Kawanku atau Kepentinganku?

February 6, 2010

Kenapa sih ada musti ada malam minggu?
Jadi berharap ada yang nelpon kan..
Kenapa berharap?
Habis ada yang bilang pengen ngobrol *tapi ditunggu2 gak nelpon2

Haih.. kok jadi curcol?! Sudahlah.. mari kita kembali ke semboyan blog ini nes, ‘banyaklah memberi dan sedikitlah berharap.’ Mari sejenak kita menye-menye di blog ini, ok.. Mumpung malam minggu. Masa jalan2 terus, hehe..

Oke mari kita bahas sebuah topik. Kali ini tentang etika berkawan. Berkawan perlu etika?! Hari gini, pipis aja bayar, eh.. pipis aja ada etikanya, hehe..

Entah ada apa dengan minggu ini. Banyak kawan melapor *halah emang polisi* kalo mereka sedang bentrok dengan.. entah kawan lain, orang yang pernah jadi sahabat, seorang yang pernah dekat *sebut saja namanya mantan*, dsb. Berkawan bisa dibilang fitrah manusia, siapa sih tahan hidup sendiri? Bukankah hal yang paling tidak diinginkan oleh seseorang, adalah tidak diinginkan oleh orang lain?! Karenanya, merasa tidak diinginkan ini sering disebut sebagai penyebab bunuh diri nomor satu lho..

Berkawan bisa diibaratkan berbisnis kepercayaan. Dan kepercayaan itu seharga keperawanan, sekali hilang maka sudahlah. Kita bisa saja tak marah, bila kawan kita melanggar kata-katanya *baca: berkhianat* pada kita, tapi secara tak sadar agak sulit bagi kita untuk percaya lagi pada si kawan tersebut. Sadar atau tidak hal ini berefek pada sulitnya lagi kita percaya pada orang lain. Pada kasus yang lebih besar, kita akan menutup diri. Ah, ini gak penting sebenarnya, tapi nes pernah merasakannya.

Kata orang, tak ada yang abadi, semua hal punya masa kadaluarsa. Termasuk berkawan. Sekedar teori sih, tak bisa ideal, tapi sebenarnya tak perlu ada kata ‘mantan kawan’ bila kita tahu cara/etika berkawan. Bukan, kita tak hendak pilah pilih kawan, hanya kita geser pola pikir kita. Ini hasil diskusi dengan beberapa kawan dekat, yang nes kumpulkan.

don’t put your eggs in one basket
Ini sebenarnya prinsip manajemen investasi. Hei.. berkawan juga salah satu invest kita, kan.. artinya jangan percayakan semua urusan kita pada satu kawan. Karena sekalinya ia berkhianat, maka habislah kita.

pilah pilih privasi
ketika kawan kita ada yang curhat, katakanlah, kepada kita, apakah curhatannya itu jadi milik kita? Oh tidah kawan.. Itu privasi si empunya curhatan. Kita hanya dititipi amanah saja. Syukur2 memberi solusi. Maka elokkah bila kita memberikan curhatannya itu pada orang lain?

hanya berbagi atau minta solusi?
kadang orang bercerita karena kita yang tanya. Kadang cuma sekedar meringankan beban hati saja. Kadang karena memang butuh solusi. Kalau memang kita tak yakin apa maunya si kawan ini, bisa ditanyakan ia minta apa. Hanya berbagi, kita sediakan telinga. Minta dukungan, kita dukung. Minta solusi, baru kita beri.
Kalau kita yang curhat ya lihat apa kawan ini cukup berkompeten untuk dipercayakan masalah kita, dan ingat prinsip pertama, jangan masukkan semua telur dalam satu keranjang, pecah satu pecah semua, busuk satu busuk semua.

