di tengah perjalanannya mati mesin, terombang ambing, dihempas ombak, pecah karam di pantai barat Lampung ini. Kapal itu sungguh masih gagah, muatannya diburai, diletakkan di tepi pantai, dan dijaga oleh satuan ranger. Jangkar telah dipancang pada pohon kelapa, agar tak lagi dihempas ombak. Karung-karung pasir disumpalkan ke sekeliling dasarnya. Awak kapal telah dievakuasi.
Sudah lebih dua bulan, terbiar begitu saja. Kapal itu pernah labuh lalu karam, tapi lebih baik begitu, daripada tak pernah sama sekali kan.. Lebih baik pernah mencintai lalu ditinggalkan, daripada tak pernah mencintai sama sekali kan, bisiknya..
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Bali disana, pura hindu tepi pantai, tempat ibadah yang tampaknya sudah lama ditinggalkan jamaahnya, sepi dan kumuh, entah kenapa.. Gapura di depan rumah-rumah masih berdiri, dan sapi-sapi yang dibiarkan lalu lalang di jalanan menandakan masyarakat pemeluk hindu disana. Tak heran suasana disana tampak sangat Bali.

Setelah mengisi perut di warung seadanya kami lanjut masuk ke jalan offroad sekitar setengah jam dari jalan utama. Disana kami melihat ‘peradaban’. Sebuah landasan pesawat telah dibangun lurus membentang. Di belakangnya ada kantor berlantai satu seadanya. Masih belum jelas apakah bandara ini akan mengakomodasi penerbangan komersil atau sekedar perintis, hanya saja senang rasanya melihat sesuatu yang berbau ‘kota’ disini. Tentu saja besar harapan kami terhadap yang pertama, perjalanan pulang kampung yang lebih 24 jam jalan darat bisa ditempuh sejam saja, semoga saja, amin.
Perjalanan terakhir adalah pantai karang yang tersembunyi di balik bukit. Kami harus mendaki sebentar untuk sampai ke tempat ini. Suasananya tenang, asik untuk memancing, dan mengasingkan diri kalau masih bisa lebih terasing lagi, he.. Dalam jarak horizon, gugus pulau-pulau kecil mengundang kami untuk datang, enatah kapan.
Hari beranjak sore, kami melepas perjalanan ringkas ini untuk kembali. Kembali meninggalkan jejak, dan menyimpan ingatan dalam saku-saku kenangan. Tak ada perjalanan yang tak menggetarkan hati..

Listrik..
Satu minggu ini akan menjadi hari-hari yang berat untuk daerah Lampung Barat dan sekitarnya. Sabtu (15/11) trafo pembangkit listrik (PLTA) di kec. Sumber Jaya seberat 6 ton meledak disambar petir. Akibatnya sejak sabtu lalu hingga sekarang, kami dalam kondisi tanpa listrik. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya sinyal sebagian provider ponsel, bahkan Telkomsel –apalagi Indosat- walau ahri Selasa kemarin sudah pulih sebagian. Beda dengan ponsel, Telkom sebagai penyedia jaringan pontap –telepon tetap- sampai hari ini (Rabu) masih mati. Hal ini berdampak tentu saja pada jaringan internet. Internet kantor yang sudah dibatasi proxy-pun tak stabil, lebih sering mati..
Hampir semua perkantoran dan sebagian besar rumah tinggal disini memasang genset, karena selain kejadian ini sangat sering listrik disini mati. PLN sering mengklaim adanya kerusakan, yang seringnya disebabkan hujan –yaiyalah namanya juga daerah hutan hujan, gak musim kemarau, apalagi musim penghujan, hampir setiap hari hujan!- jadi permasalahan listrik, dkk ini akan terus seperti ini, bila pemerintah tak mengusahakan perbedaan.
Baru-baru ini, Indonesia diklaim sebagai penghasil pasir photovoltaic terbesar di dunia, yaitu bahan untuk mengubah energi matahari menjadi listrik. Lagi, Indonesia boleh dibilang ‘surga’ dalam hal kelimpahan matahari, karena letaknya di daerah tropis yang –sekali lagi- paling luas di dunia. Ironisnya, tak satupun pembangkit listrik di Indonesia menggunakan tenaga matahari. Kita patut iri pada ladang panel surya di negara subtropis jerman, ayng sedang berusaha menjadi yang terdepan dalam mengurangi kadar karbon di atmosfer bumi dalam perang pemanasan global. Padahal tenaga matahari adalah yang terbaik karena jumlahnya melimpah, selalu terbarukan, dan tanpa emisi karbon.
Sebagai perbandingan, saat mati listrik, kantor kami menghidupkan genset yang berbahan bakar solar, dan tak kurang dari 40 liter solar selama pemakaian 10 jam kerja (pukul 07.00 s.d. 17.00). sangat boros, sangat polutif, dan sangat bising. Padahal tak banyak yang tahu juga, bahwa penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari juga melepaskan karbon di atmosfer!
