Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl-nya Nes (kedua)

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia tidak guncang bersama mereka, dan Kami jadikan pula di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”~QS 21:31

Usai packing, pukul 10 pagi, kami berangkat dengan angkot dari Mataram ke Desa Sembalun Lawang. Selain kami, angkot penuh dengan ibu-ibu suku Sasak pedagang sayur dan ikan di Pasar Desa Sembalun. Paham bahwa kami akan mendaki Gn. Rinjani 3.726 mdpl, ibu-ibu itu mulai menceritakan macam2. Tentang pendaki baru2 ini yang tersesat, tentang dongeng Rinjani, diselipi pesan untuk selalu menjaga omongan dan perilaku ketika mendaki. “Keramat,” kata mereka. Sebagian terhibur, dan tertawa2, sebagian lagi –yaitu Nes- malah merasakan kecemasan yang mengada-ada… ^^’
Memasuki Desa Sembalun yang sejuk berkabut, terlihat bertaburan rumah-rumah kaca yang ditanami buah-buahan: strawberi, apel, pear, dsb yang bisa dibeli di tempat. “Milik [investor] Jepang,” kata seorang ibu pada Nes tentang kepemilikan kebun itu, “kalau milik orang desa itu tuh, bawang putih.” Lanjutnya “Bawang putih yang betul asli berasal dari sini. Kalau ada penanam bawang putih di daerah lain itu bibitnya pasti dari sini,” jelas ibunya, entah kebenarannya.

Penting vs Nyaman

Tiba di Pos Lapor di Desa Sembalun Lawang pukul 13.05, kami tertegun oleh kerapian dan keinformatifan pos ini. Informasi tempat wisata, flora dan fauna, info jalur disajikan dua dan tiga dimensi [maket miniatur gunung] ada di pos ini, ditulis bilingual: Indonesia dan Inggris. Bila membutuhkan jasa porter dan guide, bisa disewa juga di tempat ini. Guide dan Porter juga bilingual lho, maklum selain dari kelompok jaga wana, banyak juga mahasiswa yang menyambi jadi guide. Jasa porter disini selain mengangkat barang, juga mendirikan [dan membongkar] tenda, packing, bahkan memancingkan ikan dan masak. Porter dapat disewa Rp. 85.000 per hari, dengan rata2 pendakian 4-5 hari. Kalau mau sewa porter ‘setengah’ pendakian [pas naik saja, minus turun] saja juga bisa. Gak perlu malu menyewa porter, sebagai informasi saja, hanya pendaki2 muda dari Indonesia saja yang mau berat2 bawa carier sendiri. Banyak yang membawa keluarga termasuk anak2nya yang masih kecil untuk ‘piknik’ dengan mendaki Rinjani. Sebuah keluarga yang Nes temui, bahkan bawa WC portable, lampu dan genset mini. Halah… *Boleh dunk, nitip nge-charge hape?! Hehe..* Bagi mereka, naik gunung iya, nyaman teteep. Bulan ini sebagian besar pendaki adalah turis asing, dan mereka cukup bawa daypack dan ski pool, porternya orang2 setempat. Itupun mereka masih becanda dengan bilang “where is the helicopter?” Ngeliatnya seakan liat Indonesia jaman penjajahan deh… Kami yang memutuskan buat ‘repot2 bawa carrier’ ini tentu mengutamakan membawa yang ‘penting2’ daripada yang ‘nyaman’. Kita mau emm… naik gunung, kan?!