kawan salah, tegur saja
apa mentang2 kawan jadi kita bela? Itu bukan kawan namanya, tapi kepentingan. Kepentingannya biar bisa tetap berkawan, dianggap solider, setia dsb. Kata pepatah sih kawan sejati itu, yang ketika kita sedang tertimpa musibah kita masih ada di sampingnya, tapi ketika kita salah ia akan memberi tahu kita.
Mudah teorinya, prakteknya agak susah. Kadang kita sungkan, atau takut itu bukan urusan kita, atau terlalu turut campur. Taruhannya persahabatan itu sendiri, bisa2 kita malah dianggap pengkhianat oleh si kawan.
Kalau kita yang curhat juga percayalah, dua sudut pandang itu lebih baik dari satu. Kalau kita anggap dia salah ya wajar saja, toh hanya melihat masalah dari ‘tangan kedua’, ya dari kamu itu.

tegas
jangan ragu kalau kita keberatan dengan solusi atau ide dari kawan kita. Tapi serahkan keputusannya pada si empunya curhatan. Amannya, berikan dia dua solusi/opsi, tapi beri pendapat kita kecenderungan. Jangan ragu juga bilang kalau kita sedang buntu, enggan memilih atau memberi solusi. Daripada solusi yang kita beri malah salah karena ketaktahuan kita masalahnya.
Kalau kita yang sedang curhat, jangan salahkan yang kita curhatin, toh kita sudah milih dia. Kalau tak setuju juga bilang saja, kan kamu yang punya masalah.

.

Huff! Semua yang diatas cuma teori sih. Sedang mengalami, tapi mempraktekkannya tak semudah menuliskannya ternyata, hehe.. Tak ada itu yang namanya kawan sejati, adanya kepentingan sejati. Sadar atau tidak, semakin kesini kita semakin permisif. Lebih baik cari aman, cari senang. Menumbuhkan kepercayaan baru juga susah, tapi kita masih bisa kok memberi hati kita kesempatan kedua, sembari memberi kawan kita itu kesempatan yang sama.

.

Tulisan ini untuk beberapa kawan yang sedang terililit utang eh.. masalah, dengan orang-orang di sekitarnya. Moga-moga segera terpecahkan. Buat nes, semoga segera ditelpon, hehe..
Bagaimanapun juga ..trouble is a friend yeah trouble is a friend of mine.. kata Lenka, jangan sampai friend is a trouble yeah friend is a trouble of mine..

Yuk nyanyi dimari..


XC Batu Brak

February 1, 2010

Tawaran menarik itu datang saat yang tepat, nes kira. Atau tidak? Sebuah ajakan untuk cross country [XC] ke Batu Brak. Jaraknya hanya kurang lebih empat puluh kilo. Tapi keragaman medannya mirip jalur XC Banyumeneng di Semarang, walau tidak seekstrim itu.

Secara ringkas, perjalanan kali ini dimulai dari bersepeda down hill dari Kab. Liwa sampai ke Kambahang, lalu masuk jalur off road Batu Brak, dan kembali dengan jalur on road yang menanjak terus sampai Liwa.

Pagi itu, entah karena terlalu bersemangat atau memang salah makan, sejak jam empat pagi, tak henti-henti perut ini mulas. Sudah berkali ke belakang, rasa sakit tak surut juga. Cokelat panas sudah diminum, minyak kayu putih juga sudah dioles, sampai jam yang hampir ditentukan, jam 7, gejala sembuh belum mereda. Tapi tawaran itu sungguh menggoda untuk dilewatkan. Berkeyakinan bahwa tak mungkin acara tepat waktu, nes mulai menyemangati perut diri sendiri.

Syukurlah pukul 7.38 ‘gejolak’ sudah mereda. Nes segera angkat kaki, menggedor kosan Bayu dan Asen untuk turut. Sekitar pukul 7.45, setelah sempat mengisi perut dengan lontong sayur, kami bertujuh siap berangkat. Selain kami bertiga, ada KK kami dan tiga pegawai PemDa Lambar.

jalur kebun kopi Batu Brak

Jalan dari Liwa sampai ke Kambahang datar-menurun. Sensasinya hampir sama dengan turun dari Puncak ke Bogor, tapi lebih singkat. Udara pagi meniup dingin, awalan yang indah, hehe.. Usai turunan dari Kambahang, kami belok kanan, mulai masuk kampung jalur off road Batu Brak. Batu Brak adalah wilayah perkebunan kopi Lampung yang terkenal itu. Lajur jalan sempit, hanya tiga kali lebar roda saja kira-kira. Saat hujan, lumpur akan memercik ke badan, dan licin. Kami sering berhenti untuk menciumi wangi kopi, turun minum, dan berfoto tentunya.