Kembali ke listrik di Lampung Barat, entah sampai kapan ketiadaan listrik ini berakhir..
Ketergantungan masyarakat pada listrik, sebanding dan saling melengkapi dengan ketergantungan pada bahan bakar minyak, dan sangat besar, bahkan di daerah trpencil seperti Liwa. Dan sebenarnya, bukan hal yang tak bisa teratasi, bila pemerintah mau barubah. Mengganti trafo seberat 6 ton yang harus didatangkan dari kalianda, dengan alat berat yang harus didatangkan dari jakarta dengan kawalan polisi, ayolah… itu bukan solusi jangka panjang dan asa depan yang baik. ‘Menanam’ ladang panel surya bisa jadi solusi yang lebih cerdas bagi masyarakat Lambar, warga indonesia, bahkan penduduk bumi, juga dunia.
Oh ya, di Indonesia, perusahaan seperti SHARP –bukan iklan nih- telah mengeluarakan produk panel surya untuk perumahan dan perkantoran, hanya harganya masih sangat mahal..
Draft ditulis dalam gelapnya kamar bedeng anti gempa, dengan Nokia 6300 jaringan IndosatGPRS. Kapan hari-hari ini akan berakhir.. Pulangkan aku ke tanahku!! T_T
mudiknya Nez
Sekedar catatan buat diri sendiri yang pelupa ini, tentang perjalanan mudik tahun 1429H..
24-25 Sept 08 Untungnya walaupun ngeteng, mulai dari travel-bis-kapal-bis-taksi-angkot-busway-kereta-motor, semuanya cepat dan lancar.. Sialnya: 1. sempat mabuk di jalan gara2 masuk angin di travel *mungkin karena sahur dikit dan masih puasa*; 2. bayar travel, bis, kapal kelas Eksekutif dengan fasilitas Ekonomi; 3. terlalu cepat sampai, jadi sampai Jakarta harus nginep dulu di tempat temen. Muter2 pake taksi sambil ngasih instruksi ke supir taksi lewat hape, saking keselnya sampai si temen bilang “Huh, sopirnya bego banget sih, masa jalan segede gitu gak ketemu2. Udah balik dulu ke jalan yang tadi, cepet. Huh, bego tuh sopir, blablabla…” Yang si temen gak tau, Nes dari tadi mengaktifkan loudspeaker, maksudnya sih biar petunjuk jalan yang dikasihnya bisa didenger juga sama si sopir, tentu bukan makiannya, hehe…
26-27 Sept 08 Punya saudara yang sosialita memang agak2 merepotkan, hawanya begitu sampai rumah langsung aja minta keliling2 jalan2. Kelamaan terpencil ternyata bikin deger musik mall saja bikin pusing, tapi yah buat pinkrazy tersayang, dan juga Risa *yang akhir2 ini si sales kosmetik, ya ampyun* apa sih yang gak. Hari itu kami bener2 jalan2, bersesak2 ria, bersama pemburu2 pakaian dan benda2 lebaran di pasaraya dari pagi sampai malem selama 2 hari, bleh… Beli2? Gak! *gak banyak, maksudnya* Kami nonton Laskar Pelangi.
Nes tak akan menuliskan spoiler resensi, cuma opini. Menurut Nes, film Laskar Pelangi ini adalah benturan pertemuan antara idealisme penulis (Andrea Hirata) dengan sutradara (Riri Riza). Banyak yang tidak tertulis di novel, digambarkan di film, misalnya kenapa harus ‘mematikan’ tokoh Pak Harfan?. Banyak plot2 yang tidak realistis di novel ‘diganti’ dengan yang lebih realistis, misalnya ketika Lomba Cerdas Cermat, kita tak akan menemukan Lintang mengurai teori fisika kuantum *yang sebenarnya pelajaran untuk tingkat SMA, dan diujikan di cerdas cermat tingkat SD? Pada tahun 70an? Walaupun Andrea sih bebas2 saja berkreasi, dan barangkali itu benar adanya?*, tapi Riri Riza menggantikan ‘teori fisika’ dengan ‘persamaan matematika biasa’, dengan kelebihan bahwa si Lintang bisa menghitungnya dengan mengawang saja. Cerdas.