Kami didaftar lalu membayar karcis masuk, seharga Rp. 2.500,- dan mendapat Tiket Masuk dari plastik mika untuk digantung di tas, bukti bahwa kami resmi jadi pendaki Rinjani. Meski jalur asli Jalur Sembalun terletak di sebelah pos lapor, kami masih mengangkot lagi untuk ‘memotong’ jalan, jalur baru, yaitu dari Boak Nao. Kelebihan jalur ini mempersingkat jalan, kekurangannya, kami akan melewatkan kebun stawberi, padang rumput, dan sebuah hotel ?? *garuk2*. Seusai shalat dhuhur, pukul 14.00 kami jalan. Jalan berkabut, tak tampak lereng apalagi puncak Rinjani, hanya kaki gunung saja. Jalanan mendaki, tapi landai, dengan kanan kiri padang sabana yang kering gersang. Untung saat itu mendung, jadi tidak panas. Kami sampai di Pos 1 [satu-satunya pos yang anonim] pukul 15.59.
Kami jalan lagi dengan semangat bahwa pos berikutnya tak kan lebih lama dari sini, dan ternyata benar. Kami tiba di Pos 2 Tangengean pukul 17.13. Di pos ini terdapat mata air yang penampungan airnya berupa bak yang telah disemen. Dibangun pula jembatan kokoh yang tampaknya menghubungkan dua sisi, dan di bawahnya tampak bekas sungai yang mengering. Sungai ini dulunya tempat wisata yang bagus [lihat foto di Pos Lapor], entah kenapa mengering, meninggalkan batu dan jejak pasir warna gelap. Kami beristirahat, membuat teh, membuka bekal nasi dari rumah, dan mengambil air. Ingat, pos berikutnya sampai habis perjalanan satu hari penuh tidak ada lagi mata air.
Senja merayap ketika kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, dan benar2 gelap ketika sampai Pos 3 Pada Bolong pukul 20.44. Dalam perjalanan ini, Ari terpeleset, tangan kirinya keseleo dan tak bisa digerakkan hingga akhir perjalanan nanti. Sampai pos, kami mendirikan tenda dan masak. Makanan hari itu istimewa: nasi, sayur dari frozen food yang dipanaskan dan sayur sawi putih racikan sang koki, Fajar, dan rendang yang dibawa Dewa, nyam nyam… Disinilah kami mulai membaur, mempersempit jarak, tampak semua sifat2 asli kami. Mudahnya menilai seseorang memang dari perjalanan naik gunung, karena disanalah tampak kepribadiannya yang sebenarnya. Kami akan beranjak tidur ketika datang 5 pendaki lain yang nantinya akan menginap bersebelahan dengan kami, dan akan terus begitu hingga beberapa hari berikutnya.

Fajar menyingsing di Pos 3 Pada Bolong
Fajar menyingsing di Pos 3 Pada Bolong

Sampah, dibawa atau dibakar?

Kawanan monyet berisik membangunkan kami pagi itu 27 Juli 2008. Kami bersegera masak, makan, lalu packing. Setelah itu kami menggelar operasi semut [mengambil sampah2 non organik]. Tak seperti biasanya ketika mendaki bersama STAPALA, Nes agak kaget mendapati rombongan ini selalu membakar sampahnya, bukannya membawa. Bagusnya di setiap pos di Rinjani selalu ada bak sampah, terbuat dari beton dan disemen. Mungkin inilah kenapa jalur pendakian Rinjani, berbeda dengan gunung2 lainnya, relatif bersih dari sampah. Di pos2 berikutnya yang lebih terawat, selain terdapat lebih banyak tempat sampah, juga disertai plang tulisan yang kira2 berbunyi “Pastikan Anda tidak meninggalkan sampah di pos ini sebelum melanjutkan perjalanan. Terima kasih.” Yang jadi masalah, sebaiknya sampah dibawa atau dibakar? Nes cenderung membawa sampah, seperti kebiasaan bersama STAPALA, tapi mungkin membakar sedikit bisa mengurangi beban bawaan. Sampah dibakar akan menghasilkan ‘sampah lain’ yaitu polusi udara, dan karbondioksida hasil pembakaran akan membumbung tinggi, melubangi ozon. Dibakar atau dibawa memang pilihan, tapi tujuannya sama, bertanggung jawab atas sampah di gunung. Menurutmu?
Pagi itu, seekor monyet memungut sampah yang baru dibakar, berlari membawanya dan melepasnya di rumput kering. Rumput itu segera terbakar dan merambat, menyusahkan Bayu, Soni, Fajar yang berlarian mengejar si monyet dan memadamkan api…

Monyet memunguti sisa2 nasi
Monyet memunguti sisa2 nasi

Ketemu saudara se-SPA

Setelah berdoa dan toast bersama, pukul 9.17 kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan ini akan melewati apa yang disebut Tujuh Bukit Penyesalan. Perjalanan kering, gersang, panas dan berdebu, hanya manyisakan pemandangan kanan kiri padang sabana ini menanjak, lalu menurun, lalu menanjak lagi, sehingga mendapat julukan seperti itu. Tak ada pos sebelum pos terakhir menuju puncak, Pos Plawangan Sembalun setinggi 2.639 mdpl. Tak ada mata air sepanjang perjalanan ini, sementara panas dan gersangnya melelehkan keringat kami. Untungnya pemandangan bukit2 itu sangat menawan bak lukisan alam. Semakin ke atas, kabut naik melingkupi kami, membawa muatan air. Segeralah berjalan kalau tidak mau tiba2 basah kena embun. Semakin ke Plawangan, semakin gundul tanah, hanya sedikit pepohonan, dan terpaan angin semakin kencang menderu-deru.
Nes mendapat ‘tamu’ tak diundang, ‘tamu bulanan’ yang membuat tak nyaman, tak bisa duduk istirahat. Kepala sudah pening sejak naikan tadi, dan kontrol emosi yang menurun. Perjalanan hari kedua ini Nes lebih banyak jalan sendiri daripada menggerombol, jalan lebih cepat dan terburu, menjaga jarak dengan teman di depan dan belakang Nes. Makanya tak heran, meski menurut catatan Nes sampai di Plawangan Sembalun pukul 14.25, rombongan lain baru datang 2-3 jam setelahnya. Maaf, bukan berniat meninggalkan, hanya, seperti kata Bayu “karena ada yang dicemaskan,” hehe…
Ngomong2, karena Nes jalan duluan, Nes bareng dengan lima pendaki yang menginap di tenda sebelah kami malam tadi. Seorang dari mereka, cewek, yang beberapa kali sempat mengambilkan foto Nes, tiba2 bertanya, “Ini –gantungan kunci perak logo STAPALA- dari mana?”
“Dari STAPALA,” jawab Nes. Melihat mbak-nya agak bengong dan terdiam, Nes menambahkan “STAN Pecinta Alam.” Tiba2 “Kyaaaaaa,” teriaknya “AKU JUGAA.” Halah… jauh2 ke Rinjani, Mataram, ketemu juga sama anak SPA. Nisa-680 kali ini naik Rinjani dengan anak STAN lainnya , tapi bukan STAPALA, telah nge-camp di samping kami sejak kemarin, berjalan bersama hampir seharian ini, tapi kami baru tahu kalau ternyata kami ‘satu keluarga’ gara2 gantungan kunci ini, hehe… Setelah mendirikan tenda, masak, makan, menjerang air, sambil menunggu rombongan, Nes pun ‘bertamu’ ke rombongan anak2 alumni STAN penempatan kantor pusat itu, ngobrol sana sini mengenang almamater dan STAPALA. Setelah dua hari pendakian, sering kali berpikir andai naik Rinjani kali ini dengan Gery, Isma, Rian dan anak2 STAPALA lain, pasti beda ceritanya, dsb pertemuan dengan Mbak Nisa 680 kali ini benar2 pengobat rindu. Kami pun bak telah mengenal lama, saling berpelukan dan bercerita, Plawangan Sembalun terasa seperti posko…

Maureen yang sedang mengambil foto, diambil fotonya oleh Godwin..
Maureen yang sedang mengambil foto, diambil fotonya oleh Godwin..

Pos ini indah bukan main. Bila melihat ke atas, tampak jalur mendaki puncak, dan puncak Rinjani. Bila melihat ke bawah, tampak danau Segara Anakan dan Gn. Baru Jari 2.376 mdpl. Pas di garis cakrawala, tampak puncak Gn. Agung 3.142 mdpl yang simetris, segitiga sama kaki. Kata Madura yang sudah tiga kali naik Gn. Agung, naik gunung ini tidak ada ‘bonusnya’ sama sekali, alias menanjak terus tanpa ada jalan datar atau menurun [bonus]. Akibatnya, tak seperti gunung2 lain yang tampak ‘mbleyot’ naik turun, gunung ini terlihat seperti gambar gunungnya anak SD, garis lurus ke atas, lalu garis turun ke bawah…

