29
Oct
09

Petualangan Memasak

 

Ternyata mood itu datangnya seperti cinta, tiba-tiba di suatu minggu pagi yang cerah. Buru-buru, karena takut inspirasi itu lenyap begitu saja, segera lah membuka Google dan mencari daftar resep masakan. Buang resep mie rebus, buang resep agar-agar, kita harus mulai memasak yang lebih serius! ‘Everyone Can Cook’ kata Cheff Linguini di Ratatouille.
Hari pasaran, hari dimana pasar buka, yaitu selasa dan jumat segera tiba. Mulai dari sedikit, mulai dari yang mudah, mulai dari.. sekarang!
Cari bahan lauk dulu: ayam potong setengah kilo, paru-paru sapi seperempat kilo, tempe, ikan teri, kacang, telur, mie, spaghetti. bumbu: ketumbar, kemiri, merica, lada, daun salam, bawang merah, bawang putih, bawang bombay, garam, gula pasir, serai. aneka macam cabe: cabe merah, cabe rawit, cabe hijau. tomat dan kecap. dan teman-temannya yang nanti bosan kalau disebut satu per satu.
Ayam yang setengah kilo itu dibagi empat, maksudnya untuk empat resep: pop, balado, goreng telur, dan goreng kuning. Sebaliknya tempe, ikan teri, kacang berkolaborasi jadi kering tempe pedas. Paru-paru goreng dengan sambal tomat cabe hijau. Spaghetti dibagi dua: bumbu tuna pedas, dan saus keju.
Nasi biasa? bikin sambal, buat nasi goreng.
Beras? masak nasi uduk. Nasi putih campur daun salam dan pandan, jadi nasi harum.
Sambal: lombok ijo, sambal tomat, balado dan semuanya.
“Hah, emang bisa masak cuma modal resep Mbak Google doang?” Ricky memberi lecutan ’semangat’ itu, “memasak itu seperti belajar main gitar, kalau cuma baca teori doang bisa seribu tahun lu belum tentu bisa mainnya. Lu butuh guru. Sana pergi ke tempat Mbak Menik, minta ajarin,” katanya akhirnya memberi solusi. Mbak Menik adalah pemilik resto yang kami akrabi.
Tak bergeming, lebih karena malu daripada malas, jadi mari kita coba saja. ‘Alon-alon waton kelakon. Ora ketok bloon angger ra kokean takon‘ -Pelan tapi pasti. Nggak kelihatan bodoh asal nggak banyak tanya- Errr… bedanya kemiri, ketumbar, merica, lada? Anyone??!! Ok, Mbak Google > gambar > ketik ‘kemiri’. Beres.
Kenapa ketumbar meletus kencang sekali, menampar muka saat ditekan dengan ulekan? Bah.. bahkan ketumbar pun bisa mengkhianati.
Tak berapa lama masakan pun jadi, siap buat setidaknya dimakan sendiri, err.. dan siapa pun yang mau mencoba. “Enak kok, Nes..” hmm.. pujian singkat yang mencurigakan. Maklum, kelinci percobaannya belum makan dari pagi. Semua masakan jadi dengan selamat tanpa meracuni, setidaknya. Err… maksudnya kecuali nasi uduk yang bernasib naas jadi bubur uduk karena kebanyakan santan, huff…
Sayang, sudah seminggu lebih makanan cuma numpang lewat di perut, keluar lagi lewat mulut, yaks.. jangan jijik ya bacanya, saya masih baik-baik saja, setidaknya. Tak kekurangan selera makan atau  sesuatu apapun.
kok rasanya ada yang kurang ya.. Masih seperti tak melakukan sesuatu apapun. Kosong. Tersungkur. Tak berguna. Tak berarti.
Kontemplasi. Introspeksi. Saling menyakiti. Gagal dapat beasiswa itu masih biasa, gagal jadi wanita? Apa harus ganti kelamin?!
Bagaimanapun juga..
terima kasih sepi. terima kasih India. terima kasih teror. terima kasih laki-laki yang tak tampak bayangnya. terima kasih konsisten. terima kasih konsekuen. terima kasih terima kasih sepi ~ Thank You, Alanis Morissette [bukan Pidi Baiq].

 


0 Responses to “Petualangan Memasak”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply