21
Jul
08

Perempuan2 dalam Peradaban Dunia

“Satu-satunya teman yang kumiliki, yang tidak menunjukkan perubahan terhadap diriku, tetap jujur dan transparan bagai air, adalah Arjumandku tersayang. Baginya, aku belum pernah menjadi seorang pangeran, dan saat ini aku bukan seorang Sultan. Aku adalah suaminya, kekasihnya, hatiku masih terjalin erat dengan hatinya. Cinta kami adalah kepercayaan…” ~Shah Jahan.

“Bagi perempuan2 sedunia; adalah penting untuk menjaga wajahmu tetap cantik, dan badanmu tetap langsing, tapi lebih penting untuk mempertajam otakmu dan mengasah mentalmu untuk jadi pemberani..” Itulah pesan tersirat dari dua novel epik tentang perempuan2 dalam sejarah, yang dengan tangan otaknya, mengubah dunia. Mari berkenalan dengan Arjumand Banu dari India dalam Taj (Mizan) dan Tsi Tzu, seorang selir pada masa Kaisar Hsien Feng dalam Empress Orchid dan The Last Empress (Hikmah).

Wanita pertama adalah keajaiban dunia. Siapa tak kenal Mumtaz Mahal. Masjid yang dibangun karena cinta terhadap wanita ini, menjadi satu dari 7 keajaiban dunia. Maka, siapa meragukan bahwa Arjumand, nama gadis Mumtaz Mahal, adalah salah satu wanita yang mengubah peradaban manusia?

Mari kita mengenal kisah cinta abad ke 16 ini.

Arjumand muda harus rela menunggu Shah Jahan lima tahun sejak pertemuan pertama mereka sebelum menikah, dengan hanya tiga kali pertemuan, bahkan diselingi pernikahan politik raja muda itu dengan putri negara tetangga.

Ketika kemudian mereka menikah, pecah perang. Bahkan dengan kondisi mengandung, wanita pemberani ini ikut berperang. Ia menjadi penasehat pribadi sang raja. Seberapa cantik sang Arjumand, tak ada yang mengetahuinya dengan pasti, bahkan dikabarkan tubuhnya melar karena terlalu banyak mengandung, dan menghitam terkena debu jalanan akibat ikut berperang. Tapi kebijakan dan keberaniannya seluruh penduduk India tahu, dan tak ada yang meragukan.

Pada saat beberapa perempuan di harem mempraktikkan perdagangan, mengumpulkan kekayaan; yang lain merengek-rengek meminta jagir besar atau hadiah yang hebat, tidak ada yang memuaskan mereka, Arjumand justru seperti seorang sanyasi, dia hanya sedikit memiliki kebutuhan. Kebutuhan mendasarnya -makanan, minuman, dan cinta- sudah cukup terpuaskan. Ia justru mengingatkan kesederhanaan pada Shah Jahan.

“Kau sudah berubah. Bagaimana aku bisa tetap melihat seorang anak lelaki yang pertama kali melihatku di pasar malam Bangsawan Meena bertahun-tahun lalu?,” sindirnya dengan halus.

Dalam hidup pernikahannya, Arjumand 14 kali melahirkan. Dari 14, hanya 7 yang lahir hidup. Sebagian besar dari mereka, lahir di medan perang, dan tak satu pun anaknya yang hidup, baik laki-laki maupun perempuan, yang tak ikut dalam medan perang. Padahal pada jaman itu, tidak ada perempuan, yang ikut perang. Mereka bercadar dan tersembunyi dibalik istana-istana mewah, dengan puluhan pelayan dan budak. Arjumand bersikap berbeda.

“Kalau aku tak keras kepala, bagaimana bisa kau mencintaiku,” katanya pada Shah Jahan.

Wanita keajaiban dunia itu meninggal akibat daya tahan tubuhnya melemah, karena terlalu sering melahirkan.

Shah Jahan dikabarkan sangat bersedih dan menenggelamkan diri dalam proyek pengerjaan Taj Mahal. Tak heran Taj Mahal sendiri dibangun selama 22 tahun (1631-1653), mungkin lebih untuk menebus kesepian hati sang sultan daripada menjadikan sebuah bangunan..

~

Kota Terlarang, Dinasti Ch’ing. 26 Juni 1852. Ini adalah kisah seorang selir muda yang di kemudian hari menjadi Maharani, kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Putri Yehonala, Tzu Hsi (Orchid).

Salah satu orang bijak Cina meramalkan bahwa “Cina akan dihancurkan oleh seorang perempuan”.

Bersaing diantara ribuan orang untuk jadi salah satu dari 200 orang yg terpilih jadi selir kaisar, lalu bersaing untuk jadi satu dari tujuh istri, Tzu Hsi akhirnya terpilih menjadi Selir Kerajaan Tingkat Keempat, dengan gelar Putri Kebajikan nan Tak Tertandingi. Meski terpilih jadi satu dari tujuh istri, ia masih harus bersaing dengan dua ribu orang selir lainnya yang sebelumnya sudah menetap di istana.

