14
Jun
09

Sukamantri Ceria..

kesasar

Jika kami bersama Nyalakan tanda bahaya
Jika kami berpesta Hening akan terpecah

Aku dia dan mereka Memang gila memang beda
Tak perlu berpura pura Memang begini adanya

Dan kami tau anda bosan Dijejali rasa yang sama

Kami adalah kamu Muda beda dan berbahaya

~SID feat Shaggy Dog

Sabtu, 23/06/09, pukul dua. Kami setengah berlari menuju stasiun KRL Pondok Ranji. Setengahnya karena KRL ekonomi jurusan Tanah Abang yang akan membawa kami ke Bogor sebentar lagi akan lewat, setengahnya lagi karena hujan mulai deras mengguyur. Dua diantara kami bergantian membawa carrier berisi dua tenda, kompor, nesting, dan bahan makanan, sisanya membawa day pack2 gendut, isinya: makanan semua. Tentu saja, karena sore ini kami mau berangkat kemping. Kami ini: Dian Bonasari ‘Bun Bun’, Selly ‘Gerie’, Yella ‘Chang’, Adin ‘Jemblem’, Rian ‘Geplak’, Nurul ‘Uka’, Diah ‘Dii’, dan Nes. Loh kok cewek semua?? Ya dong.. Mau kemana?? Mau dong.. Loh?!!

di posko sebelum berangkat

di posko sebelum berangkat

Yah, beginilah kalo kemping cewek semua, tak ada jaim-jaimnya. Tunggu punya tunggu, ternyata KRL ekonomi lama sekali berangkat. Sudah dua jam kami menunggu, tak ada kabar KRL ini akan berangkat. Kami yang mulanya riang jadi agak panik. Ketika akhirnya diumumkan KRL Ciujung jur Tn. Abang mau lewat, kami langsung pasang badan dekat bahu rel. Eh, loh kok kereta yang muncul KRL Ekonomi AC? Tak mau kehilangan kesempatan, takut kemalaman, dan sudah bosan menunggu, kami pun langsung masuk dengan perasaan was was. Benar saja, ketika pemeriksaan karcis, kami bentrok dengan petugas. Singkat kata kami pun sampai di Tanah Abang. Menunggu jurusan Bogor ternyata tak lama, meski begitu sampai di stasiun Bogor sendiri hari sudah menjelang maghrib. Kami delapan orang berencana langsung ke tempat kemping, tapi apa daya, sopir angkot menaikkan harga tinggi [Rp. 150 ribu] dengan alasan jalan rusak. Kami menawar sampai harga 80 ribu, meski konsekuensinya harus jalan dari peternakan sapi sampai tempat kemping diatas.

Perjalanan hiking kami tempuh dengan bergelap-gelap, tiga senter untuk 8 orang –ya ya, kami memang gak safety- kurang lebih 1,5 jam. Meski berat, kami jalan tanpa beban, karena kembali ke tujuan semula yaitu ingin kemping ceria, hehe.. Satu hal yang perlu dicatat, jalan ke Sukamantri dari peternakan sapi jauh lebih parah dari terakhir kami kesana. Bila pada waktu itu angkot bisa berjalan mulus sampai pertigaan portal, sekarang jalan sudah rusak sejak peternakan sapi. Kujang Rider, gerbang dimulainya trek Wanawisata Sukamantri telah kelihatan, kami pun bersemangat. Bunbun, Di’I dan Uka langsung riuh mengenang masa-masa bersejarah mereka sebelum dilantik menjadi STAPALA setahun lalu. Dengan meraba2 jalan pintas, kami pun akhirnya sampai di tempat perkemahan lebih cepat. Segelas teh panas dari warung membakar semangat kami untuk memulai mendirikan tenda, beberapa langsung ke masjid untuk salat dan membersihkan diri. Tenda kami menghadap langsung sunrise, angin tak banyak, jadi di tempat yang terbuka itu kami tak terlalu dingin. Lokasi kemping ini telah terisi beberapa tenda, ramai, karena libur akhir

masak-makan-ngobrol

masak-makan-ngobrol

minggu. Lapangan tempat pelantikan bahkan telah di-booking oleh klub mobil offroad Land Rover.

Tenda siap, kompor pun dikeluarkan. Kami membuat spaghetti saus tuna, hmm nyam nyam.. Ngobrol tak jelas khas cewek pun tak ketinggalan. Meski alur obrolan tak jelas, tapi jelas2 lebih mengakrabkan kami. Nes sendiri baru kenal dengan Yella dan Adin karena saat mereka bergabung ke stapala Nes sudah lulus. Rian, masih dengan banyolannya yang segar, yang mencerahkan suasana. Gerie dan Uka yang sigap memilih lokasi dan mendirikan tenda, khas anak Gunung Hutan. Dii yang membuat fly sheet. Adin dan Yella merapikan barang2 di dalam tenda. Malam itu kami sepakat bahwa kami akan kemping lagi dengan cewek2 lain yang belum ikut kali ini. Haha..

pagi di Sukamantri

Bunbun sendiri paling pagi bangunnya untuk melihat sunrise dan berjalan2 di tempat mereka dulu dilantik. Sedangkan yang lain memilih foto2 dan memasak. Pagi ini kami masak spaghetti [lagi], masak nasi, sup, dan lainnya lalu makan2, ngobrol2… sampai siang, hehe.. Siangnya kami packing dan langsung menuju ke air terjun. Tak ada dari kami yang pernah ke air terjun Sukamantri sebelumnya, sewa pemandu ternyata mahal, 100rb. Maka kami pun mulai mendaki, menebak2 kira2 dimana lokasinya. Eh, benar saja kami kelewat jauh. Untung masih ada sinyal sehingga kami masih sempat minta petunjuk si Semut dari posko untuk memandu kami. Untuk sampai ke air terjun ternyata kami harus berbasah-basah melewati sungai tangga-tangga batu, berlawanan arah dengan arah arus sungai, menyusur sampai ke muaranya, pengalir air sungai, yaitu air terjun itu sendiri.

air2

di depan air terjun

Ada satu air terjun besar yang diapit dua air terjun kecil di kiri kanannya, air terjun ini tak begitu tinggi, sekitar tiga meter. Pelangi terbentuk di salah satu sisi air terjun, indah, fotogenik.

Puas, kami pun turun ke perkemahan. Sudah menjelang sore ketika kami berganti baju, makan, dan turun ke lokasi angkot. Dari angkot, kembali ke stasiun demi stasiun dan kembali ke rumah kami, posko, 24/06/09 sekitar pukul 20. Makasih buat teman2 atas kebersamaannya kali ini, yuk kapan kita kemana [lagi]?? Makasih juga buat kantor yang sudah memberi Nes diklat di Jakarta selama seminggu ke depannya.

Next: Goa Cibarno [seusai diklat]


3 Responses to “Sukamantri Ceria..”


  1. July 30, 2009 at 2:27 pm

    ke sukamantri, stapalawati semua ya, nez?
    asyiknya. dulu pas pelantikan 2008 malah ga ke sana,,,

  2. 2 nestina
    August 2, 2009 at 9:10 am

    ya gitu deh, Je..
    sengaja cewek semua, repot ternyata, haha
    oia, pas pelantikan km pas ikut bazarnas apa gitu ya..
    ~Nez

  3. August 21, 2009 at 11:43 am

    wah info nya bagus bagus nih…. salam kenal, dan di tunggu kunjungan balik nya, dan coment nya :D [my site]


Leave a Reply