Senja di Plawangan Sembalun 27/07/2008. Tampak di garis horizon puncak Gn. Agung 3.142 mdpl [Bali], di bawah tampak Segara Anakan dan Gn. Baru Jari 2.376 mdpl
Benar kata Trinity dalam The Naked Traveller, saat sudah merasa jenuh bekerja dan kalau setiap bangun pagi merasa malas luar biasa, ini saatnya harus pergi berlibur. Sayangnya ‘undangan’ untuk pergi berlibur kali ini datang dengan sangat mepet – dua minggu sebelum hari H -, dengan tujuan yang ekstrem – Gunung Rinjani -, peralatan naik gunung yang tercecer – di Jakarta -, persiapan fisik yang kurang – cuma dua kali seminggu jogging -…
Alhasil selama dua minggu itu Nes belingsatan sendiri, duduk gak tenang, makan gak enak, telpon sana-sini, googling2 dalam rangka perencanaan. Ingat kata pepatah, “gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal”. Sayangnya, jarang sekali pendaki Rinjani yang pernah menulis tentang rencana perjalanannya di internet, jadi agak kesulitan untuk menyiapkan semuanya, sendiri lagi. Tapi disini serunya, merencanakan petualangan ternyata sama dengan petualangan itu sendiri.
Berapa duit?
Paling banyak menyerap dana adalah transport, lalu logistik [baik berupa peralatan pendakian, konsumsi, maupun obat2an], oleh2, lain2 [jalan2, wisata kuliner, dsb].
Berapa lama?
Mumpung ke Mataram, Pulau Lombok, yang terkenal eksotis itu, rugi kalau cuman ke Rinjani. Nes memasang target waktu bisa menjelajah tempat2 wisatanya, makan makanan khas-nya, tempat beli oleh2 khas-nya. Jumlah cuti tahun ini hanya tujuh hari, jadi setelah hitung2an, Nes ‘terpaksa’ mengambil hari bolos – dengan resiko potong gaji tentunya – hehe.. Hasilnya dengan 4 hari cuti, dua hari bolos, satu hari libur besar, dan ijin setengah hari, Nes dapat total 12 hari. ^^’
Naik apa?
Ada dua alternatif, ngeteng naik kereta, atau pesawat. Kedua2nya yang pasti harus via Jakarta. Ngeteng naik bis-kereta-pesawat akan makan waktu beberapa hari – sayang waktu jalan2 jadi berkurang – jadi Nes putuskan buat naik pesawat saja. Karena di Liwa tidak ada agen perjalanan dengan pesawat –atau Nes belum tahu ya- yang jelas satu2nya sarana buat pesen tiket hanya lewat internet. Ternyata hanya satu tiket yang bisa dipesan online dengan ATM kartu Debit, dan harganya terjangkau, maka tak ada pilihan lain selain mengambil yang ini.
Bawa apaan aja?
Selain tiket, peralatan pribadi, dan excess cash, kita perlu… peralatan pendakian, dong!! Namanya juga naik gunung, hehe… Yaa udah tahuu… Tapi tahukah teman, kalau banyak hal yang Nes gak bawa dan ternyata sangat menyulitkan??
Ingat, ini Gunung Rinjani 3.726 mdpl yang medannya bisa jadi sangat berat dan beda karakteristik dengan gunung2 yang pernah Nes daki sebelumnya.
Sama siapa aja?
Guide kami, cewek tangguh asal Mataram, yang rumahnya juga sebagai basecamp kami, Mbak Nita. Selain Mbak Nita ada juga mantan Mapala FE UnRam (Univ. Mataram) Mas Ivan. Keduanya sudah belasan kali naik Rinjani.
Hari Kamis malam 24 Juli 2008 yang datang ada Nes, Ignal dan Godwin. Sorenya datang Soni, Bayu, Aji, Fajar. Jumat malam datanglah Kena, Maureen (Momo), Maria, dan Dewa. Ketika paginya Sabtu, 26 Juli 2008 kami naik angkot menuju pos pendakian, di tengah jalan kami ketemu lagi dengan tiga makhluk Madura, Nova, dan Ari. Jadilah kami berenam belas dipersatukan nasib jadi kelompok sehidup semati enam hari perjalanan di Rinjani.
