Mahameru 3.676 mdpL

Fajar menyingsing di Mahameru 3.676 mdpl
Tulisan ‘PUNCAK’ dengan bendera merah putih berkibar disana
Letusan asap berbentuk cendawan dari kawah Jonggring Saloka terdengar keras
Menggoyang bumi Tengger sejenak
Dan lututpun tersujud tanpa sadar
Air mata..
.
.
“Sampai Branti, Ngah.” Sial, baru mimpi ternyata..
“Oahm.. mulang pai.” Artinya pulang dulu.
[23/12] Perjalanan dengan Cita Rasa Seni
Bandara Raden Intan II, Lampung. ‘Ngah’ adalah sebutan ‘mbak’ dalam bahasa Lampung. Nes menggosok mata lalu berlari kecil menuju hanggar. Sejurus kemudian Merpati berhenti di landasan pacu terminal 2F Cengkareng. Benar kata Uje, perjalanan dengan pesawat memang tak memiliki cita rasa seni, tapi apa boleh buat, ada sebuah anekdot: pegawai bekerja untuk absen. Karena kerja lembur pun tapi tak absen, sama dengan tak digaji, dan sebaliknya, hehe..
Antrean mobil mengular depan pintu tol keluar bandara, karenanya nes menghampiri ojek.
“Delapan puluh ribu, mbak.” Njrit, ini namanya pemerasan! Nes segera balik kanan dan mengadu pada YLKI, tapi bohong.. nes butuh segera ke Sta. Tanah Abang ini. Tarik lah, mang.. dan dalam waktu 45 menit, ojek pun sampai di depan Sta. Tanah Abang. 15 menit kemudian, KA Bengawan memasuki jalur satu dan kami berlima, yang berencana mendaki Semeru, lagi-lagi berlari kecil berebut kursi tempat kereta ekonomi ini.
Tunggu, bukannya mau ke Malang Nes? Kok naik Bengawan? Itu jawabannya karena naik Matarmaja yang langsung Jakarta-Malang kurang punya cita rasa seni, hihi.. tanyakan saja pada lima orang rombongan pertama yang naik itu: Rian, Ren, Iqbal, Hatta, dan Bagas. Matarmaja seharga Rp. 51.000,- itu berangkat pukul 14.00 [23/12], dan menempuh 19 jam perjalanan sampai Stasiun Malang.
Kami yang naik Bengawan terdiri dari nes dan Selly yang terpisah gerbong dengan Mas Wipy, Kak Mela, dan Bang Julian. Dua yang disebut terakhir berasal dari instansi BPK pusat, sisanya kami STAPALA. Kereta Bengawan jurusan Jakarta-Jogja tarif Rp. 38.000,- berangkat 19.30 itu kelebihan penumpang. Selly dan nes yang sudah duduk bersempit-sempit di lorong kereta pun masih didesak penumpang yang ingin masuk. Demi apa? Rupanya pulang kampung tiap libur sudah jadi tradisi di Indonesia. Sayang manajemen KA di Indonesia buruk, Jepang dengan KA yang bersih,dan nyaman, sayangnya tak punya tradisi pulang kampung seperti kita. Pilih mana?
Alvin sudah menunggu kami pagi itu [24/12] di Lempuyangan, membelikan tiket KA Sritanjung serta sarapan, dan berpesan “Jangan maksain lho nes, kalau emang nggak boleh muncak pun kalian sudah ke Semeru. Ok?!” Yap, pendakian Semeru memang dibatasi sampai Pos Kalimati saja per tanggal 20 Des 2009 ini. Cuaca buruk, perkiraan badai, meninggalnya salah satu pendaki, larangan dari para orang tua, mundurnya beberapa orang dari formasi awal, konflik pribadi antar personal, membuat pendakian Semeru ini nes tahbiskan sebagai ‘pendakian dengan perencanaan paling emosional’. Perencanaan mendadak, alat-alat sudah dipersiapkan, tanggung kalau kami tak berangkat. Walau berangkat pun dengan setengah nekad. Sikat! “Seorang pria sejati tak akan mengingkari janjinya. Apa yang telah kurencanakan, dan sudah kumulai, aku telah melihat hasilnya,” kata Zu Ge Liang.
