Liwa adalah ibukota Lampung Barat. Meski gitu, Liwa jauh lebih sepi dibanding kota-kota yang dibawahinya, misalnya Krui, Sekinci, Bukit Kemuning, dll. Liwa dikelilingi bukit-bukit dan hutan lebat, dengan tanah yang berkontur tajam. Dari Lampung jalan darat selama 6 jam, melewati Lampung Tengah, Lampung Utara, terus ke Kotabumi. Dari Kotabumi ke Liwa [4 jam] dipenuhi hanya dan hanya oleh hutan belantara. Hanya satu jalan kecil beraspal, one way ticket to Liwa.
Sebelumnya…
Jalan berkelok-kelok, naik turun bukit, kanan kiri hutan dan jurang, samar-samar mengingatkan Nez pada pengalaman masa kecil waktu diajak berkunjung ke rumah nenek buyut di Pacitan, Jawa Timur: trauma. Pusing, mual.. perut rasanya seperti diaduk-aduk, lebih parah dari naik halilintar di Dufan, lebih karena intensitasnya.. Ugh.. keinginan buat sering-sering balik menguap saat itu juga!
Sementara travel terus melaju, membelah jalan kecil yang mulai berasa ajeb-ajeb karena aspal jalan yang gak rata atw berlubang.
’Wah, dugem dunk..’ sms Shella.
’Gitu de.. tinggal angkat tangan ke atas aj’ balas Nez.
Alunan musik dangdut bervolume 27-33, pake bahasa Lampung, ditambah kemplang sebungkus yang dari Lampung dicemil terus, pjalanan ini pokoknya Lampung bangget dah!!. ’Tar ditulis di blog nih, nah yang ini juga, yang itu..’ batin Nez sok menghayati sekaligus demi menghibur diri.
Setelah berjam-jam ’dihajar’ jalan berhutan jurang yg seolah-olah gak berujung, tiba-tiba ada sekumpulan rumah-rumah panggung. Itu pertama kali dalam hidup Nez melihat rumah panggung. Berkayu. Berjendela banyak. Hampir semua rumah desainnya sama, yang beda paling2 catnya. Selalu dan selalu ada tangga di kanan kiri rumahnya, bukan di dalam rumah.
Nez takjub… ’Indonesia..,’ ucapnya dalam hati, biar ga dibilang ndeso sm orang2 di dalam travel, hehe.. Pelan-pelan, jalan mulai melebar, mulai terbelah jadi dua lajur, mulai bercabang-cabang. Mulai tampak simbol-simbol ibukota. Patung besar berbentuk –seperti- kol yang merekah, yang ternyata simbol kota Liwa. Iklan Simpati-pede, spanduk ’dibuka pendaftaran ke UGM’, baliho iklan rokok yang ’my life, my adventure’, lapangan bola, pasar.. Tampak seperti da sampai Liwa, walau ga yakin juga. Dengan kota yang lumayan tertata rapi, infrastruktur lengkap, ruang2 publik yang banyak dan besar, tempat2 wisata yang bersih –jarang ditemui di Jawa- tapi tetap ada yang kurang.. ’apa ya’..
Manusia. Ya, Liwa kurang manusia.
Pernah maen game Silent Hill? Kota di perbukitan yang dingin dan sunyi senyap..
Liwa adalah Silent Hill.
persis pglmnku pas ke jakarta, bgong..
ni gedung qo pada tinggi-tinggi ya..
mobil2nya banyak banget..
qo rame bgt…
wuiih.. ngeri, ad macet..