Indonesia, sebuah kepulauan yang terdiri atas 17.500 pulau, terletak di ujung barat Sabuk Api [Ring of Fire] yang hiperaktif. Inilah zona geofisika yang bergolak, pertemuan antara lempeng-lempeng tektonik yang beradu, melengkung sepanjang 40.000 kilometer melingkari Samudera Pasifik. Secara geografis, Indonesia adalah tempat yang unik dan sulit ditebak. Hanya di sini, begitu ramai orang yang tinggal begitu dekat, dengan begitu banyak gunung berapi aktif –diperkirakan 129 gunung…
~Dewa-dewa Gunung, National Geographic Indonesia.

28 Juli 2008, jalur Senaru dilahap api!
Sore pukul 15.11, setelah turun dari puncak, kami memutuskan untuk segera turun ke danau. Walaupun perjalanan turun biasanya lebih cepat dan mudah, tapi tidak kali ini. Batu-batuan besar, terjal, dan curam menganga di hadapan kami. Danau Segara Anakan, yang terletak 2.000 mdpl, seolah mengingatkan kami bahwa tidak ada sesuatu yang berharga dapat ditempuh dengan mudah, sebaliknya tak ada yang datang dengan mudah akan sungguh berharga.
Ketika kami sampai danau pukul 18.17, matahari sudah hampir tenggelam. Buru-buru kami mendirikan tenda, memasak air hangat, makan malam, sambil menunggu rombongan kedua. Mbak Nita langsung bersih2 badan di danau, sementara Nes setelah makan memutuskan buat tidur. Malam ini kami melihat jalur Senaru terbakar. Kebakaran merayap dengan cepat dan besar membuat kami agak pesimis dapat melewatinya lusa.
Meski di darat Nes hampir tidak pernah masak, tapi ternyata di gunung Nes termasuk yang banci masak. Gak bisa lihat kompor, pasti langsung nongkrong, hehe.. Gak heran Nes jadi partner setianya Fajar yang juru masak bagi kelompok ini. Pagi itu pukul 6.21 kami masak besar: nasi dengan lauk gorengan bakwan, mendoan, cumi goreng, sambal, dan sayur asam.
Lezat.
Menyusur Goa Susu dan Mandi di onsen

Madura dan Soni renang di danau dengan latar Gn. Baru Jari
Pagi yang indah. Soni, Ignal, dan Madura berenang di danau dingin itu, sementara Bayu asik dengan pancing yang jauh2 dibawanya dari Jakarta demi mancing di danau ini. Kalau tidak bawa pancing, ikan karper, setengah kiloan satunya, bisa dibeli disini, 8 buah Rp. 50.000,- saja. Entah bagaimana penduduk lokal itu bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bayu sehari dua malam cuma dapat 3 ikan karper yang lumayan besar. Mau yang ‘lebih besar’ lagi, dengar2 sih ada monster ikan Loch Ness di danau seberang yang dipisahkan oleh Gunung Baru Jari dengan danau sisi yang kita tempati ini. Konon, sebelum meletus pada tahun 1994, gunung di tengah Segara Anakan itu baru sebesar ibu jari, makanya disebut Gunung Baru Jari. Sekarang, tingginya sudah 2.376 mdpl.
Usai makan, pukul 13.43 kami menuju Goa Susu. Terletak di bukit yang naik turun, perjalanan kali ini tak kalah sulit medannya. Bedanya, pemandangan jalur ini sungguh luar biasa indah. Sungai dangkal berdasar kekuningan karena belerang, berair hangat, membawa kami sampai ke mulut Goa Susu pukul 14.28. Uniknya, beberapa meter sebelum sampai goa, ada cerukan2 seperti kolam, yang tersekat2 dengan bebatuan, yang masing2 kolamnya memiliki kadar ‘kehangatan’ yang berbeda2. Ada yang hangat2 kuku, panas, sampai air mendidih yang terus2an mengeluarkan gelembung2 dan uap panas. Padahal kolam2 tersebut terletak sejajar, dengan ketinggian yang sama, hanya tersekat batu, tapi bisa beragam suhunya.

