Kenapa sih ada musti ada malam minggu?
Jadi berharap ada yang nelpon kan..
Kenapa berharap?
Habis ada yang bilang pengen ngobrol *tapi ditunggu2 gak nelpon2
Haih.. kok jadi curcol?! Sudahlah.. mari kita kembali ke semboyan blog ini nes, ‘banyaklah memberi dan sedikitlah berharap.’ Mari sejenak kita menye-menye di blog ini, ok.. Mumpung malam minggu. Masa jalan2 terus, hehe..
Oke mari kita bahas sebuah topik. Kali ini tentang etika berkawan. Berkawan perlu etika?! Hari gini, pipis aja bayar, eh.. pipis aja ada etikanya, hehe..
Entah ada apa dengan minggu ini. Banyak kawan melapor *halah emang polisi* kalo mereka sedang bentrok dengan.. entah kawan lain, orang yang pernah jadi sahabat, seorang yang pernah dekat *sebut saja namanya mantan*, dsb. Berkawan bisa dibilang fitrah manusia, siapa sih tahan hidup sendiri? Bukankah hal yang paling tidak diinginkan oleh seseorang, adalah tidak diinginkan oleh orang lain?! Karenanya, merasa tidak diinginkan ini sering disebut sebagai penyebab bunuh diri nomor satu lho..
Berkawan bisa diibaratkan berbisnis kepercayaan. Dan kepercayaan itu seharga keperawanan, sekali hilang maka sudahlah. Kita bisa saja tak marah, bila kawan kita melanggar kata-katanya *baca: berkhianat* pada kita, tapi secara tak sadar agak sulit bagi kita untuk percaya lagi pada si kawan tersebut. Sadar atau tidak hal ini berefek pada sulitnya lagi kita percaya pada orang lain. Pada kasus yang lebih besar, kita akan menutup diri. Ah, ini gak penting sebenarnya, tapi nes pernah merasakannya.
Kata orang, tak ada yang abadi, semua hal punya masa kadaluarsa. Termasuk berkawan. Sekedar teori sih, tak bisa ideal, tapi sebenarnya tak perlu ada kata ‘mantan kawan’ bila kita tahu cara/etika berkawan. Bukan, kita tak hendak pilah pilih kawan, hanya kita geser pola pikir kita. Ini hasil diskusi dengan beberapa kawan dekat, yang nes kumpulkan.
don’t put your eggs in one basket
Ini sebenarnya prinsip manajemen investasi. Hei.. berkawan juga salah satu invest kita, kan.. artinya jangan percayakan semua urusan kita pada satu kawan. Karena sekalinya ia berkhianat, maka habislah kita.
pilah pilih privasi
ketika kawan kita ada yang curhat, katakanlah, kepada kita, apakah curhatannya itu jadi milik kita? Oh tidah kawan.. Itu privasi si empunya curhatan. Kita hanya dititipi amanah saja. Syukur2 memberi solusi. Maka elokkah bila kita memberikan curhatannya itu pada orang lain?
hanya berbagi atau minta solusi?
kadang orang bercerita karena kita yang tanya. Kadang cuma sekedar meringankan beban hati saja. Kadang karena memang butuh solusi. Kalau memang kita tak yakin apa maunya si kawan ini, bisa ditanyakan ia minta apa. Hanya berbagi, kita sediakan telinga. Minta dukungan, kita dukung. Minta solusi, baru kita beri.
Kalau kita yang curhat ya lihat apa kawan ini cukup berkompeten untuk dipercayakan masalah kita, dan ingat prinsip pertama, jangan masukkan semua telur dalam satu keranjang, pecah satu pecah semua, busuk satu busuk semua.
kawan salah, tegur saja
apa mentang2 kawan jadi kita bela? Itu bukan kawan namanya, tapi kepentingan. Kepentingannya biar bisa tetap berkawan, dianggap solider, setia dsb. Kata pepatah sih kawan sejati itu, yang ketika kita sedang tertimpa musibah kita masih ada di sampingnya, tapi ketika kita salah ia akan memberi tahu kita.
Mudah teorinya, prakteknya agak susah. Kadang kita sungkan, atau takut itu bukan urusan kita, atau terlalu turut campur. Taruhannya persahabatan itu sendiri, bisa2 kita malah dianggap pengkhianat oleh si kawan.
Kalau kita yang curhat juga percayalah, dua sudut pandang itu lebih baik dari satu. Kalau kita anggap dia salah ya wajar saja, toh hanya melihat masalah dari ‘tangan kedua’, ya dari kamu itu.
tegas
jangan ragu kalau kita keberatan dengan solusi atau ide dari kawan kita. Tapi serahkan keputusannya pada si empunya curhatan. Amannya, berikan dia dua solusi/opsi, tapi beri pendapat kita kecenderungan. Jangan ragu juga bilang kalau kita sedang buntu, enggan memilih atau memberi solusi. Daripada solusi yang kita beri malah salah karena ketaktahuan kita masalahnya.
Kalau kita yang sedang curhat, jangan salahkan yang kita curhatin, toh kita sudah milih dia. Kalau tak setuju juga bilang saja, kan kamu yang punya masalah.
.
Huff! Semua yang diatas cuma teori sih. Sedang mengalami, tapi mempraktekkannya tak semudah menuliskannya ternyata, hehe.. Tak ada itu yang namanya kawan sejati, adanya kepentingan sejati. Sadar atau tidak, semakin kesini kita semakin permisif. Lebih baik cari aman, cari senang. Menumbuhkan kepercayaan baru juga susah, tapi kita masih bisa kok memberi hati kita kesempatan kedua, sembari memberi kawan kita itu kesempatan yang sama.
.
Tulisan ini untuk beberapa kawan yang sedang terililit utang eh.. masalah, dengan orang-orang di sekitarnya. Moga-moga segera terpecahkan. Buat nes, semoga segera ditelpon, hehe..
Bagaimanapun juga ..trouble is a friend yeah trouble is a friend of mine.. kata Lenka, jangan sampai friend is a trouble yeah friend is a trouble of mine..
Yuk nyanyi dimari..













Tujuan touring kali ini [31/03/09] kami ingin ke SumSel bagian selatan, dan perjalanan ini harus melewati Danau Ranau yang dikelola PT Pusri. Di Ranau, pengunjung bisa menginap di rumah gubug dengan pemandangan langsung ke arah Ranau. Disana dijual juga souvenir kerajinan tangan. “Loh, kok kaya yang di Malioboro –Jogja- ya?,” ternyata kata yang jual “Memang itu dari Malioboro, Yu’ [Ayu, sapaan untuk perempuan di SumSel]. Daripada beli disana kan jauh ,mending beli disini….” Wah belum tahu dia kalo “saya dari Jawa ibu, kalo ke Malioboro saja mah sudah pernah, hehe…” yang langsung di-“Ooo”-i sama si ibu.
