Ketika Godwin bilang “Hari ini kita nginap di Gili Trawangan,” kami –yang terdiri dari Nes dan Ignal- langsung mengeluh dan memprotes. Maklum, sudah lima hari kami kemping di gunung, sudah bosan kami membongkar carrier, memasang tenda, melepas tenda, packing carrier lagi, jalan lagi…
Maunya hari ini ya leha2 di pantai trus malamnya tidur di kasur yang empuk di Mataram…
“Gak akan cukup waktunya, perahu hanya datang dua kali sehari,” lanjut Godwin.
Sebenarnya rencana langsungan dari Rinjani ke Gili Trawangan adalah rencana kelompok, tapi karena ada insiden
Dari Senaru kami naik angkot dua jam menuju pantai utara Lombok Barat. Walaupun menyeberang dari utara Lombok Barat, Bangsal Pemenang, ke Gili Trawangan tak lebih dari 45 menit, kami menunggu hampir 1,5 jam sampai perahu tradisional bermesin itu mencapai kuota minimal 20 orang. Perahu itu dimuati juga barang2 seperti kasur, sepeda, telur, makanan, dsb. Tarif perahu Koperasi Jasa Angkutan Wisata Bahari itu per orang sekali jalan Rp. 10.000, bisa juga dicarter. Perahu ini akan membawa kami melintasi dua gili [pulau] lain, Gili Air dan Gili Meno. Kedua gili itu juga resor dan tempat wisata, hanya saja Trawangan memiliki sarana yang paling lengkap dan beragam antara lain; scuba diving, snorkeling, kano kayak, dan berselancar.
Perahu yang meluncur memercikkan air laut ke muka kami, beberapa saat kemudian di wajah kami sudah ada serbuk2 kecil putih halus dan berasa asin, yaa kami telah membuat garam di muka kami, hehe.. Air lautan Lombok ini sungguh asin, paling asin yang pernah Nes tahu, tak heran kering sedikit langsung jadi garam.
Sudah lewat siang ketika kami sampai sana dan langsung jalan-jalan ke bibir pantai dengan masih mengenakan carrier. Bukannya dianggap aneh, rata2 orang bule disana malah ramah pada kami. Belakangan baru kami tahu bahwa rata2 bule yang berkunjung kesini adalah backpackers. Ya, mereka juga membawa2 carrier segede gaban seperti kami, mungkin kami dikira [atau memang] backpackers juga. Sepanjang pengamatan awal kami, kecuali pekerja hotel, resor, dan nelayan, tak ada turis lokal kecuali kami bertiga. Kami jadi merasa asing di negara sendiri. Benarkah ini di Indonesia? Siapakah yang turis asing, kami atau mereka? Hehe…
Snorkeling
Sepanjang mata memandang, tampak penginapan2 dari cottage, vila, sampai bungalo dari yang murah seharga Rp. 60 ribuan sampai yang bertarif dollar; resto masakan khas Indonesia, Cina, Eropa yang memampang menu berbahasa Inggris di depannya; tak ada kendaraan bermotor di pulau2 ini, sesuai dengan kebijakan adat setempat, sebagai gantinya sepeda dan kereta kuda/andong/dokar, yang di seantero Mataram punya panggilan imut, Cidomo. Sepeda disewakan per jam, sedangkan naik Cidomo keliling pulau dikenai tarif Rp 10 ribu per orang. Unik melihat para bule naik sepeda onthel, atau mini khas Indonesia. Jangan salah, sepeda model jadul itu justru yang paling laku disini. Dasar banci sepeda, Nes memohon2 Godwin untuk disewakan barang satu jam saja, maklum tak ada lagi duit di dompet, tapi Godwin tak mengijinkan. “Buat apa naik sepeda, udah mahal, capek lagi genjotnya, kita nanti naik Cidomo aja..,” tandasnya tegas.