kolam bersekat batu yang ditujuk Fajar punya tingkat suhu yang berbeda2
Dimulai dengan Soni yang nekat menyusur goa licin itu, hampir semua anak akhirnya mencoba masuk Goa Susu. Kata yang masuk, pemandangan di dalam luar biasa. Uap hangat menyembur dari langit2 goa, air terjun kecil membuat sungai kecil berair hangat mengalir di dasar goa. Air terjun yang membawa belerang ini berwarna putih seperti susu yang mengalir. Dinding goa juga berwarna putih, bahkan sampai dinding luar gua. Goa horizontal ini dangkal dengan lubang2 di sekitar dinding goa yang tembus ke sisi kanan goa. Di luar goa, selain terdapat air terjun –airnya dingin, terdapat tebing tinggi yang bisa dipanjat, sayangnya kami tidak membawa alat.
Sore menjelang ketika kami beranjak dari Goa Susu menuju Pemandian Air Panas, pukul 15.28. Kami harus kembali lagi ke tepi danau dan belok kanan, jalan turun lalu naik lagi sampai punggungan yang berangin kencang. Punggungan bukit ini yang membuat sebagian kami malas menceburkan diri di kolam air panas itu, angin kencang akan meniup tubuh kami yang bakal merinding disko kedinginan. Banyak turis asing, juga orang lokal yang menjadikan pemandian ini sebagai tempat pengobatan, maklum kandungan mineralnya tinggi, baik untuk kesehatan. Sama seperti kolam2 Goa Susu, untuk masuk ke Pemandian ini tidak bisa asal cebur, dimulai dari kolam yang suam-suam kuku, naik ke kolam hangat, baru kolam yang lebih panas.

Menyusuri Goa Susu
Hanya turis Jepang, yang terbiasa dengan onsen di negaranya, yang berani2nya langsung cebur ke kolam panas langsung, hiiihh.. Belok kanan dari pemandian ini adalah lokasi pengambilan air. Kami mengisi perbekalan air untuk masak2 dan perjalanan besok yang kering kerontang dari sumber air.
Pukul 16.37 kami sudah duduk manis di depan tenda kami, melihat sunset. Banyak yang sudah terlelap sebelum benar2 malam, seperti Fajar, Dewa, dan Ignal. Mbak Nita membikinkan kami panekuk [pancake] dan wedang jahe untuk sarapan besok. Kebakaran masih melanda jalur Senaru, jalur yang akan kami lewati esok pagi.
Senaru, Jalur terlengkap
29 Juli 2008 pagi, pukul 10.11 kami memulai perjalanan lagi. Sebelumnya kami telah memutuskan untuk turun lewat jalur Senaru. Pagi ini, syukurlah api telah padam. Untuk turun lewat jalur Senaru dari danau, kami mesti naik lagi. Jalan naik kali ini tidak selandai jalur Sembalun. Setelah menyusur tepi danau, jalan mulai menanjak. Batu2 besar menghadang kami di Batu Ceper. Berikutnya, tebing2 besar menghajar. Di beberapa tanjakan, kami harus scrambling. Jalur Senaru ini bisa dibilang adalah favorit para Rock Climber. Di beberapa tempat sudah dipasang jembatan [pegangan] untuk membantu pendaki, kata Godwin tahun lalu belum ada.

Sisi danau yang terpisah Gn. Baru Jari baru terlihat setelah mendaki Jalur Senaru
Lewat jalur ini memang banyak menguras energi, bila lelah melanda silakan berbalik, terlihat danau yang berganti2 warna, kadang biru, kadang hijau, kadang bening atau pekat, bila sore warnanya memerah indah sekali. Dari atas sini juga tampak danau secara keseluruhan, juga kepundan [kaldera] Gunung Baru Jari. Puncak dari pendakian tebing ini, sangat terjal seperti tanjakan setan-nya Gunung Salak, adalah gerbang menuju Puncak [Plawangan] Senaru 2.641 mdpl. Kami sampai puncak pukul 13.37. Dari puncak belok kiri, ada jalur menuju Senthong, sedangkan kami mengambil jalan kanan. Puncak Senaru masih juga gersang, hanya disini lebih banyak batu2 datar.
Debu mengepul dengan jalan berupa kerikil kecil2, yang mengingatkan pada jalur menuju puncak Rinjani, hingga Pos 4 Cemara Lima 2.508 mdpl pukul 14.13. Petunjuk jalan memberi tahu bahwa perjalanan ke Pos berikutnya 1.3 km. Kami mulai khawatir karena persediaan air menipis. Sampai disini, bila Nes menyebut kata ganti ‘kami’ itu berarti tujuh orang: Ignal, Nes, Godwin, Mbak Nita, Madura, Ari, dan Dewa. Sisanya rupanya tertinggal lumayan jauh dari kami. Kena jatuh di tepian danau tadi dan sedang beristirahat di Batu Ceper. Mereka sampai di pos ini kira2 pukul 15.00 dan memutuskan untuk masak dan makan siang dulu. Sedangkan kami hanya istirahat minum dan terus jalan.
Pukul 14.54, dengan sedikit tergesa kami sampai ke Pos 3 Mondokan Malokak 2.000 mdpl. Dari pos ini, suasana gersang padang sabana langsung lenyap, digantikan hutan rimbun yang sejuk ala jalur Gunung Gede-Pangrango.

