27
Mar
09

Situ Gintung dan Kenangan yang Hilang

latihan dayung di Situ Gintung 18/02/2007

latihan dayung di Situ Gintung 18/02/2007

18/02/2007

Pagi-pagi sekali kami, dengan penuh semangat, sudah kumpul di depan dinding panjat. Setelah melakukan peregangan, lari keliling kampus dua putaran, dan beberapa seri penguatan, kami bergegas menaikkan Sekoneng [nama perahu karet STAPALA] ke atas angkot yang telah dicarter, lalu memasukkan sejumlah dayung, pelampung, helm, pompa perahu, dan peralatan arung jeram lainnya. Tak lupa tenda, fly sheet, tikar, kompor, gas, dan bahan makanan bekal kemping. Ya, hari ini kami akan berlatih salah satu olahraga khas pecinta alam yaitu ORAD [Olahraga Arus Deras] atau yang lebih dikenal luas dengan nama Arung Jeram. Situ Gintung di Ciputat selalu menjadi pilihan tempat berlatih karena letaknya yang dekat kampus STAN [Bintaro, Tangerang]. Situ [danau] yang arusnya tenang akan menjadi area pengenalan kami sebelum nantinya terjun ke sungai.

Untuk masuk ke arena wisata Situ Gintung dikenakan biaya per kepala Rp. 5.000,- sedangkan angkot kena biaya sendiri bila masuk gerbang Situ. Dasar anak kampus yang koceknya minim, kami yang berjumlah sekitar 20 orang ini hanya mencarter satu angkot untuk membawa barang2 dan sekitar 5 orang untuk mengangkut perahu dan barang2 ke dekat Situ. Sebagai informasi, letak gerbang dengan tepi Situ yang akan kami buat tempat kemping lumayan jauh, sekitar 1 km. Nah, sementara itu sisanya yang 15-an orang naik angkot lain sampai ke dekat pemukiman warga, dimana angkot carter-an sebelumnya telah menurunkan pelampung, dayung dan helm dan masuk lewat gerbang depan. Kami yang ber-15 harus berenang sejauh kira2 200m dari jalan kecil dekat pemukiman warga menyeberang ke sisi Situ yang berbayar itu, walah walah..

ayo... renang teruuss, hosh hosh..

ayo... renang teruuss, hosh hosh..

Jauhnya jarak dari satu sisi ke sisi lain membuat kami sering ‘beristirahat’ di tengah2 danau sambil mengobrol dan mengambil napas, hehe.. secara kami memakai pelampung, jadi aman. Lagipula kedalaman danau bisa mencapai lebih 10 m, sehingga pemakaian helm, pelampung dan dayung, selain sebagai sarana latihan juga berfungsi sebagai prosedur keamanan [safety procedure]. Beberapa kawan yang kepayahan ‘dibantu’ dengan cara memegang tali di sisi-sisi perahu karet yang menyusul ke tengah. Naik ke perahu? Enak saja, kami kan sedang dilatih dalam rangka diklat STAPALA 2007. Malah sialnya, beberapa meter sebelum finish, si KoBo [salah satu pelatih ORAD kami] melajukan perahu tepat dibelakang kepala Nes. Perahu karet itupun menenggelamkan Nes, yang panik dan menyelam sambil berenang ke sisi kiri agar lepas dari himpitan perahu. Dasar KoBo, huh! Jadi kangen ngarung sama lu, Bo…

Setelah istirahat di tepi beberapa saat, kami disuruh berenang lagi ke tengah. Di tengah Situ kami berlatih renang jeram [renang dengan posisi badan depan diatas, searah dengan arah arus sungai], cara SAR menolong korban yang jatuh ketika arung jeram, cara naik perahu karet dari posisi di atas air [sulit karena tanpa pijakan kaki, menggunakan daya tekan air, dan harus pull-up] dan cara menolong orang naik perahu [angkat bahu pelampung, bukan tangan/badan orangnya]. Selain itu kami juga ‘dilatih’ dijatuhkan dari perahu secara mendadak, dan sesegera mungkin membalikkan kembali perahu yang terbalik [flip flop]. Dalam salah satu sesi latihan flip flop ini kami menghilangkan satu dayung merk Boogie. Dayung itu pinjaman dari Arkadia [Pecinta Alam UIN] lagi, haduh… Walau beberapa orang penyelam telah dikerahkan sampai dasar perahu, tetap tak ketemu. Kami pun pucat pasi, bukan apa2, tapi demi mengirit ongkos masuk tadi kami telah berenang sejauh 200 m, sekarang masih harus patungan buat beli dayung baru, dasar nasib…

Tak terasa siang hampir usai, kami pun menepi. Tikar telah digelar, dan kami yang kedinginan, mulai menyalakan kompor dan memasak. Bekicot2 yang bertebaran di keliling Situ bernasib naas hari itu, karena kami menangkapi beberapa dan melempar mereka dalam bara. Lumayan untuk lauk teman nasi yang baru matang, hmm… Kami pun bergiliran masak, makan, dan shalat. Lepas asar, kami mulai latihan dayung sesi kedua. Kami memakai lagi perlengkapan, lalu berenang mengejar perahu karet yang sudah terlebih dulu ke tengah, dan berlatih beragam cara mendayung; dayung kanan, dayung kiri, dayung samping, pancung, manuver, dan yang paling penting dayung skipper. Skipper adalah pengendali arah perahu. Tidak seperti sopir alat transportasi lain yang sopirnya berada di depan, skipper arung jeram berada di posisi paling belakang. Ia tidak mendayung, tapi mengendalikan perahu ke kanan atau kiri, sekaligus pemberi aba-aba awak pengarung lain untuk melakukan dayung maju, dayung mundur, atau berhenti, atau menunduk [bum] menghindari akar/ranting yang biasanya menjulur di sisi-sisi sungai. Seperti kegiatan2 lain dalam olahraga pecinta alam, belajar arung jeram kali ini sangat asyik. Berkali-kali kami jatuh, salah, gugup dan berganjar digetok dayung di helm kepala kami oleh pelatih. Kami tertawa dan ditertawakan, jatuh lalu naik lagi, bergiliran jadi korban lalu jadi penolong, semuanya indah. Tak ada yang lebih berharga dari pengalaman, ia adalah guru terbaik.