Ketemu bule? Sapa saja..
Di pos inilah kami melihat betapa turis asing, bule Amerika dan Eropa, Cina, Arab, Jepang jumlahnya lebih banyak dari pendaki lokal. Mungkin karena di barat saat ini sedang libur musim panas [summer]. Bedanya bule dengan kami, selain tampang dan postur tubuh, adalah –tentu saja- ketahanan mereka terhadap dingin. Mereka tampak hangat seperti ‘di rumah sendiri’ sementara kami terus2an meler, berjaket tebal dan menggigil, sangat katro’ hehe… Tapi tak beda dari kami, mereka juga asik mengabadikan pemandangan sunset. Orang2 serumpun dengan kita, Melayu, seringkali kami sapa dengan bahasa Indonesia. Nes bahkan pernah sotoy nyapa2, eh yang disapa cuman senyum, taunya pas tanya porternya ternyata orang Filipina, hehe…
Pernah juga Nes dan Godwin beberapa kali menyapa bule, tapi yang ditanya juga hanya senyum dan ketika ditanya dia tidak menjawab, hanya mengendikkan bahu. Salah kaprah kami yang berpikir bahwa semua [orang bertampang] bule bisa berbahasa Inggris, karena banyak juga dari mereka negaranya bukan berbahasa Inggris, dan bukan native [speaker], hehe.. Ya maaf.
Ternyata etiket mendaki gunung sama, yaitu salinglah menyapa. Tak peduli bahwa bule Eropa dan Amerika kalau di ‘darat’ acuhnya bukan main, atau orang Melayu dan Cina yang kita paling sering bertengkar pas di ‘darat’, tapi di gunung, semuanya saudara kok. Mereka mendadak dangdut ramah pada kita, orang Indonesia. Makanya tak perlu ragu2 menyapa duluan, tatap mata mereka. Menurut mereka, sikap malu2, menunduk, segan kita membuat mereka berpikir kita bangsa yang bermental lemah dan tak percaya diri. Walaupun sekali lagi ‘di darat’ mungkin kita memang seperti itu, tapi di gunung, silakan sombong sedikit. Kita ini yang punya alam mempesona Rinjani, bukan mereka, kok?!

Belum tentu diantara mereka fasih bahasa Inggris

Belum tentu diantara mereka fasih bahasa Inggris

“Ternyata Indonesia sangat terkenal, ya” adalah pikiran Nes hampir sepanjang jalan. Bayangkan, hampir semua etnis ada disini, dan banyak dari mereka berasal dari negara seperti Slovenia, Chechnya, Belgia, Canada, Austria, Switzerland –sering2 aja nanya “where are you from” dan dapatkan jawaban2 yang mengagumkan, yang biasanya cuma kita baca di buku atau koran. Tak perlu bahasa Inggris yang mumpuni, asal tau saja. Nes mendengar dari mereka bahwa ternyata orang Indonesia, tidak seperti perkiraan mereka yang bodoh dan terbelakang, ternyata bisa bahasa Inggris dan lumayan fasih mengucapkannya. Tentu mereka merujuk khususnya pada porter2 dan guide, tapi juga pendaki Rinjani.
Dalam pendakian ke puncak paginya, Nes bertemu dengan bule yang berbicara dengan bahasa asing bukan Inggris, yang sebelum selesai bicara sudah dijawab, jadi tampak aneh, tapi geli, aksennya kedengaran ganjil. Tak bisa menyembunyikan penasaran Nes bertanya bahasa apakah yang mereka pergunakan. “Chech,” jawab salah satu dari tiga bule cewek itu. Mereka tampak antusias, lalu kami pun mengobrol dengan bahasa Inggris, tentang Rinjani, danau di bawah, jalur ke puncak yang tampaknya sempit dan curam, membuat mereka ragu untuk melangkah..
They,” tunjuk Nes pada cahaya2 senter kerlap kerlip di jalur puncak,”everybody can reach the top, so why can’t us?” kata2 seperti mantra, dan keesokan paginya Nes menyesal telah berkata sombong seperti itu.

People don’t lack strength, they lack will
“Dari 14 kali mendaki Rinjani, hanya 3 kali aku sampai puncak.”~Mbak Nita

“Butuh 7 kali naik Rinjani dulu, baru saya berhasil naik sampai ke puncaknya.”~ seorang guide cowok lainnya.

Dini hari 28 Juli 2008 sekitar jam 1 tampak kesibukan luar biasa, hampir semua tenda ribut, apalagi kalau bukan karena persiapan menuju puncak. Ada batasan, bahwa karena Rinjani masih aktif, maka puncak boleh didaki tak lebih dari sampai jam 10 pagi, lebih dari itu, gunung akan mengeluarkan belerang yang beracun. Pukul 2.36 rombongan kami dengan jaket, senter, sedikit logistik mulai berjalan menuju puncak. Tenda, dsb kami tinggal di pos, dengan Ari, yang tangannya masih cedera, berinisiatif buat menjaganya. Sebenarnya tanpa ada yang menjaga, membiarkan tenda di pos tak berbahaya, asal semua barang masuk, lalu pintu ditutup. Hanya untuk lebih amannya, lebih baik bila dipasang gembok.

