12
Oct
08

mudiknya Nez

SekedarĀ  catatan buat diri sendiri yang pelupa ini, tentang perjalanan mudik tahun 1429H..

24-25 Sept 08 Untungnya walaupun ngeteng, mulai dari travel-bis-kapal-bis-taksi-angkot-busway-kereta-motor, semuanya cepat dan lancar.. Sialnya: 1. sempat mabuk di jalan gara2 masuk angin di travel *mungkin karena sahur dikit dan masih puasa*; 2. bayar travel, bis, kapal kelas Eksekutif dengan fasilitas Ekonomi; 3. terlalu cepat sampai, jadi sampai Jakarta harus nginep dulu di tempat temen. Muter2 pake taksi sambil ngasih instruksi ke supir taksi lewat hape, saking keselnya sampai si temen bilang “Huh, sopirnya bego banget sih, masa jalan segede gitu gak ketemu2. Udah balik dulu ke jalan yang tadi, cepet. Huh, bego tuh sopir, blablabla…” Yang si temen gak tau, Nes dari tadi mengaktifkan loudspeaker, maksudnya sih biar petunjuk jalan yang dikasihnya bisa didenger juga sama si sopir, tentu bukan makiannya, hehe…

26-27 Sept 08 Punya saudara yang sosialita memang agak2 merepotkan, hawanya begitu sampai rumah langsung aja minta keliling2 jalan2. Kelamaan terpencil ternyata bikin deger musik mall saja bikin pusing, tapi yah buat pinkrazy tersayang, dan juga Risa *yang akhir2 ini si sales kosmetik, ya ampyun* apa sih yang gak. Hari itu kami bener2 jalan2, bersesak2 ria, bersama pemburu2 pakaian dan benda2 lebaran di pasaraya dari pagi sampai malem selama 2 hari, bleh… Beli2? Gak! *gak banyak, maksudnya* Kami nonton Laskar Pelangi.

Mahar, kocak!

Mahar, kocak!

Nes tak akan menuliskan spoiler resensi, cuma opini. Menurut Nes, film Laskar Pelangi ini adalah benturan pertemuan antara idealisme penulis (Andrea Hirata) dengan sutradara (Riri Riza). Banyak yang tidak tertulis di novel, digambarkan di film, misalnya kenapa harus ‘mematikan’ tokoh Pak Harfan?. Banyak plot2 yang tidak realistis di novel ‘diganti’ dengan yang lebih realistis, misalnya ketika Lomba Cerdas Cermat, kita tak akan menemukan Lintang mengurai teori fisika kuantum *yang sebenarnya pelajaran untuk tingkat SMA, dan diujikan di cerdas cermat tingkat SD? Pada tahun 70an? Walaupun Andrea sih bebas2 saja berkreasi, dan barangkali itu benar adanya?*, tapi Riri Riza menggantikan ‘teori fisika’ dengan ‘persamaan matematika biasa’, dengan kelebihan bahwa si Lintang bisa menghitungnya dengan mengawang saja. Cerdas.

ikut2an anak Posko yg nempelin tiket nonton di Diary ah..

Bukannya memberi buku tentang Edensor kepada Ikal, A Ling hanya memberi kotak roti bergambar Menara Eiffel. Sangat disayangkan keputusan Riri Riza kali ini, mungkinkah Riri tak akan memfilmkan novel berikutnya *ingat Harry Potter*? Karena pemberian A Ling versi novel itu sangat bermakna bagi pencarian hidup Ikal di masa depan loh. Satu lagi, memberi kotak roti rasanya kurang ‘dalam’. Nes sendiri lebih suka dikasih buku, diberi surat, daripada kotak roti, atau berupa barang lainnya, hehe.. Tapi itu sih, subjektif sekali. Lebih subjektif lagi karena ternyata Nes menontonnya di tgl 27 dengan no kursi 7, secara Nes 817/SPA/2007 dilantik tgl 07/07/2007 gitu.. Akting pemain ‘comotan’ dari Belitong terbaik pantas disandang pemeran Mahar, asli, alami dan kocak banget! Lepas dari situ, baik novel dan film-nya sama2 memberi makna dalam bagi pembaca dan penontonnya. Indonesia boleh bangga punya Andrea Hira dan Riri Riza-Mira Lesmana. Salut!