Hanya 15 menit setelah Bengawan sampai, KA Sritanjung 07.30 yang akan membawa kami transit di Mojokerto, dengan Rp. 20.000 saja, jalan. Sampai Mojokerto kami terkaget-kaget karena saudara kami Golo, sudah menunggu di Sta. Mojokerto tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dari Sta. Mojokerto kami naik angkot 15 menit ke terminal Mojokerto, seharga tiga ribu rupiah per orang. Dari terminal sekitar 20 menit naik bus kuning ke Kejapanan. Lanjut naik bus besar jurusan Surabaya-Malang sekitar dua jam. Sampai di Terminal Arjosari, Malang sudah pukul 17.16 sore. Fuhh.. benar-benar perjalanan dengan cita rasa seni yang tinggi ya, hahaha..
Sekali lagi kami dijemput Bian Chekong dan Koh Tepi yang akan ngarung jeram-jeram Sungai Pekalen. Lima orang dari Matarmaja telah membeli logistik dan keperluan kelompok lain dan bertemu Isma, anggota terakhir kelompok Semeru ini, yang berangkat dari Banyuwangi. Ah ya, seorang pendaki solo, Bang Roni, yang pernah naik Semeru sampai Kalimati, ikut dalam rombongan kami. Lepas maghrib sekitar pukul 19.00 kami menuju Pasar Tumpang, 1,5 jam Rp. 6.000,- dari Arjosari, ke rumah Pak Ruseno. Pak Ruseno adalah sopir truk sayur yang menampung kami tidur malam itu dan akan mengantar kami ke Pos Ranupane esok [25/12].
[25/12] Saat Cuaca Melunturkan Ceria
Kami lagi-lagi disambut Asig dan Bramus di Pasar Tumpang. Kami packing ulang dan me-list alat. Penting: belanja lauk, sayur di tumpang hanya bisa sampai sore. Alfamart depan pasar menyediakan aneka lauk instan siap masak, serta cendera mata kaos Semeru, kalau berminat membeli kenang-kenangan. Oh ya sewa truk sayur, bila berangkat beramai-ramai, adalah Rp. 30.000 per orang, kalau turun dari Ranupane ke Tumpang hanya Rp. 25.000,-

depan truk Pak Ruseno
Masih gelap usai subuh [05.30], tapi kami sudah naik bahu truk. Bu Ruseno membawakan kami teh panas dalam botol plastik, membuat perut nyaman selama perjalanan truk itu. Pemandangan luar biasa indah terhampar di depan mata. Sedang musim hujan, sehingga paku-pakuan bersepuh hijau, diantara hijau tuanya pohon cemara, dan pohon-pohon lebat lain yang membelai kami seolah menyambut kami sepanjang jalan. Bahkan rumput pun berbunga kuning. Semua warna berpadu dalam harmoni alam musim hujan. Terasering kebun daun bawang dan sawi memanjakan mata. Awan putih menggantung rendah, atau kami yang terlalu tinggi, tak mudah kami jumpai di belantara kota.
Penting: pukul 07.00 pos registrasi baru buka. Setelah menyerahkan Surat Jalan dan dua lembar fotokopi KTP per orang, tanda tangan di atas materai Rp.6000, kami mendapat surat keterangan dan asuransi. Biaya per orang Rp. 7.000,-. Sarapan berupa nasi, telur, dan sayur lodeh bisa didapat di warung terdekat seharga Rp. 6.000,- per bungkus. Ada juga penjual Bakso Malang seharga sama disana. Bagas aka Gambreng memimpin pemanasan, Mas Wipy memimpin doa, 07.30 kami mulai jalan.
Jalur Ranupane sampai Ranukumbolo terdiri dari lima pos. Jalan bertegel sampai Pos 2. Jarak dari pos satu dan dua hanya 15 menit, jadi lebih baik jalan terus saja. Jalan menuju Pos 3 ada tebing susun berlapis yang indah [namanya lupa Watu Rejeng]. Setelah pos 4, ada jembatan. Nah setelah jembatan itulah, setelah berjalan beberapa saat, Ranukumbolo akan terlihat. Dari pos 5 sudah bisa dirancang kira-kira lokasi mana yang sip untuk mendirikan tenda sambil menikmati matahari terbit atau tenggelam. Rute pendakian relatif landai, tapi sempit, hanya satu orang sekali jalan. Kanan kiri rumput liar dan paku-pakuan, jalan becek kalau hujan. Oh ya, jalur Semeru dari awal hingga akhir kali ini sangat jelas, mungkin karena beberapa hari lalu ada pendakian massal 200 orang ke Semeru dalam rangka mengenang Soe Hok Gie. Kami sampai Ranukumbolo dalam tiga jam, 10.30.