Jalanan menuju puncak adalah melulu kerikil dan batu2. Angin kencang menderu tanpa aling2 pepohonan membuat jalan kami terhuyung-huyung. Perjalanan penuh kerikil ini akan menjadi perjalanan puncak paling berat yang Nes alami. Masalahnya, apalagi kalau bukan ‘kebandelan’ dengan mengandalkan sendal gunung dan kaus kaki. Beberapa saat setelah terbenam dalam lautan kerikil, dan kerikil2 nakal itu menyusup antara celah sendal dan kaus kaki, mengakibatkan sakit dan tak nyaman, Nes memakai cara andalan Muladi-822, yaitu lepas sendal. Mulanya sih kaki terasa lebih nyaman, seperti dipijat lah, lama2 kok ya seperti diakupuntur!!!

Sampai di daerah yang disebut Letter L, tandanya adalah danau sudah kelihatan, kami mulai perjalanan Jalur Putih. Jalur ini sempit memanjang, landai sekaligus curam karena di kanan kirinya jurang, gundul tanpa pepohonan, angin lebih kencang dari sebelumnya, kerikilnya berwarna putih tajam. Rombongan ‘gemuk’ kami yang enam belas orang terbagi dua tanpa konsensus. Yang paling depan adalah Ignal, agak jauh dibelakangnya Nes dan Godwin, jauh lagi di belakang kami Madura, lalu Dewa. Mbak Nita memutuskan berhenti sampai Letter L. Sisanya berselisih satu jam. Dengan formasi seperti itu, ketika Godwin, yang berinisatif membawakan sendal Nes, tiba berjalan cepat menyusul Ignal, Nes benar2 total berjalan sendirian. Kami bertiga seperti parade kejar mengejar: Ignal mengejar sunrise, Godwin yang lapar mengejar makanan yang dibawa Ignal, Nes mengejar sendal yang dibawa Godwin…

Semburat jingga mulai tampak di sisi kiri jalan, ketika Nes berada pada titik psikologis. Berjalan hanya dengan kaos kaki yang sudah koyak, telapak kaki penuh luka baret dari kerikil yang tambah keatas tambah tajam, pergelangan kaki masuk ke lautan kerikil membuat susah berjalan naik tanpa terperosot turun kembali, sendirian lagi. Lebih dari sejam kemudian, Nes mulai ‘berjalan’ dengan lutut dan telapak tangan, alias ‘gaya monyet’. Walaupun kini tambah luka di tangan dan memar di lutut, tapi cara ini efektif dapat menahan tubuh agar tidak merosot turun ketika mendaki. Tetap saja terdapat kesalahan terbesar Nes dalam mendaki puncak Rinjani ini, yaitu tanpa sepatu!!! Dalam kondisi payah ini, Nes tak lagi berpikir lain kecuali niat ke puncak.

Madura tiba, mengulurkan bantuan menarik Nes dengan webbing. Maka dimulailah perjalanan gaya baru menggantikan gaya monyet. Madura yang berbadan kecil berkali2 terperosok turun lagi ketika menarik Nes. Kami berjalan pelan sekali hingga daerah Letter A, meski demikian, sisa rombongan di belakang kami berjalan jauh lebih pelan.

Nes tercatat menginjakkan kaki di puncak tanggal 28 Juli 2008 jam 7.27 WITA

Rasa haru tiba2 merayap. Ini adalah perjalanan puncak tersulit bagi Nes. Sujud syukur bagi Allah yang telah mengaruniakan pemandangan dan pelajaran hidup sebegitu nyata dan indah di hadapan hamba-Nya ini, yang tak semua orang beruntung dapat melihatnya. SubhanAllah…