Keluar dari kebun kopi, akan tampak rumah-rumah panggung penduduk Batu Brak yang ramah.
Dipa?” *dimana? dari mana? [bhs. Lampung]
Haga dipa?” *mau kemana?
Tanya mereka tiap kali berpapasan dengan kami. Rumah panggung mereka berhalaman luas dan bersih. Beberapa sudah dibuat dibangun permanen, lebih banyak lagi yang masih kayu. Lepas dari perkampungan sudah jalan besar yang membawa kami kembali. Kami mengambil istirahat di warung depan pom bensin baru. Selesai??

Oo.. kawan, belum setengah perjalanan kami tempuh. Medan paling berat justru kembali ini. Lajur on road sungguh tidak diperuntukkan Kim Xinder tersayang nes. Sepeda gunung [MTB] ini sangat gesit di jalur off road tadi, tapi di jalan seperti ini, sungguh setengah mati. Roda yang besar dan gerigi dalam pada ban-nya mencengkeram aspal jalan. Belum full suspensi [fullsus] -nya yang membuat badan sulit stabil. Akibatnya sungguh menyiksa. Terutama di tanjakan yang hampir 80% menuju Liwa. Selalu lontong!! Nes hanya bertahan dalam endurance, tak bisa speed. Sementara matahari memanggang jalan. Melelehkan keringat, dan membakar kulit.

“Muka lu dah kaya udang rebus, nes,” komentar Asen. Hoah!!

tanjakan setan itu..

Sebelum Liwa, kami mengambil jalur off road lagi. Off road kali ini jauh lebih sulit dari off road Batu Brak. Setengahnya karena kami sudah ‘habis’ di jalan, selebihnya karena jalur ini menanjak. Di depan, kami dihadang tanjakan ’setan’. Jalur ini membentuk huruf V, meluncur turun dengan drastis, lalu naik dengan drastis pula. Di titik kulminasinya, sepeda KK terperosok. Rantai gir atas terkait mengunci dengan rantai gir bawah. Sampai di titik inilah riwayat sepeda itu dalam perjalanan ini. Mau tak mau harus diangkut mobil kembali.

Kami sisanya masih menempuh jalur offroad menanjak menuju Liwa. Napas sudah satu satu. Gigi sepeda pun tertahan di satu satu, tak bisa lebih. Kayuh demi kayuh. Kanan kiri masih kebun kopi yang harum, tapi mata sudah tak bisa lagi menikmati. Pikiran hanya terfokus pada ’sampai kapan ini berakhir’.. haha.. sungguh payah nes!! Ketika sampai di Liwa, matahari terhalang awan hitam. Hujan pun turun. Sungguh perubahan cuaca yang ekstrim.

Terima kasih untuk perjalanan kali ini. Benar-benar terpikir untuk mengganti ban si Kim. Hidup gaji ke-13!! Hidupkan terus semangat bersepeda!!


p a r a d e

January 28, 2010

apa kamu sedang merasa sedih, kawan?
apa sedang merasa bermasalah?
atau sedang mau berbagi, tapi ternyata kamu sendiri?
atau sedang tak ada masalah, yang malah itulah masalahmu?! hehe
hmm.. sama

*toss*
Eh tapi, tadi nes baca ini, dan lihat.. mbak ini, sedang bergulat dengan kanker.. adik ini sedang ditinggal bercerai orang tuanya, kakak ini bingung karena pacarnya mau bunuh diri ketika mau diputus nya, dan mbak yang lainnya lagi, janji sembilan tahun?! kok bisa!! dan silakan baca-baca sendiri betapa semua orang punya masalah.