Bukannya memberi buku tentang Edensor kepada Ikal, A Ling hanya memberi kotak roti bergambar Menara Eiffel. Sangat disayangkan keputusan Riri Riza kali ini, mungkinkah Riri tak akan memfilmkan novel berikutnya *ingat Harry Potter*? Karena pemberian A Ling versi novel itu sangat bermakna bagi pencarian hidup Ikal di masa depan loh. Satu lagi, memberi kotak roti rasanya kurang ‘dalam’. Nes sendiri lebih suka dikasih buku, diberi surat, daripada kotak roti, atau berupa barang lainnya, hehe.. Tapi itu sih, subjektif sekali. Lebih subjektif lagi karena ternyata Nes menontonnya di tgl 27 dengan no kursi 7, secara Nes 817/SPA/2007 dilantik tgl 07/07/2007 gitu.. Akting pemain ‘comotan’ dari Belitong terbaik pantas disandang pemeran Mahar, asli, alami dan kocak banget! Lepas dari situ, baik novel dan film-nya sama2 memberi makna dalam bagi pembaca dan penontonnya. Indonesia boleh bangga punya Andrea Hira dan Riri Riza-Mira Lesmana. Salut!
28-29 Sept 08 Dengan alasan gak penting ‘batik lagi ngetren’, RHYers memilih Pekalongan sebagai tempat reuni. Reuni kali ini tidak berlokasi di pantai *seperti tahun2 lalu*, kami cuma jalan, ngobrol, makan. Tak lupa memberi selamat bagi lahirnya ponakan baru dari Erda dan Miko, Erlang. Makin tahun, makin sedikit saja yang ikutan reuni, kali ini malah cuma berlima *dari 13*: Nes, Topik, Imron, Erda, Miko. Imron sekalian mengumumkan pernikahannya. Wah, jauh2 merantau sampai Kendari, dapetnya tetangga deket rumah, yaah namanya juga jodoh *sambil lirik tetangga2 kanan kiri, sapa tau…*, hehe.. Selamat!
30 Sept – 1 Okt 08 Pemalang. Met Hari Raya Idul Fitri 1429 H, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya, amin. Hari H ini selain ritual ’sejarah’ *kunjung2 dari rumah ke rumah*, juga waktunya reuni dengan saudara2, jauh dekat, dan saling kabar. Pemalang adalah tempat tinggal nenek dari pihak Bapak.
2-3 Okt 08 Ponorogo. Kota reog di Jawa Timur ini tempat kelahiran Ibu, juga tempat tinggal Kakung dan beberapa saudara besar keluarga Ibu. Jalur mudik kesana dai Semarang sangat ramai, kami yang sejak sebelum subuh sudah masuk mobil masih mengalami berjam-jam jalanan padat merayap bahkan macet di beberapa titik, belum ditambah panas, tapi seperti kata para pemudik lain: itulah seninya, hehe.. Maklum di Indonesia, apa-apa bisa dijadikan seni.
4-5 Okt 08 Semarang. Arus balik juga tak kalah dari arus mudik. Sekali lagi kami terjebak di tengah2 keramaian hajatan besar negara Indonesia di bulan Ramadhan-Syawal, yang sering disebut lebaran ini. Entah benar atau tidak, dalam bahasa Jawa, ‘lebar’ (‘e’ dibaca seperti kata ’sekolah’) artinya ’sudah’, jadi ‘lebaran ‘ berarti ’sudahan’, makanya kalau dalam satu tahun Hijriyah ada yang ‘marahan’ kalau habis Ramadhan maaf2an ya ’sudahan’ (marahnya) *analisis orang awam*, hehe.. Di Semarang, Nes mencoba mengontak beberapa teman, antara lain teman pas TK dulu, temen SMA, dsb. Maklum kebanyakan nomor hp sudah hilang bersama dengan hilangnya hp waktu itu. Hikmahnya, bersamaan dengan ‘banjir’ sms lebaran kali ini, Nes jadi punya lagi beberapa nomor2 penting yang sempat ikut hilang. Terima kasih Ramadhan dan tradisi saling sambung silaturahmi yang menyertainya..
6-7 Okt 08 Jakarta. Posko STAPALA G-112 adalah tujuan tidak terencana Nes kali ini. Hanya segelintir makhluk yang ada di posko, itupun tidur semua *dasar gak sopan kalian*. Perjalanan aman, lancar, walau harga tiket Ranau yang ke Liwa harganya naik >100%, gila!
Nez kepada Noe…
Noe…
sedih banget gw denger lu DO
jalan yang mungkin lu ‘pilih’ sendiri
puas lu nyakitin hati gw, stapala, semuanya
lulus stan emang bukan segalanya
tapi kita tetap orang2 yang pernah berlari sama-sama
jadi mau gak mau kita tetap saudara..
-gw ga tau harus ngasi ucapan ’selamat’ atau ’semangat’, silakan lu pilih sendiri…-
Bcc: Di’i, semangat ya, Sis
Cc: Vijay, Rawon, Barong, Tian Feng, dan kita semua yang pernah berlari sama-sama…
Setelah pengumuman kelulusan semester genap 2008 kemarin (16/9/08)…






Dari temen2...