Kami sedang asyik ngemil dan kenal-kenalan dengan rombongan2 lain ketika Ranukumbolo hujan. Tak sekedar hujan, geledek berkali-kali menyambar siang. Kami memutuskan untuk masak, makan, dan shalat dulu di bangunan yang Bang Roni sebut ‘kos-kosan’. Memang benar terdiri dari 4 kamar yang saling membelakangi. “Hujan nggak hujan, jam 13.00 kita berangkat ya,” kata Geri, bu Jendral.

Ranukumbolo

Tanjakan Cinta
Tepat di depan ‘kos-kosan’ ada Tanjakan Cinta, yang tak perlu lah nes ceritakan mitosnya. Eh tapi jangan lupa menyebut orang yang kamu sukai dalam hati ya, trus trus kalau sudah jalan jangan menengok ke belakang yaa.. *yeee*. Hati-hati licin, apalagi bila hujan dan kamu memakai sandal jepit. nes dan Geri, terpeleset di jalur ini *walau sudah berusaha cari jalur rumput*. Berjalan menuruni bukit Tanjakan Cinta itu, ada Oro-Oro Ombo. Kami bersyukur datang saat musim hujan, bunga-bunga kuning dan ungu mekar indah, padang sabana yang di musim panas mengganggu perjalanan, kini dapat kami nikmati walau dalam guyuran hujan. Pohon pinus yang jarang-jarang, kecoklatan warnanya. Sementara petir masih menyambar-nyambar di langit. Hutan pinus berkabut rendah ini sangat indah, pohonnya jarang diselingi tetaman bunga, jalanan menanjak ringan.
Keluar dari hutan pinus ada sabana lagi, dengan jalan berpasir hitam, yang kata Gambreng “seperti isi umbu ketan hitam bakpia” itu, haha.. Disini pula pertama kali kami melihat Mahameru dari kejauhan. “Ya ampun sudah berjalan sejauh ini, ternyata baru sampai ke kakinya aja,” lagi-lagi kata si Gambreng. Konon, Kalimati ini berada di 2.700 mdpl, sedang Mahameru 3.676 mdpl, hitungan bodohnya, kalau jadi, nanti malam kita akan ‘memanjat’ gunung senilai seribu mdpl lagi, yup… semangka…!! Sementara hujan masih saja turun dan petir pertanda badai masih menyambari kaki langit.
Kami memang cemas terhadap cuaca. Dengan segala ‘pesan-pesan’ dan doa-doa yang tertitip untuk kami dari keluarga, sobat, dan saudara, kami sudah sepakat tak memaksakan muncak bila hujan atau badai. “Ketika hujan, kandungan belerang naik ke permukaan, sedang petir akan menyambar titik paling tinggi di daratan.” Alamak, Mahameru saja sudah paling tinggi se-Jawa, ditambah 1,6 meter-an tinggi badan kami, pastinya kepala kami yang kena sundul, gan?
Pos Kalimati ramai. Pukul 17.11 kami sampai. Hatta mengusulkan kita masih sempat memburu camp di Arcopodo, apalagi melihat puncak yang sebegitu jauhnya dari Kalimati sini. Kalimati – Arcopodo menurut catatan hanya 2 jam saja. Meski begitu kami sepakat camp di Kalimati saja, toh besok kami tak lagi bawa carrier sehingga semoga perjalanan bisa lebih cepat. Lagipula kami ingin bisa silaturahmi pada sesama pendaki. ‘Tetangga’ sebelah kami rumahnya hanya beberapa kilo dari Tumpang, tapi baru kali ini naik Semeru. Beberapa kelompok pendaki yang bertekad mendaki Mahameru, paling banyak berasal dari Jakarta atau Bandung. Yaiyalah, mereka *termasuk kami* menempuh jalan panjang hingga sampai kesini, hanya bermodal tekad dan niat, belum kocek yang tak seberapa tebal. Begitupun manusia, semakin banyak dan panjang cara mencapai tujuan, semakin besar tekadnya untuk menuju puncak. Menuntaskan hingga akhir perjuangan. “Yang menghalangi saya, dan mimpi saya, hanya keinginan,” kata pepatah.