28-29 Sept 08 Dengan alasan gak penting ‘batik lagi ngetren’, RHYers memilih Pekalongan sebagai tempat reuni. Reuni kali ini tidak berlokasi di pantai *seperti tahun2 lalu*, kami cuma jalan, ngobrol, makan. Tak lupa memberi selamat bagi lahirnya ponakan baru dari Erda dan Miko, Erlang. Makin tahun, makin sedikit saja yang ikutan reuni, kali ini malah cuma berlima *dari 13*: Nes, Topik, Imron, Erda, Miko. Imron sekalian mengumumkan pernikahannya. Wah, jauh2 merantau sampai Kendari, dapetnya tetangga deket rumah, yaah namanya juga jodoh *sambil lirik tetangga2 kanan kiri, sapa tau…*, hehe.. Selamat!

Erlang, Topik dan kado dari RHYers, dan kadonya *bagus, kan..*

Erlang, Topik dan kado dari RHYers, dan kadonya *bagus, kan..*

30 Sept – 1 Okt 08 Pemalang. Met Hari Raya Idul Fitri 1429 H, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya, amin. Hari H ini selain ritual ’sejarah’ *kunjung2 dari rumah ke rumah*, juga waktunya reuni dengan saudara2, jauh dekat, dan saling kabar. Pemalang adalah tempat tinggal nenek dari pihak Bapak.

2-3 Okt 08 Ponorogo. Kota reog di Jawa Timur ini tempat kelahiran Ibu, juga tempat tinggal Kakung dan beberapa saudara besar keluarga Ibu. Jalur mudik kesana dai Semarang sangat ramai, kami yang sejak sebelum subuh sudah masuk mobil masih mengalami berjam-jam jalanan padat merayap bahkan macet di beberapa titik, belum ditambah panas, tapi seperti kata para pemudik lain: itulah seninya, hehe.. Maklum di Indonesia, apa-apa bisa dijadikan seni.

4-5 Okt 08 Semarang. Arus balik juga tak kalah dari arus mudik. Sekali lagi kami terjebak di tengah2 keramaian hajatan besar negara Indonesia di bulan Ramadhan-Syawal, yang sering disebut lebaran ini. Entah benar atau tidak, dalam bahasa Jawa, ‘lebar’ (‘e’ dibaca seperti kata ’sekolah’) artinya ’sudah’, jadi ‘lebaran ‘ berarti ’sudahan’, makanya kalau dalam satu tahun Hijriyah ada yang ‘marahan’ kalau habis Ramadhan maaf2an ya ’sudahan’ (marahnya) *analisis orang awam*, hehe.. Di Semarang, Nes mencoba mengontak beberapa teman, antara lain teman pas TK dulu, temen SMA, dsb. Maklum kebanyakan nomor hp sudah hilang bersama dengan hilangnya hp waktu itu. Hikmahnya, bersamaan dengan ‘banjir’ sms lebaran kali ini, Nes jadi punya lagi beberapa nomor2 penting yang sempat ikut hilang. Terima kasih Ramadhan dan tradisi saling sambung silaturahmi yang menyertainya..

6-7 Okt 08 Jakarta. Posko STAPALA G-112 adalah tujuan tidak terencana Nes kali ini. Hanya segelintir makhluk yang ada di posko, itupun tidur semua *dasar gak sopan kalian*. Perjalanan aman, lancar, walau harga tiket Ranau yang ke Liwa harganya naik >100%, gila!


2 Responses to “mudiknya Nez”


  1. October 16, 2008 at 10:22 pm

    Kotak roti itu kalau ga salah belum dibuka, Nez.
    Kayaknya di dalamnya, ada buku permberian A Ling.

    Setuju, itu Mahar kocak banged, he2. Cuma sayang, Syahdan sama Trapani kayak pemeran figuran saja. Nyaris nggak ada dialognya.

    Udah dibuka kok, isinya surat2 dari Ikal, yang isinya puisi2 itu
    digulung diiket pake pita merah
    kan puisinya dikembaliin krn udah disalin
    gak ada *atau nyebut2* ttg bukunya *judulnya lupa*~Nez

  2. 2 pinkrazy
    November 14, 2008 at 4:11 pm

    yee..
    heart mind and seoul..
    lucu jg..^^!

    btw, ajarin click per pay lagi dunk..
    q pengen bgt niy..
    tulisin step by stepx yah..
    lewat imel..
    t’tunggu..


Leave a Reply