Oh ya ampuun.. ingin rasanya tertawa keras-keras, sampai menangis, karena oh.. dibandingkan mereka ini, ternyata nes sebenarnya tak bermasalah.. tubuh masih sehat, orang tua lengkap, masih pengen hidup, asal jangan disuruh nunggu sembilan tahun aja, hehe.. bisa mati konyol tergantung saia nanti, hahaha.. *kenapa ketawa, gak lucu nes!*

Oh ya.. Hari ini pula nes nemu *emang pernah ilang?* tiga album DEPAPEPE yang tapping2 gitarnya keren abis. Cobain deh *halah, emang cokelat.. Tapi sungguh, mendengarkan petikan DEPAPEPE efeknya sama seperti makan cokelat, pikiran jadi rileks dan semangat. Maka, cerialah kawan, dunia sedang memainkan skenario-Nya yang indah dan sempurna. Hanya untuk kamu!!


reflection, recent, resolution

January 27, 2010
.
reflection
well, in two words, last year to me was: stuck yet tough. at the beginning of the year, i thought my life would’ve been save and secure, that was why i made my biggest mistake of these year: i didn’t make any resolution!! i’m not the ambitious kind of person, but usually i made plans for what i could reach, or do, and that supposed to made my whole year like a role playing game, hoho..
.
but while beginning of 2009 ran smoothly, i lulled by my ‘comfort box’, and forgot that my life could’ve more interesting if, i made a.. what do you call.. bet to your life, hehe.. so, back then, in the middle of the year, i felt stuck and bored. i merely to continue my life, thought that 2009 won’t turn interesting no matter how hard i try. as mr big say “don’t say that later will be better, cause you’ve got stuck in the moment, and can’t get out of it.”
.
perception build mindset, so when i think i’d get stuck, then i’d really be stuck. i travelled, but without meaning. i worked, but without passion. i related, but flat, no creativity. i thought that travel, work, and relationship could run well by nature, how fool.. and ‘that stuck’ kind of mind bite me! when i finally realized, and trying to fix it, it was almost late.. the end of year came so suddenly, no matter how fast i tried to run caught it.
.
recent
but thanks to 2009. if i didn’t happen all those tough moments back then, i might not be down writing this right now. this 2010 began with all distress resulted by last year. yeah.. many home work to do. i still work, but trying to put a passion on it, and on my partners too. i still plan a travel, but only if it has any meaning to me. i still relate.. hard moment, though.. but still lit a hope for it. i still pray, but put a seriousness and made constant habit to it. oh yeah, i moved my dorm last week, nearer to my office, only about a km. it’s not interesting to bike anymore, hoho.. but i exchange it to walk to work. it’d sound challenging.
.
resolution
well, here it goes.. i got to get some things i could reach or do this year. while scholarship, for extended undergraduate stud, will be held right before my eyes now, a prepare is a must. i really really want to enter campus this year!! can’t wait to a long holiday, changing fashion style, hang out friends, guitar course.. well, i even miss a test, paper, home work, wow.. just think of it made me explode in enthusiasm.. well, then i should play less and study more, aarrrggh!!!
.
i’ll try to fix it. i’ve just can’t figure out how, yet.. i still wish this would be my last, ever.
.
anyway, since lot of my friends-in-crime enter to work world lately, i might be travel less and stay more, huhu.. but if i accepted to university this year *amien*, i’ll be open to adventure with my new friends, hoho.. to friends i might ignore, i’d try to reconnect. i should talk less, hear more. apathetic less, socialize more. selfish less and empathetic more.
.
to environment, i’ve bought a tote bag, which is now i bringing it about everywhere. so i could reduce plastic and reuse bag more. i’d continue to bike, walk, do exercise more. i might plant a tree over my window pane. i’d spend less, save money more.
.
to writing, i stick to my principles: i quote, but i don’t repost. even in my own blogs nor notes. let alone repost another people’s blog, big no.
.
well, this is the worst part, since i travel less and stay more, i might plan to close this blog. but wait, i might enlarge my social network by using an english blog. i also really wish to open a deviantArt page, since i give a draw and design of my world, a back. i might enter community blogs, since personal web blog is no longer enticing. i plan to create, and contribute, to world more.
.
it’s done. finally.. let see what the future brings.
and be grateful of whatever it is..