Gagal merayu, Nes beralih ke deretan peralatan snorkeling yang juga disewakan. Sepasang fin dan goggle disewakan Rp. 15 ribu saja, harga untuk turis lokal. Lalu untuk pertama kalinya Nes mencoba ber-snorkeling. Susah ternyata harus bernafas lewat mulut, belum berenang, berkali2 dibawa mundur lagi oleh ombak yang besar. Pantai yang surut sampai karang menonjol2 di tepiannya berkali2 membeset kulit yang sudah luka2 ini. Tapi semuanya tak sebanding dengan pemandangan di bawah sana, indah!! Terumbu karang bentuk jamur, dengan ikan2 kecil, ubur2 menyelinap keluar masuk ruang2 karang. Katanya sih lebih indah agak ke tengah laut sana, dengan scuba diving. Angin yang menderu membuat sebagian turis berselancar. Kano kayak dengan satu atau dua pengayuh juga disewakan. Sebagian lain memilih berjemur, voli, bersepeda, atau melakukan atraksi pantai.
Capek, kami memutuskan untuk mencari penginapan. Di tengah pencarian, kami menemukan mesjid. Aha, berpikir untuk irit, kami lantas memutuskan akan menginap di masjid saja nanti malam. Kami lantas mandi, shalat dan menitip tas pada penjaga masjid, lalu pamit untuk mengelilingi pulau.
Rumah adat = dollar..
Banyak Cidomo juga sepeda lewat, tapi kami memutuskan akan jalan kaki barang beberapa langkah dulu sambil mengambil foto. Saat itu senja mulai tenggelam, objek yang sayang dilewatkan. Hari semakin malam, penginapan2 mulai menyalakan lilin2 dan lampu2 temaram, sedang kami terus menyisir pantai ke arah barat. Kami melihat penginapan dan hotel mewah, sampai rumah2 adat serupa honai, gadang, panggung bahkan joglo mini. “Nah, itu –sambil menunjuk gubug2 rumah khas Indonesia- yang bertarif dollar,” kata Godwin. Nes pun tak sanggup menahan tawa terpingkal2, ternyata bukan hotel berdinding tembok, dengan kolam renang dan fasilitas mewah, yang begitu mahal, tapi rumah2 jaman primitif dulu, hehe…
Kami pun terus berjalan, sampai ke tepi hutan. Yang kami tak tahu, kami telah melewatkan Cidomo terakhir, yang artinya kami harus jalan kaki mengelilingi pulau untuk sampai tempat kembali. Ya sudahlah, kami pikir tak terlalu jauh, apalagi Godwin bilang “habis hutan inilah ada perkampungan lagi.” Kata2 yang jauh dari kenyataan, nyatanya tiga jam lebih kami jalan dalam gelap gulita. Maghrib sudah lewat, dan penerangan satu2nya kami adalah senter kecil pantat korek [mancis] yang Nes beli di KRL ekonomi Jakarta-Rangkas Bitung dalam perjalanan ke pedalaman Badui seharga seribu rupiah! Ya iyalah, keliling pulau terbesar diantara pulau2 kecil di gugusan Mataram ini adalah 7,3 km!
Gara2 itulah kami jadi tahu kehidupan malam di Gili Trawangan ini. Banyak pesta digelar sampai pagi, komunitas backpackers yang menggerombol di cafe2, turis2 borju yang belanja barang kerajinan dan pijat refleksi. Tampak juga penjual/persewaan buku/novel, warnet dan wartel. Deretan resto seafood yang menjual lobster besar, kepiting, ikan segar dengan ukuran jumbo untuk dibakar, mengundang selera. Pastinya kami tak berani lebih dari melirik, karena harganya hohoho… Seperti halnya penginapan, tempat makan juga melimpah. Karena banyak backpacker, Nes menduga bahwa pasti banyaklah tempat2 makan berharga miring, dan ternyata benar. Kami makan besar malam itu; salad tomat keju, Ayam Betutu, Cumi asam manis, Ayam bumbu Bali, jus nanas, kopi Lombok latte, jus tomat, air mineral semuanya dalam porsi bule alias banyak banget dengan harga Rp. 50 ribuan per orang. Lumayan murah untuk tempat makan sekaliber itu.