Kami berpose bersama bule di puncak kemenangan 3.726 mdpl

Kami berpose di puncak kemenangan 3.726 mdpl

Setelah mengabadikan momen Eureka! Ini, pukul 8.57 kami turun. Dalam perjalanan turun hampir semua dari kami tersasar ke lautan kerikil dalam, walaupun akhirnya berhasil keluar, hal ini sempat membuat tegang juga. Apalagi jalan turun ini Nes hanya dengan Mas Nova, yang dengan baik hati mau menukar sepatu dengan sendal Nes. Juga Dewa yang setengah menyeret turun Nes yang berkali2 mengaduh kesakitan dan memilih menutup mata.
Ketika yang lain sedang sibuk bercanda, masak, makan, dan menceritakan pengalaman individu ke puncak Rinjani yang berbeda2 dan luar biasa ini, Nes malah sibuk mencungkil2 kerikil2 yang masuk2 ke telapak kaki…Maka benarlah bahwa tidak ada manusia yang kurang kekuatan, yang ada hanyalah kurang niat. Tidak ada keterbatasan fisik, hanya kurangnya akal…

Diposting di rumah Semarang, 16 Agustus 2008. Pulang!!

6 Responses to “Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl-nya Nes (kedua)”

  1. shavaat says :

    selamat sekali lagi, Nez…
    merinding saya melihat foto berlatar belakang danau itu,
    bagaimana kalau saya ada di sana..

    ayo kesana bareng, bro
    kali itu Nes bakal bawa kamera sendiri..~Nes

  2. geriesayangnez=> says :

    nez,,pengen..
    sangat pengen..
    kapan lg kita bisa jalan bareng?
    rencana wisuda d puncak jd yuk..
    *_*
    cerita2,sharing,bcandaan ma angkatan 2007..

    btw,aQ udah dpt boneka dr pukon lho..
    ih loecoe bgt..
    ^_^
    ide usilku malah muncul..
    klo kmu ntar tidur d koz ku,mw ku gangguin pake boneka itu..
    hwahahaha :D

    habis lebaran ada “next journey to Semeru”
    tertarik?
    aQ jd rindu MAHAMERU (gara2 baca 5cm cm smalam,mpe ngimpi2 aQ ke MAHAMERU)
    hehehehe
    mpe ktemu honey..

    gerie813

    Jadi ngeri neh mw numpang tidur di kosanmu lagi
    >.<’
    Hayuk ke Mahameru, Ger..
    Ajakin yang lain juga yah, kalo’ perlu kumpul angkatan
    habis wisuda?! OK!!
    ~Nez

  3. fahrudin ahmad sentosa says :

    Kok bawa bawa bendera palestina segala sih???
    Sok sokan peduli dengan tangis,kelaparan,penjajahan,kerusakan dan kematian di sono ya…..
    Coba deh buka mata buka telinga dan buka hati,sekitar kita banyak loh yang lebih parah…
    sepertinya anda dan temen temanya ibarat pepatah : KOTORAN DI SEBRANG LAUTAN TAMPAK,HIJAU DAUN DI DEPAN MATA TIDAK TAMPAK.

    knapa tidak bawa bendera bintang kejora??? di papua ada gempa,tangis,kematian,kerusakan…
    sedikit yang peduli,apalagi kirim relawan…. lebih2 bawa bendera ke rinjani HAHAHAHA…..
    Kasihan….ya… calon ABDI NEGARA kok ngawur dan picik..

    Selamat deh…proficiat.
    …PEACE…

    Saya gak ada maksud menonjolkan bendera tsb,
    lagipula foto tsb diambil jauh sebelum serangan Israel ke Palestina.
    ‘Teman2′ perjalanan saya baru ketemu setelah di Mataram
    dan kami berasal dari latar belakang yang berbeda2 -lihat postingan sebelumnya-
    Makasih atas pendapatnya~Nez

  4. nestina says :

    Saya gak ada maksud menonjolkan bendera tsb,
    lagipula foto tsb diambil jauh sebelum serangan Israel ke Palestina.
    ‘Teman2′ perjalanan saya baru ketemu setelah di Mataram
    dan kami berasal dari latar belakang yang berbeda2 -lihat postingan sebelumnya-
    Makasih atas pendapatnya~Nez

  5. wiwit says :

    gua baru rencana mo ke Rinjani, banyak baca tentang perjalanan menuju puncak. Mhmm…tambah nafsu aja gw udah gakj sabaaar. Rinjani aku datang…!!

  6. nestina says :

    wiwit: yeah, gunung yang indah. selamat mendaki.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.