Mahameru 3.676 mdpL

January 8, 2010


puncak abadi para dewa

Fajar menyingsing di Mahameru 3.676 mdpl

Tulisan ‘PUNCAK’ dengan bendera merah putih berkibar disana

Letusan asap berbentuk cendawan dari kawah Jonggring Saloka terdengar keras

Menggoyang bumi Tengger sejenak

Dan lututpun tersujud tanpa sadar

Air mata..

.

.

“Sampai Branti, Ngah.” Sial, baru mimpi ternyata..

“Oahm.. mulang pai.” Artinya pulang dulu.

[23/12] Perjalanan dengan Cita Rasa Seni

Bandara Raden Intan II, Lampung. ‘Ngah’ adalah sebutan ‘mbak’ dalam bahasa Lampung. Nes menggosok mata lalu berlari kecil menuju hanggar. Sejurus kemudian Merpati berhenti di landasan pacu terminal 2F Cengkareng. Benar kata Uje, perjalanan dengan pesawat memang tak memiliki cita rasa seni, tapi apa boleh buat, ada sebuah anekdot: pegawai bekerja untuk absen. Karena kerja lembur pun tapi tak absen, sama dengan tak digaji, dan sebaliknya, hehe..

Antrean mobil mengular depan pintu tol keluar bandara, karenanya nes menghampiri ojek.

“Delapan puluh ribu, mbak.” Njrit, ini namanya pemerasan! Nes segera balik kanan dan mengadu pada YLKI, tapi bohong.. nes butuh segera ke Sta. Tanah Abang ini. Tarik lah, mang.. dan dalam waktu 45 menit, ojek pun sampai di depan Sta. Tanah Abang. 15 menit kemudian, KA Bengawan memasuki jalur satu dan kami berlima, yang berencana mendaki Semeru, lagi-lagi berlari kecil berebut kursi tempat kereta ekonomi ini.

Tunggu, bukannya mau ke Malang Nes? Kok naik Bengawan? Read the rest of this entry »


sempurna

January 7, 2010


bila kesempurnaan adalah kemustahilan, mengapa sebagian manusia tak bisa berempati? ~Dee

Read the rest of this entry »


Menelusur Gelap Goa

December 18, 2009

‘penglihatan terlalu berlebihan di tempat dimana cahaya tidak bersinar’

~ National Geographic

chamber Goa Asem

Apa yang bisa kita lihat di bawah tanah, teman?

Tak ada yang tak bisa kita pelajari dari setiap jengkal alam semesta ini, termasuk di dalam perut bumi, melewati gua vertikal, penghubung dunia bawah tanah dengan dunia nyaman diatasnya.

-Gua Asem-

Saat menuruni gua pertama kali adalah salah satu saat mencekam dalam hidup. Memang saat pertama itu sudah terjadi lebih dari dua tahun lalu, tapi bau lembab batuan karst itu, degup jantung saat melepas sedikit demi sedikit tali kernmantel dari figure of 8 itu, meredupnya cahaya bersamaan dengan makin turunnya level gua itu… masih terasa seperti baru saja.

Gua pertama itu adalah Gua Asem, terletak di Tajur, Jawa Barat. Setelah turun sekitar lebih 20 meter –mohon dikoreksi kalau salah- suasana gua langsung gelap gulita. Maklum, letak dasar vertikal gua ini agak bergeser beberapa meter dari mulut gua. Satu per satu kami pun turun. Waktu itu, kami pikir, dasar gua vertikal itulah tujuan kami, karena sekilas dasar gua itu tampak buntu.