Kami kembali ke basecamp alias masjid untuk istirahat malam itu. Penjaga masjid tampak tidur di sebelah carrier kami, tak terbangun ketika kami berisik mengambil kantong tidur. Godwin, Ignal memilih tidur di serambi kiri masjid, sedang Nes masuk di dalam masjid gelap gulita, tempat shalat putri yang dihijab dengan kain. Nes hampir terlelap ketika beberapa orang tiba2 masuk masjid. Mereka berbahasa Sasak dan dari pakaiannya sepertinya nelayan. Tiba2 saja ada seorang yang masuk di tempat putri itu dan bertanya –menghardik- dalam bahasa Sasak, membuat Nes telonjak dan berkata “Maaf, Pak. Saya numpang tidur disini.” Hening berapa saat. Sadar kalau perempuan, ia langsung pergi dan mengucap kata2 dalam bahasa Sasak yang kedengarannya seperti ‘permisi’. Agak terjadi keributan malam itu, penjaga masjid terdengar memberikan penjelasan kepada para nelayan, kemudian hening lagi. Tapi peristiwa itu -tambah bunyi dengkur- terlanjur membuat Nes tak bisa tidur sampai subuh.
Keliling Kota Mataram
Kami kembali ke Maratam dengan perahu paling pagi jam 7. Ada Cidomo, angkot, ojeg, carter mobil dan taksi untuk ke Mataram. Kami memilih yang terakhir. Di jalan, kami sempat mampir untuk memotret Pantai Senggigi yang terkenal itu, sayang tak cukup waktu -dan tenaga- untuk mampir.
Selain Senggigi, pantai terkenal disini alah Pantai Kuta Lombok. Kata orang2 termasuk Yusril Ihza Mahendra , pantai ini lebih bersih dan indah daripada saudara kembarnya Pantai Kuta Bali. Kabarnya pantai ini setiap tahunnya digunakan sebagai tempat upacara Bau Nyale Suku Sasak ~Wikipedia.
Selama di Mataram ini, Nes menumpang di rumah Mbak Ratna 680/SPA/2002 daerah Pagesangan Indah. Mbak Ratna dan Godwin inilah yang jadi pemandu Nes touring keliling Mataram. Mbak Ratna mengajak ke Pasar Karang Sukun, semacam Pasar Klewer di Solo yang menjual baju sisa impor atau baju 2nd layak pakai, bila jeli bisa mendapat barang bermerek yang masih berbandrol dengan harga super miring, terutama jaket bulu angsa. Daerah bernama Udayana, adalah lokasi nongkrong anak muda, warung2 lesehan -beserta pengamen jalanan bersuara merdu- seperti di Malioboro berjajar, dengan menu khas Sate Bulayak.
Pasar Kebon Roek di daerah Ampenan menjual ikan dan sayur mayur segar, tempat kami membeli sebagian besar konsumsi ke Rinjani. Daerah di belakang Mataram Mall adalah lokasi membeli kerajinan khas, kaos2, dan oleh2 dari Mataram. Mau yang lebih lengkap, ada di daerah Cakranegara. Ignal yang menyesal tidak beli badge bordir Rinjani di pos terakhir Senaru untuk dipasang di jaketnya, mendapatkannya disini.
Nes makan Ayam Taliwang yang super pedas itu pas reunian bareng2 sama kelompok naik Rinjani, sambil tukar cerita dan foto2. Mbak Ratna membelikan Pelecing, sejenis Pecel Jawa tapi bumbunya beda, pedasnya minta maaf… Nes cuman makan sesuap, maaf Mbak, habisnya…
Kena dkk yang tak ke Gili Trawangan jalan2 ke Mutiara Lombok, toko mutiara air tawar dan air laut di desa Sekarbela. Sabtu 2 Agustus 2008 sebelum subuh, dengan diantar Mbak Ratna, Nes harus bertolak ke Bandara Selaparang untuk pulang. Tenang aja Mbak Ratna, Nes pergi untuk kembali suatu hari nanti, hohoho… [Mbak Ratna: “oh tidak, jangan lagi Nes, cukup, ini adalah mimpi buruk...”].
Bahkan perjalanan hidup pun perlu berakhir, berhenti, kemudian lepas landas lagi suatu hari nanti, untuk bisa disebut perjalanan.
~
Dalam perjalanan ini Nes ucapkan maaf dan terima kasih pada
Ibu, bapak. Maaf. Semoga tahu dilema ini, kalau ijin terus terang pasti gak boleh, tak ijin sama sekali juga tak mungkin. –FYI: Nes ijin naik gunung, tapi tak bilang kalau Gunung Rinjani, Mataram-
Risa, Ifa. [Lihat komen postingan terakhir] Haih, aq jadi takut pulang nih…
Ren Refli Grandong-821 atas alat2 pendakian sebelum dan sesudah Rinjani, kita kesana kapan2…
Mbak Ratna-680 dan Mbak Ating atas tumpangan rumah, masakan yang lezat, mesin cuci, keramahan, lelucon, touring keliling Mataram…
Godwin BPM Lumbanbatu dan Saputra Ignal buat akomodasinya selama perjalanan, oleh2, obrolan2, tour guide…
Teman2 selama pendakian yang 16 orang itu, kelompok STAN dan Mbak Nisa-640
Barang2 survival kit yang tak pernah lepas dari tubuh: sebotol kecil air minum, gelas, sendok, korek api+senter, pisau, gunting, headlamp, plester luka dan betadine, CTM *obat alergi*, dan cokelat kecil2 pengganjal rasa lapar, baterai2 cadangan. Barang2 kecil, tapi sangat ampuh ni, sangat direkomendasikan!!



Nes beralih ke deretan peralatan snorkeling yang juga disewakan. Sepasang fin dan goggle disewakan Rp. 15 ribu saja, harga untuk turis lokal. Lalu untuk pertama kalinya Nes mencoba ber-snorkeling. Susah ternyata harus bernafas lewat mulut, belum berenang, berkali2 dibawa mundur lagi oleh ombak yang besar. Pantai yang surut sampai karang menonjol2 di tepiannya berkali2 membeset kulit yang sudah luka2 ini. Tapi semuanya tak sebanding dengan pemandangan di bawah sana, indah!! Terumbu karang bentuk jamur, dengan ikan2 kecil, ubur2 menyelinap keluar masuk ruang2 karang. Katanya sih lebih indah agak ke tengah laut sana, dengan scuba diving.
————————–
hikz,,hikz..
suatu hal yang SANGAT INGIN ku lakukan..
SNORKELING dan SCUBA DIVING..
klo ketemu, ku bunuh kau nez, krn telah merebut impianku.. (lhoh, kok jd psikopat gini ya,^_^)
hehehe
gerie813
terlanjur membuat Nes tak bisa tidur sampai subuh.
tumben..??
(“,)??
Udah..gpp kok..
Jangan takut pulang kerumah..
Eh, ni blog pribadi ku..
Kasih di link-mu yah!!
mba, next trip aku titip tiket satu yah..walo amatiran tapi kalo travelling hayuk aja..
-padahal rinjani mu kemarin pas aku off lo mba- ngga ngajak2 ik..
oya ada pengakuan dosa nih: begini nih, dua minggu yang lalu (lupa kapannya) pak pur dan bu bekti a.k.a sebeh semeh mu mba, tilik rumah baruku di yang di gunungpati (oya sekarang aku uda pindah lo). La pas itu makku bilang “estin tu naik rinjani lo mba”. Nah lo kok tau, kikuk kikuk aku juga bingung mba, itu makku tau darimana.. ternyata makku itu juga ngliat blog mu mba..
la terus pak pur bingung to yo, “lo kok ngga ngomong?” “wah ada yang ngga beres nih, estin bilangnya cuma mau naik gunung tapi ga bilang naik gunung apa”.
hehe aku ngga ikut ikutan lo mba…
pesen aja, kalo ada yang asik asik ajak ajak dong..
jangankan taun depan, abis lebaran juga hayukk, eh tp lumayan lah ada waktu buat ngecilin perut skalian exercise. -tak tunggu tiketnya
akhirnya bisa mengunjungimu lewat blog. ya…dunia maya…karena jarak yang ingin sekali kutempuh untuk ketemu sama kamu nes…tapi kok ya banyak pertimbangan yang membuatku harus puas hanya dengan kunjungan tanpa tatap dan sentuhan ini…semoga kamu selalu sehat dan bisa selalu berbagi…
salam buat ifa si jagoan foli ya…waktu begitu cepat berlalu…em anakku dah gede lho…kapan main ke jogja??? kota yang ga ada tantangannya sama sekali???
wah asik nih nez jalan-jalannya, aku asli orang lombok salam kenal ya
hehe.. iya nih
lombok kota yang indah
salam kenal kembali..
~Nez