Berbulan2 lamanya, bahkan sekedar bertemu dengan ’suami’-nya pun tak pernah. Ia menyuap Kasim Shim, Kepala Kasim dengan mahar perkawinannya, hanya untuk merancangkan jadwal ‘tidur’ satu kali dengan Paduka. Ketika jadwal itu diraih, ia tak segan untuk ‘belajar’ di Wisma Lotus (rumah bordil) ‘cara menyenangkan lelaki di tempat tidur’.

Singkat kata, sejak itu ia jadi selir kesayangan Kaisar. Di sanalah ia belajar politik, intrik, kekuasaan. Kaisar, yg terbiasa dimanja sejak kecil, mentalnya tak cukup kuat menghadapi serangan Inggris dalam Perang Candu (1852). Maka, ia berinisiatif meresume surat2, membuat konsep traktat, putusan, dsb. Inilah karier pertamanya di kekaisaran. Pada jaman itu, peran wanita di kerajaan sangat terbatas, dan sang Empress memakai baju laki-laki untuk menyamarkan perannya sebagai sekretaris pribadi Kaisar. Ia rela berjalan kaki, dan bukannya ditandu pada saat pengungsian perang, tak seperti wanita lainnya. Ia juga tidak lebih memperhatikan penampilannya -yang memang sudah cantik- daripada karier politik dan kepentingan negaranya. Kisah Empress Orchid berakhir hingga kematian Kaisar Hsien Feng.

Di sekuelnya, The Last Empress, lebih banyak menceritakan karier politik sang Maharani. Meski ia hanya selir, tapi berhasil melahirkan satu2nya keturunan laki2 yang kelak akan menjadi Kaisar, Tung Chih. Meski demikian, karena Tung Chih masih sangat muda, politik lebih banyak ‘dimainkan’ oleh ibunya. Menjadi satu2nya wanita yang berdiri tegak dengan guncangan fitnah, dengan satu demi satu pendukungnya dibunuh, terbunuh, atau diasingkan, Tsu Hsi benar2 mencerminkan tipikal perempuan tangguh. Ia sama sekali tidak silau terhadap harta atau kekuasaan, ia menyebut masuknya ia ke Kota Terlarang sebagai “sebuah ketidakberuntungan”.

Wanita yang pantang menyerah ini, berpengaruh terhadap peradaban dunia.

Melalui novel Empress Orchid dan sekuelnya The Last Empress, pengarangnya -seorang wanita juga- Anchee Min berkata ‘peradaban seharusnya berterima kasih kepada sosok Tzu Hsi (Orchid), bukannya menuduhnya sebagai penghancur peradaban Cina, seperti kata ramalan.’

Semoga bisa dijadikan pelajaran.


2 Responses to “Perempuan2 dalam Peradaban Dunia”


  1. July 25, 2008 at 1:51 pm

    Belum baca Taj sih, jadi belum tahu seberapa istimewanya Mumtaz Mahal itu. Tapi, abang saya pernah nulis di blognya, keterkaitan cinta dan seni arsitektur itu paling erat di Taj Mahal. Dibuat bertahun-tahun, bangunan tersimetris di dunia, dan penuh intan berlian. He, ga ada hubungannya sih sama postingan ini, tapi sepertinya Mumtaz memang istimewa…

    Kalau disadari, pemimpin2 besar di dunia pasti ga pernah lepas dari peran wanita. Kisahnya Napoleon Bonaparte yang menulis ribuan (ribuan!) surat cinta untuk Joshepine Beauharnais; yang merupakan bara semangat bagi dirinya. Hitler yang cinta mati sama Eva Braun. Atau yang paling dekat dengan tradisi kita: Siti Khadijah yang mendampingi Rasulullah. Peran mereka pastilah sangat besar. Belum lagi, ibu2 yang melahirkan pemimpin2 besar di dunia, yang anaknya begitu mempengaruhi sejarah dunia.

    “Dibelakang laki2 yg berpengaruh ada perempuan yang kuat..” kira2 begitulah bahasanya. Semoga Nez bisa jadi perempuan yg kuat seperti mereka, tulisan ini sekaligus doa, amin.
    Iya, Nez baca blog abangnya Jp tentang itu, tulisan2nya bagus juga..

  2. 2 pinkrazy
    September 4, 2008 at 9:12 pm

    mbak..yg resensi ttg empress orchid-nya makasih ya!! Cz q da tugas meresensi, hehe..tinggal nyontek aja deh..wkwkwk!!!

    dasar, gak mikir sendiri neh, payah!!!~Nez


Leave a Reply