Tentu saja ini adalah pikiran kami yang amatir saja, bagi para penjelajah gua macam Udik, Aria dan Ucup, gua ini masih jauh dari berakhir, lebih tepatnya baru awal perjalanan kami dimulai.

Sebuah celah sempit, biasa disebut ’lubang jarum’, yang hanya seukuran pas badan ditunjukkan oleh mereka sebagai pintu masuk lubang gua yang lain, masih puluhan meter ke bawah ternyata..

Kami pun turun ke ’lubang jarum’ itu, lalu mesti merayap turun, menunduk, dalam posisi telentang karena lubang ini hanya pas sebadan saja, keringat mulai bercucuran, agak menyeramkan memang posisi ini, dan kata2 ’bagaimana kalau…’ terus melintas di pikiran.

Untunglah setelah seolah tak berujung, lubang itu mulai melebar. Ini cukup melegakan. Apalagi setelah itu kami melihat sesuatu yang tak pernah kami bayangkan akan kami lihat di kedalaman bawah tanah: sebuah ruangan cukup besar, atau oleh penelusur gua sering disebut ’chamber’ [kamar]. Di ’kamar’ ini kami melihat cekungan sungai, tapi saat itu hanya ada sedikit air. Di sini juga lah kami pertama kali melihat serangga gua. Serangga ini punya antena yang lebih panjang dari serangga daratan biasa. Seperti umumnya hewan-hewan lain yang hidup di tempat dimana cahaya tidak bersinar ini, mereka tidak menggunakan mata sebagai indera untuk bertahan hidup, mereka buta. Bagi serangga gua, antena sepanjang itu berguna untuk meraba dinding gua, memastikan tidak ada gangguan di depan mereka sebelum mereka lewat. Udik meminta kami mengelus tubuhnya untuk membuktikan, dan hei.. benar juga, serangga itu tak menghindar. Beberapa cacing gua asik saja melenggang di lumpur sela-sela sepatu boot kami, tak menganggap kami sebagai ancaman, mereka pun buta.

berdiri: tommi, rian, nes, eka, duduk: hendy, mamung, noe, selly

Read the rest of this entry »


Petualangan Memasak

October 29, 2009
Ternyata mood itu datangnya seperti cinta, tiba-tiba di suatu minggu pagi yang cerah. Buru-buru, karena takut inspirasi itu lenyap begitu saja, segera lah membuka Google dan mencari daftar resep masakan. Buang resep mie rebus, buang resep agar-agar, kita harus mulai memasak yang lebih serius! ‘Everyone Can Cook’ kata Cheff Linguini di Ratatouille.
Hari pasaran, hari dimana pasar buka, yaitu selasa dan jumat segera tiba. Mulai dari sedikit, mulai dari yang mudah, mulai dari.. sekarang!

Sukamantri Ceria..

June 14, 2009

kesasar


Sabtu, 23/06/09, pukul dua. Kami setengah berlari menuju stasiun KRL Pondok Ranji. Setengahnya karena KRL ekonomi jurusan Tanah Abang yang akan membawa kami ke Bogor sebentar lagi akan lewat, setengahnya lagi karena hujan mulai deras mengguyur. Dua diantara kami bergantian membawa carrier berisi dua tenda, kompor, nesting, dan bahan makanan, sisanya membawa day pack2 gendut, isinya: makanan semua. Tentu saja, karena sore ini kami mau berangkat kemping. Kami ini: Dian Bonasari ‘Bun Bun’, Selly ‘Gerie’, Yella ‘Chang’, Adin ‘Jemblem’, Rian ‘Geplak’, Nurul ‘Uka’, Diah ‘Dii’, dan Nes. Loh kok cewek semua?? Ya dong.. Mau kemana?? Mau dong.. Loh?!!

