25
Jun
08

‘rasa itu’ datang lagi di Baduy

Jumat, 20-22 Juni ini kami berempat belas (Udik, Gamex, Beton, Jekpot, Ma’il, Gery, Petoy, Nez, Bucks, Geplx, Grandong, Uka, Bonbon, Depex) berkesempatan untuk mengunjungi Suku Baduy, sebuah suku di pedalaman daerah Serang, Banten yang hingga kini masih eksis di tengah hingar bingar peradaban yang serba mengglobal.

Daerah wisata baduy luar, sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45% (Wikipedia).

Pada siang yang menyengat, kami memulai perjalanan. Uka dan Gery bahkan memakai payung. Meski jalanan terus menanjak, ditambah dengan panas, tidak mengurangi keriaan kami.

Kami diantar oleh penduduk asli Baduy dalam, yang tampaknya telah akrab dengan STAPALA karena beliau sering berkunjung ke Bintaro _dengan jalan kaki, tentunya. Wah_ dan putranya bernama Saman. Perjalanan denga rute biasa ditempuh dalam waktu 6 jam, tapi kami menyelesaikan perjalanan ini 4 jam saja, ^^! Panas ternyata membakar semangat kami juga.

Alam Baduy memang indah. Baduy dalam benar-benar terasing dari luar, dikepung perbukitan dan hutan yang masih lebat, diselingi kebun atau ladang, sumber pencaharian mereka. Oia, masyarakat Baduy memang terbagi menjadi dua, luar dan dalam. Sementara Baduy luar mulai meluas, dan padat penduduknya, Baduy dalam masih mempertahan sebagian besar dari tata cara adatnya. Misalnya menggunakan pakaian yang dirajut khusus _tak heran warna, bentuk, dan motifnya mirip_, makanan dan rumah yang semuanya asli dari alam, tidak mengenakan alas kaki, dan semua alat-alat elektronik; tidak ada penerangan kecuali obor dan lilin. Ketika sampai di daerah Baduy dalam, kami pun dilarang menyalakan hp, kamera, apalagi TV ^^!

Kami yang terbiasa dengan teknologi merasakan waktu berjalan lambat disana. Namun kami juga merasakan bahwa rasa persaudaraan, kebersamaan, kekeluargaan kami _yang agak memudar belakangan ini_ kembali lagi. Pengalaman perjalanan yang sulit, dengan prasarana yang serba ‘adanya apa’ _bukan lagi ‘apa adanya’_ menyatukan perasaan dan hati kami. Malam itu, dibawah bintang2 yang bertaburan indah, di tengah lapangan, dengan obrolan2 akrab, kami merasa ‘rasa itu’ datang lagi.

Bersih badan di sungai, mandi di pancuran, di bawah atap langit, sama-sama..

Makan masakan yang dimasak dengan tungku dan bara..

Berbincang dengan penduduk asli yang _secara tidak terduga_ ramah dan terbuka..

Dibawah atap rumah Baduy, bertelekan tikar jerami, bicara dari hati ke hati, berharap waktu terhenti..

Ah ‘rasa itu’ datang lagi..

Kami membeli hasil kerajinan tangan alam dari penduduk asli. Maklum, benda2 ‘alam’ seperti ini amat beken di kalangan anak2 pecinta alam, yang punya ciri khas penampilan tersendiri. Beda dengan pengalaman petualangan yang biasanya, deh..

Karena bangun kesiangan, kami urung melewati jalur Jembatan Akar (8 jam perjalanan), dan memilih jalur biasa. Kami mengejar kereta ekonomi kembali ke Jakarta siang jam 2. Di Baduy kami berkenalan dengan rombongan Anak Menteng yang setelah tukar nomor hp, memutuskan untuk pulang bersama. Kami kembali menemui kereta ekonomi yang penuh sesak, sehingga masuk dan keluar kereta dengan brutal ^^!

Perjalanan yang sama, tulisan yang berbeda, dapat dinikmati disini.


1 Response to “‘rasa itu’ datang lagi di Baduy”


  1. 1 shavaat
    June 29, 2008 at 1:06 am

    sempat ambil foto di baduy dalam ga?

    ada tiga yang gak sengaja Nez ambil di baduy dalam
    termasuk salah satunya yang satu keluarga itu


Leave a Reply