Kami terlambat bangun. Rencana pukul 23, pukul 00.12 kami baru bangun. Dua kelompok bahkan telah berangkat ke puncak saat kami masih ribut bikin energen. Satu catatan evaluasi, karena berat dan dinginnya medan puncak, tiap pendaki harusnya makan berat, tapi kami tak lagi sempat. Penting: tiap orang minimal wajib bawa air minum 60 600 mL dan makanan ringan pribadi sendiri2. Oxycan harus bawa lebih dari satu botol. Jaket tiga lapis, dengan lapisan ketiganya raincoat. Sepatu! Masukkan pipa celana dalam kaus kaki, lebih bagus lagi pakai geiter. Memakai headlamp lebih bagus daripada senter, dan kaus tangan motor lebih berguna daripada kaus tangan dingin yang berbulu, pasir akan terbawa di serat-seratnya. Masker, bila pasirnya berdebu, bila naik musim panas. Kebetulan kami musim hujan, jadi masker tak terlalu perlu. Kacamata hitam, ya untuk foto aja sih di puncak, hehe.. Bukan, karena turun puncak akan panas dan silau. Tenda ditutup. Pukul 00.25 kami jalan.
[26/12] Jejak Sepatu Jalur Putus Asa
Jalan menuju Arcopodo menanjak terus, terjal berakar dan basah, licin seperti jalur gunung-gunung Jawa Barat. Pepohonan rapat, tapi jalurnya jelas. Kira-kira 1,5 jam kemudian Arcopodo tampak berupa lahan datar yang cukup luas untuk mendirikan dua tenda dan berundak-undak. Undakan paling atas ada makam Kelik. Kami beristirahat dan makan mengembalikan energi. Bang Julian menitipkan kamera DSLR-nya pada nes, dengan pesan “kalau bisa ambil foto sunrise di puncak.” nes mengamini.
Kami terus berjalan dan tanpa sadar jalur pasir tiba-tiba di depan mata. Kelak kami baru tahu bahwa penanda medan Arcopodo dan jalur pasir, yaitu Cemoro Tunggal, cemara besar yang berdiri sendiri, dan sangat berguna sebagai petunjuk arah pendaki yang turun agar tak tersesat karena kabut, tumbang.
Ada trauma tersendiri yang menyengat di dada nes ketika melihat jalur pasir Mahameru ini, jalur puncak Rinjani tahun lalu. Ketakutan itu muncul lagi. Sekali lagi, jalur pasir adalah jalur putus asa. Alasan dan pertanyaan terus berkelebat di pikiran. Perasaan merasa kecil dan sendiri menggayut. Sepi.. sepi.. Argh.. jalur pasir memang Dementor yang menghisap kebahagiaan.
Pelan-pelan, cahaya headlamp menangkap bentuk-bentuk kaki. ‘Jalur sepatu’ begitulah nes menyebutnya, berasal dari sepatu-sepatu pendaki yang lebih dulu pada pasir yang masih padat karena terguyur hujan sesorean tadi. Jalur di depan mulai tampak, dan dengan basmallah, nes menepis semua pikiran buruk dan melangkah. Berjam-jam rasanya itu menanjak, makin lama pasir makin gembur, maju dua langkah turun selangkah, kalau berhenti melangkah juga akan turun. Jalur sepatu mulai menghilang dan rasa panik itu muncul. Nes memanggil Rian. Rian menyahut dari atas sebelah kanan, tampak dari sinar headlamp-nya, dan nes mulai merasa salah jalur. Terlalu ke kiri. Tak tampak pernah dijejak pendaki sebelumnya sampai beberapa meter ke depan. Hati-hati nes mulai menggeser langkah ke kanan, tapi tak mudah, jalur makin gembur. Sementara kemiringan jalur pasir mendekati 45 derajat. Memijak pada batu adalah kesalahan fatal, aarrgh.. kaki terpeleset tiga meter ke bawah, nes berteriak memanggil Rian, tapi malah pasir masuk ke mulut. Untunglah sepatu akhirnya tertancap dalam pasir. Setelah meredakan gemuruh jantung, nes kembali mengambil langkah kanan.
‘Jalur sepatu’ mulai tampak, dan tak ada yang lebih membulatkan tekad ketika berhasil bangkit setelah jatuh. Harus sampai puncak, Nes! Puncak adalah sesuatu yang bisa diukur, batas yang bisa ditembus. Menembus batas. Satu-satunya yang tak dapat ditembus adalah hati manusia, karena hati manusia ternyata tak ada batasnya, hati bisa mencintai sekaligus membenci, bisa sakit sekaligus menyakiti, bisa rindu sekaligus acuh.