100_53872

Magrib menjelang dibarengi hujan, kami segera menepi untuk bergiliran masak dan shalat. Kami juga mendirikan tenda dan memasang fly-sheet. Kami duduk melingkari makanan kombinasi campur aduk mie dengan nasi, tempe, kerupuk, dan bekicot, dengan sayur sop yang dituang begitu saja diatas yang lain. Lalu kami pun khusyuk di satu2nya kegiatan yang sanggup membuat kami terdiam bersama-sama, makan. Merdu, merdu sekali. Tak ada yang lebih merdu dari suara kebersamaan, diiringi nyanyian alam tepi Situ Gintung, ditingkahi jeritan kodok dan dengungan nyamuk. Nyamuk?! Ah sial, kami akan kesulitan tidur malam ini. Para puan tidur di tenda, yang lain bertebaran di tikar di bawah fly-sheet dan saung-saung tepi Situ. Tentu saja dengan kemping akan lebih menghemat daripada besoknya kami harus datang lagi dan bayar transport dan tiket masuk, hehe..

Esoknya kami bangun pagi-pagi, usai subuh kami langsung pemanasan. Peregangan, joging, penguatan, lalu berendam dan menyelam.  Setelah memakai perlengkapan kami berenang ke tengah dan naik perahu. Kami mengulangi lagi latihan kemarin, kali ini lebih serius dan lebih fokus kepada teknik pengarungan. Vijay dan Komeng, para ORAD-ers senior kami, mengingatkan bahwa latihan ini sangat berguna untuk keselamatan diri. Melakukan olahraga pecinta alam tidak seperti dugaan orang yang penuh bahaya, karena kami telah dilengkapi dengan peralatan dan dilatih dengan sungguh-sungguh. Olahraga ini berbahaya hanya untuk orang-orang yang tidak lengkap dan tidak terlatih. Kami pun jadi tambah semangat.

Sayang siang hari cuaca tidak bersahabat, hujan dan petir menyambar, Sekoneng tiba2 menghilang di balik kabut. Sementara kami yang berlatih sedang berada di tengah2 danau. Kami pun cepat2 mengarahkan Sekoneng ke tepi, lalu menjinjingnya [rigging] ke daratan. Tak mudah menggambarkan horor yang mencekam kala itu, tapi yang jelas pengalaman ini tetap indah untuk dikenang, walau tidak indah untuk diulang, hehe…

Lengkap sudah latihan kami hari itu, kami pun siap menyongsong Sungai Cisadane Atas, Sukabumi. But that’s another story.

*

27/03/2009

Kami sedih sekali melihat Situ Gintung, satu tempat kenangan kami, hancur luluh akibat jebolnya tanggul.

Pemukiman yang hancur itu, tempat kami dulu mengambil start renang demi mengemplang tiket masuk…

Di tepi danau yang luluh lantak itu, tempat kami memunguti bekicot2 dan membakarnya untuk disantap…

Di dasar danau yang surut itu, mungkin masih ada dayung kuning merek Boogie sialan pinjaman yang hilang itu…

Situ Gintung bisa hilang, tapi tidak kenangan kami, ia tetap tinggal selamanya, di kotak-kotak kenangan, di relung- relung hati kami, terus-terusan mengingatkan kami bahwa ia setidaknya pernah ada.

100_55381


6 Responses to “Situ Gintung dan Kenangan yang Hilang”


  1. 1 nestina
    March 27, 2009 at 10:01 pm

    Hah!!
    Kangen kalian semua guys!!
    Dengan memuatnya dalam blog, Nes berharap bisa membekukan kenangan…

  2. April 5, 2009 at 8:51 pm

    iya nih kasian AM – AM yang baru jadi … kalo mau portaging harus ke danau Pamulang.

    Eh anak Arka ya..
    Kalo di stapala namanya ’siswa’ bukan AM, bro..
    Salam ya buat Ijup, Leunca, dkk kapan2 lagi kita latgab bareng
    ~Nez

  3. April 12, 2009 at 1:33 pm

    wwaahh..
    i’m fill so sorry

    so do I..
    [kehilangan tempat main2 >.<;]
    ~Nez

  4. April 29, 2009 at 8:52 am

    wah, nest masih ingat detail mabim itu. kita mah sudah lupa itu.

    situ gintung memang penuh kenangan…
    eh, pengen nulis juga tentang situ gintung, he3

    tadinya cuman inget dikit
    trus dari dikit itu jadi inget yang lain2nya juga
    btw, komennya sama kaya 821, hihi
    ~Nez

  5. July 15, 2009 at 4:18 pm

    hola..salam kenal…
    anak STAPALA yah?…
    hohoho…
    situ Gintung memang memiliki berjuta kenangan…

  6. 6 nestina
    August 2, 2009 at 9:46 am

    yup STAPALA
    situ gintung sangat berkesan, kami bakal kehilangan tempat latihan dayung
    semoga jadi di-rehat
    entah gimnana kabar gintung sekarang, hmm..
    ~Nez


Leave a Reply