Uniknya kami berasal dari latar belakang dan asal yang berbeda2, ada Fajar yang koki sebuah resto top di mall ibukota, Soni yang bertampang sangar khas anak gunung, ternyata seorang web decoder. Ada pasangan-ketemu-di-Semeru, Bayu (Bandung) dan Kena (Jakarta). Momo, Maria, Dewa temen se-Mapala UI, sekarang sudah bekerja di tempat yang berlainan. Aji yang adiknya Kena. Madura yang cuti kuliah di Singaraja buat hobi petualang, ternyata baru ketemu Nova dan Ari di posko mapala-nya UnRam. Nova dan Ari lulusan UI yang freelancer, penerjemah buku2 sekaligus penjelajah dan penulis budaya2 kuno Indonesia.
Ignal asli Padang, tapi besar di Jakarta, dulunya sekelas Nes di 1C, sekarang ngantor di Singaraja. Godwin asli Medan, orang Batak tulen, dulunya temen magang di Semarang, selain ngantor, sekarang si Godwin dah jadi banci kondangnya Mataram, jadi penyiar radio bo’…
Nah, kebayang gak sih serunya perjalanan kami?
Lalu, gimana dengan rekor trek mereka? Selain Mb. Nita dan Mas Ivan yang gak usah diragukan lagi, kata Kena “Kami berdelapan sebelumnya kenal di Semeru tahun 2004. Bayu, Soni, dan Momo tahun lalu sudah naik Rinjani..” Selain itu, ini adalah kali kedua Godwin naik Rinjani…
Oh *pandangan langsung berkunang2*, dalam hati “Mampus gak lo Nes.. Lu kira Rinjani buat pendaki kacangan yang baru setahun belakangan naik gunung kaya’ lo…” Wah, alamat besok mendaki jadi ‘anak bawang’, jalan ‘paling kincrit’ dah… Paginya setelah packing sebelum berangkat, Nes berdoa seperti biasanya “Ya Allah, jadikan hamba-Mu yang lemah ini kuat sehingga tidak merepotkan kelompok.. Dan jadikanlah hamba-Mu ini setidaknya bermanfaat bagi kelompok walau sedikit, amin..”
Dan dengan doa itu, Nes mantap melangkah mendaki Rinjani 3.726 mdpl..

Pos 2 Tangengean. Sabtu, 26/7/2008. Dari kiri atas: Mas Nova, Maria, Maureen, Kena, Godwin, Bayu, Mb. Nita, Mas Ivan. Kiri bawah: Ari, Ignal, Madura, Aji, Nes, Dewa. Soni ma Fajar manaa..
Lanjutannya, to be contineud uploaded
Sabtu, 10/08/2008 Diposting dengan penuh frustasi…
Sebenarnya judul tulisan ini Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl Nes, jalur Sembalun-Senaru lanjut ke Gili Trawangan (ERNEST) ^^!
Tapi karena kepanjangan, dan tema blog ini judulnya gak bisa huruf kapiltal, jadi ya gitu deh…

Ck ck ck..Rinjani…
Jadi iri Nez. Kapan ya bisa ke Rinjani.
Ha2, padahal dekat rumah, tapi belum sekalipun ke sana
Good adventure, Sist..
Walaa..
Seumur-umur malah lom pernah ke sono…hiks…
Seharusnya aku ke sono Agustus 2007 bareng Tompel 695, gagal…
nice catper nez, btw tahun depan juli-agustus 2009 Insyaalloh qt mau ke kerinci. Jgn pakai sendal lagi klo mau naek ya nez….
Wah ketemu di forum apa nih para pendaki?
Kok bisa terkumpul orang2 beda background gitu?
kalo yang dari jakarta katanya dari milis -entah apa ya-
kalo aq sendiri dateng dari lampung ke mataram sendiri aja
cuma ada satu temen yang mau ‘nampung’ itupun dia gak ikut ndaki
sisanya kita ketemu di jalan n memutuskan buat gabung sama rombongan kami, gitu deh
hehe ~Nez