“Ia karam, maka tinggallah kini
kesombongannya..”

Kedua kalinya. Ini (14/2) adalah kedua kali Nes menginjakkan kaki di Biha, pantai paling barat Lampung Barat. Bila sebelumnya hanya sepintas lalu, kini ada pemandangan yang berbeda disana. Kapal pengangkut barang ‘Full King’ yang labuh dari Padang ke Bengkulu di tengah perjalanannya mati mesin, terombang ambing, dihempas ombak, pecah karam di pantai barat Lampung ini. Kapal itu sungguh masih gagah, muatannya diburai, diletakkan di tepi pantai, dan dijaga oleh satuan ranger. Jangkar telah dipancang pada pohon kelapa, agar tak lagi dihempas ombak. Karung-karung pasir disumpalkan ke sekeliling dasarnya. Awak kapal telah dievakuasi.
Sudah lebih dua bulan, terbiar begitu saja. Kapal itu pernah labuh lalu karam, tapi lebih baik begitu, daripada tak pernah sama sekali kan.. Lebih baik pernah mencintai lalu ditinggalkan, daripada tak pernah mencintai sama sekali kan, bisiknya..
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Bali disana, pura hindu tepi pantai, tempat ibadah yang tampaknya sudah lama ditinggalkan jamaahnya, sepi dan kumuh, entah kenapa.. Gapura di depan rumah-rumah masih berdiri, dan sapi-sapi yang dibiarkan lalu lalang di jalanan menandakan masyarakat pemeluk hindu disana. Tak heran suasana disana tampak sangat Bali.

Setelah mengisi perut di warung seadanya kami lanjut masuk ke jalan offroad sekitar setengah jam dari jalan utama. Disana kami melihat ‘peradaban’. Sebuah landasan pesawat telah dibangun lurus membentang. Di belakangnya ada kantor berlantai satu seadanya. Masih belum jelas apakah bandara ini akan mengakomodasi penerbangan komersil atau sekedar perintis, hanya saja senang rasanya melihat sesuatu yang berbau ‘kota’ disini. Tentu saja besar harapan kami terhadap yang pertama, perjalanan pulang kampung yang lebih 24 jam jalan darat bisa ditempuh sejam saja, semoga saja, amin.
Perjalanan terakhir adalah pantai karang yang tersembunyi di balik bukit. Kami harus mendaki sebentar untuk sampai ke tempat ini. Suasananya tenang, asik untuk memancing, dan mengasingkan diri kalau masih bisa lebih terasing lagi, he.. Dalam jarak horizon, gugus pulau-pulau kecil mengundang kami untuk datang, enatah kapan.
Hari beranjak sore, kami melepas perjalanan ringkas ini untuk kembali. Kembali meninggalkan jejak, dan menyimpan ingatan dalam saku-saku kenangan. Tak ada perjalanan yang tak menggetarkan hati..

foto di bawah yang motoin sapa, nez?
self timer?
kapalnya serem gara2 kapal itu banyak orang berjualan makanan di pantai itu!
oh ya? baru tau.. makasih buat infonya..
~Nez