Fajar mulai menyingsing. Iqbal aka Kehed mulai menyusul nes dan Rian. Sedikit demi sedikit kami bertiga beriringan merapat ke puncak. “Berat ya, nes” kata Rian. Tapi Rian kali ini beda, kawan. ‘Rian New Edition’ yang gigih berjuang, naik gunung biasanya tak terlalu disukainya, Rian lebih suka bergelung dengan jeram-jeram sebagai anak ORAD. Tapi kali ini semangatnya membara, entah dari siapa mana semangat itu berasal.
“Rest dulu, Yan,” nes minta. Rian menandai batu besar, yang tampaknya kokoh, untuk menyangga badan kami agar tak terperosok lagi saat berhenti. Nes mengangsurkan minum pada Iqbal. Melihat ke bawah, hei.. ternyata kami sudah berada di atas awan. Batin bertanya, kapan tadi nembus awannya ya? Kok sama sekali tak berasa *dasar bodoh*. Batu-batu besar itu yang oleh Gambreng dinamai batu setrikaan, batu datar, dan nama-nama batu aneh lain untuk menyemangati Selly yang juga ‘Selly New Edition’. Entah siapa apa yang membuat perempuan Gunung Hutan ini hampir menyerah di tengah-tengah.
Puncak sudah tampak, tapi “kok belum ada yang teriak ‘puncak’ ya?” kata Iqbal. Kami bertiga makin memicu langkah. Tanah datar di puncak seluas lapangan bola. Tak heran bisa mengadakan upacara disini.
Langit biru tua gelap, dengan semburat jingga, bergradasi dengan awan putih, dan asap abu-abu. Sekejap kemudian.. dhuar.. bumi Tengger bergoyang sejenak, kawah Jonggring Saloka meledakkan asap berbentuk cendawan. Lututpun tersujud tanpa sadar. Air mata mengalir pelan. Sudah sampai puncak. Sampai puncak. Tak mudah, tapi tak menyerah. Menuntaskan apa yang sudah dimulai. Meraih apa yang dimimpikan, lewat perjuangan.

PUNCAK
Mahameru 3.676 mdpl, 26 Desember 2009 05.35. 817/SPA/2007
Kami bertiga, Iqbal, Rian, dan nes menikmati matahari terbit sambil foto di PUNCAK. PUNCAK itu memang berbentuk tulisan, dengan tiang dan bendera merah putih berkibar di sampingnya. Semeter sebelum tulisan puncak itu ada memorabilia Soe Hok Gie 1969. Suhu ‘hangat’ untuk ukuran Mahameru, 6 derajat celcius. Di musim panas sekitar Juli-Agustus, suhu bisa mencapai -5 derajad celcius. Tapi suhu ‘segitu’ tak ayal menghajar anak-anak tropis macam kami. Tangan kaku, badan bervibrasi tak karuan, sedangkan perut mulai kukuruyuk. Kami nongkrong merapat bersama pendaki yang lebih dulu sampai, sambil ikut ngemil tentunya, hehe..
Isma dan Ren datang kemudian. Isma mengatasi asmanya dengan Oxcycan sepanjang jalan. Tekanan udara menipis dalam ketinggian lebih dari tiga ribu mdpl. Tapi ia tak menyerah, Isma menembus batas ketahanan dirinya. Ia pejuang, dan tangguh. Selly sang Perempuan Gunung datang bersama Gambreng dan cerita-cerita batunya sepanjang jalan. “Gambreng bilang, ‘itu Ger, sampai batu setrikaan itu tinggal lima langkah lagi’, aku sih sebenarnya nggak percaya, nggak mungkin lah sejauh itu cuma lima langkah! Tapi energiku udah habis buat mendebat dia, jadinya kuturuti saja,” lapor Selly. “Belum pernah aku ngerasain sampai mau mundur dan menyerah di tengah jalan selama naik gunung, kecuali sekarang,” lanjutnya, “sampai terbayang orang-orang yang pernah mendukungku, note yang pernah kutulis, orang-orang yang pernah mencibir dan menyangsikan rencana kita..,” Selly terbata-bata. Kami berempat; Selly, Rian, Isma, dan nes berpelukan. Rencana ambisius ini sebenarnya memang obsesi kami berempat saja. Walaupun kami mengakui, sampainya kami ke puncak saat ini tak lepas dari dukungan dan bantuan semua pria di tim ini. Selanjutnya, kami bermimpi menuntaskan obsesi yang di Semeru kemarin sempat tertunda, naik gunung berempat saja. Kemana? Yah nanti sajalah kami ceritakan, hehe..