Godwin, jembatan bantu dan papan informasi
Ngomong2, Nes sangat terkesan dengan pos-pos di jalur ini karena sangat bersih, tempat sampahnya banyak, pos berupa gubug beratap seng juga tertata rapi. Satu pos bisa lebih dari satu gubug. Petunjuk jalan juga lengkap, seperti di jalanan kota besar saja. Petunjuk jalan berisi info tentang jarak tempuh antar pos, ketinggian dalam mdpl, info tentang vegetasi hutan, peringatan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian hutan lindung Taman Nasional Gunung Rinjani [TNGR], dsb. Salut untuk jaga wana yang telah bersikap profesional, karena belum pernah Nes mendaki di gunung yang informatif, rapi, bersih, seperti di Rinjani. Jalur Sembalun bagus dan bersih, tapi jauh lebih bagus, terawat, bersih, dan informatif jalur Senaru. Pantas banyak turis asing naik dan turun lewat jalur ini.
Pos 2 Montong Satas 1.500 mdpl 2,5 km kami tempuh tepat satu jam, pukul 15.54 kami sampai. Vegetasi di jalur ini semakin beragam, pohon kayu ada Durenan, Niar, Prabu, Klak, Keke, dsb… Perdu paling banyak adalah tumbuhan paku-pakuan. Antara Pos 2 dan Pos 1 ada pos bayangan karena jaraknya yang jauh. Pukul 17.16 kami sampai Pos 1 Jbag Gawah 915 mdpl. Langkah kami semakin ringan meninggalkan gunung yang sudah lima hari kami daki ini. Tak sampai setengah jam, 17.44 kami finish di Gerbang Plawangan Senaru. Bila kami banyak mengeluh karena jalur Sembalun begitu gersang dan panas, kami mendapat gantinya di jalur Senaru yang lengkap ini; melewati sungai, tepi danau, batu2an, tebing, jalan kerikil, padang sabana, lalu hutan lebat. Dari panas, berkabut, dingin, terang, hingga gelap. Ari, Madura, Mbak Nita sempat membeli minuman bersoda sebagai minuman Eureka, Dewa minum air pengganti ion, Godwin dan Nes memilih susu.

Eureka, Nes!!
Terpisah
Kami sempat ingin menunggu teman2, tapi karena hampir senja, kami memutuskan untuk menunggu mereka di basecamp saja. Perjalanan ke basecamp jauh, hingga pukul 19.36, sekitar 2,5 jam berjalan, kami baru sampai. Basecamp kami berupa warung yang pemiliknya mengijinkan kami untuk bermalam disana. Kami makan dengan lahap, lalu bersih2 dan mandi dengan sabun.
Dua jam kemudian, kami dikejutkan dengan sms dari mas Ivan yang mengabarkan sisa rombongan terpaksa bermalam di Pos 2 karena lelah baik mental maupun fisik, ditambah gelap tanpa senter yang memadai. Kami sungguh khawatir karena semua tenda terbawa kami, belum makanan dan air yang mulai menipis, ditambah dingin yang menusuk. Belakangan Kena cerita, mereka tidur di gubug Pos 2 dengan matras disusun tegak sebagai barikade terhadap angin, saling merapat dengan kantong tidur, dan makan buah2an: apel, pear –yang sedianya akan dimakan sebagai makanan Eureka, merayakan turun puncak Rinjani. Maria dan Soni tetap berjalan ke basecamp karena didukung senter, dan tiba sekitar pukul 00.00. Untuk pertama kalinya dalam lima hari perjalanan ini kami tidur terpisah dan gelisah.
Esoknya, Soni dan Fajar membawa makanan dan minuman hangat kembali menuju Pos 2. Ketika rombongan kedua sampai basecamp siangnya, mereka tak akan menjumpai Nes, Godwin, dan Ignal yang pamit untuk melanjutkan petualangan selanjutnya di salah satu pulau eksotis Lombok, Gili Trawangan.
Bapak n ibu udh tw lho qm ke situ…(lhaiz ke!!)
^^!