di posko sebelum berangkat

di posko sebelum berangkat

Yah, beginilah kalo kemping cewek semua, tak ada jaim-jaimnya. Tunggu punya tunggu, ternyata KRL ekonomi lama sekali berangkat. Sudah dua jam kami menunggu, tak ada kabar KRL ini akan berangkat. Kami yang mulanya riang jadi agak panik. Ketika akhirnya diumumkan KRL Ciujung jur Tn. Abang mau lewat, kami langsung pasang badan dekat bahu rel. Eh, loh kok kereta yang muncul KRL Ekonomi AC? Tak mau kehilangan kesempatan, takut kemalaman, dan sudah bosan menunggu, kami pun langsung masuk dengan perasaan was was. Benar saja, ketika pemeriksaan karcis, kami bentrok dengan petugas. Singkat kata kami pun sampai di Tanah Abang. Menunggu jurusan Bogor ternyata tak lama, meski begitu sampai di stasiun Bogor sendiri hari sudah menjelang maghrib. Kami delapan orang berencana langsung ke tempat kemping, tapi apa daya, sopir angkot menaikkan harga tinggi [Rp. 150 ribu] dengan alasan jalan rusak. Kami menawar sampai harga 80 ribu, meski konsekuensinya harus jalan dari peternakan sapi sampai tempat kemping diatas.

Read the rest of this entry »


Melintas Batas: Danau Ranau

June 7, 2009
ki-ka: Agung, Acens, Arie, Syura, Nez, Ricky
ki-ka: Agung, Acens, Arie, Syura, Nez, Ricky

Danau Ranau, salah satu aset daerah yang membelah dua propinsi, Lampung dan Sumatera Selatan. Maka wajar saja bila kedua propinsi ini sama-sama ingin mengelola daerah wisata Danau Ranau. Bila dari SumSel dikelola oleh PT Pusri, dari Lampung kawasan wisata ini dikelola oleh PemKab Lampung Barat sebagai kawasan wisata Lumbok Resort.

ranau3Tujuan touring kali ini [31/03/09] kami ingin ke SumSel bagian selatan, dan perjalanan ini harus melewati Danau Ranau yang dikelola PT Pusri. Di Ranau, pengunjung bisa menginap di rumah gubug dengan pemandangan langsung ke arah Ranau. Disana dijual juga souvenir kerajinan tangan. “Loh, kok kaya yang di Malioboro –Jogja- ya?,” ternyata kata yang jual “Memang itu dari Malioboro, Yu’ [Ayu, sapaan untuk perempuan di SumSel]. Daripada beli disana kan jauh ,mending beli disini….” Wah belum tahu dia kalo “saya dari Jawa ibu, kalo ke Malioboro saja mah sudah pernah, hehe…” yang langsung di-“Ooo”-i sama si ibu.

Dermaga kecil yang terletak di tengah2 Ranau, bisa membawa pengunjung ke objek wisata lain, diantaranya Pemandian Air Panas, Pulau Marisa, kota Banding Agung, bahkan ke Lumbok Resort. Satu trip perjalanan dengan kapal motor berkapasitas sekitar 10 orang dibandrol Rp. 110.000,-. Sebenarnya kami sempat gentar melihat kapal motor di tengah2 Ranau –seperti- hampir tenggelam, tapi ketika diyakinkan pemilik kapal bahwa “ ini ada banyak drum-drum air terbuat dari plastik yang bisa mengapung, kalau2 tenggelam. Nanti bisa buat berenang balik kesini,” kami pun langsung antusias. Tapi ada yang salah, seharusnya kami butuh pelampung, bukan? Ah ngawur memang… Dengan mengucap bismillah kami pun berangkat ke pulau pemandian air panas. Sauh pun diangkat, kapal dilabuh. Di tengah jalan, iseng, Nes memanjat ke bagian atap kapal. Wah, indahnya, pandangan jadi leluasa. Lokasi pemandian air panas ternyata jauh dari harapan, kumuh dan tak terurus. Kami pun kehilangan selera untuk mandi, cuma basuh2 kaki saja di tepian dengan air panas ber-belerang itu.

ranau4

Read the rest of this entry »