bang roni, gambreng, ibu2 yang pernah ke gunung es, bang julian, nes, ren, mas wipy, kak mela, selly, hatta
Hatta datang bersama bang Roni, Kak Mela dan bang Julian. Kak Mela tadinya memaksakan puasa, sampai pingsan di jalan. “Batalkan mbak, biarin saya yang menanggung dosanya,” kata Hatta. Dalam tim, tak ada egoisme, saling melindungi, menjaga dan menjaga sudah ‘kode etik’ tak tertulis bagi kelompok pendaki. Kami salut pada usahanya untuk naik Semeru kali ini. Memang, dia sudah pernah itu mendaki Marapi dan Singgalang, tapi puncak berpasir dan cadas adalah pertama baginya. Sedang Bang Julian yang seorang Kasi di BPK tentu ‘mengalahkan usia’-nya dalam pendakian ini. Sedang Bang Roni, ini pertamanya mendaki Semeru sampai Mahameru. Semua orang mencapai puncak. Semua orang menembus batas. Sekali lagi “yang mengahalangi saya dan mimpi saya, hanya keinginan.

negeri diatas awan

sritanjung 20ribu/orang
truk nya pak ruseno,,,30ribu/orang klo naek..
klo turun 25ribu/orang..
arjosari-tumpang 6ribu/orang
sipp,,siyap diedarkan ya…^^
oya,,masukkan menu makan kita dunk,,,
ayam bakar,,hehe
skalian komen nya mbak mela: ‘baru kali ini camping,,makannya ada sayurnya. camping sehat’^^
waw, segera diedit deh..
mw jadi pengedar ger? silakan
*ngumpet di pojokan*
~NeZ
keren…saia yg turun duluan aja lum slesai catpernya…hehehehe
kunjungi juga MP saia ya Mbak Nezt
at http://asigsadja.multiply.com
udah tak kunjungi, dah tak link juga
sori komenmu tadi nyangkut di spam, hehe..~NeZ
Mantabs aganwati!!
.
.
mantab djaia juga, gan!!
berkat petuah2 dari agan2 sebelumnya
~NeZ
Heheh…
Seneng banget bisa mencapai atap pulau jawa bersama kalian..
.
.
yuk kapan kita kemana lagi!!
kemping kuliner, hehe..
~NeZ
tebing susun berlapis yang indah [namanya lupa] = Watu Rejeng
lupa mo ngasi tau sekalian,,,,hehe
.
.
sip suda dimasukkan juga
thank ger!!
~NeZ
kalo mo naek matarmaja ya ke senen bukan ke tanah abang…
“Sayang manajemen KA di Indonesia buruk, Jepang dengan KA yang bersih,dan nyaman, sayangnya tak punya tradisi pulang kampung seperti kita. Pilih mana?”
saia pilih jd orang Indonesia yang bisa ke Jepang
Like this!!
*nyari2 tanda jempol*
~NeZ
nyez…=)
terhru…juz take a risk…risk it..
udah terLanjur jaLan, jaLanLaaaah…ayo!!!
naik!!!
hahahaaa…
aLhamduLiLLah^^
ayo lagi ma, kita kemana!!
aLhamdulillah..
~NeZ
@asig,,,,
emg yg bilang matarmaja dr tanah abang sapa sig?
seru nian…
yang keren itu munculnya banyak anak stapala di sini. kayaknya di setiap stasiun kereta dan terminal, anak stapala nongkrong di situ. hehehe
keren. hebat. apalagi ya?
mantap, gan!
beda emang, ketemu sodara di kampus sama di jalan
lebih berasa akrabnya
~NeZ
iyyyaaa,,,aku jg sukaaaa…^^
ada alvin d jogja yg siap dgn tiket sritanjung dan sarapan pagi nya…
ada golo d mojokerto yg siyap jd penunjuk jalan sampe maLang..
ada chekong dan rumah nya d maLang yg siyap jd rujukan..
ada mbak titi yg lg kerja d maLang yg siyap meminjamkan alat2nya..
hehe
Ralat bawa air k puncak bukan 60ml tp 600ml.
Saia termasuk yg gag bawa aer k puncak jadinya minta punya nes,soir yah =p
Sip, suda diralat
dasar kamuh, gak safety!!
~NeZ
ternyata saya tidak lontong…
tapi suka melontongkan diri…
hahahah
*myeh.. dasar modal lontong doang kamu mah yan!! hahahah
~NeZ
baah.. merinding saya bacanya kak. seolah2 saya ikut ke sana. hehehe
btw btw, ceritain tanjakan cinta dong kak.. belum tau apa2 soalnya.. hee..
tanjakan cinta.. mungkin simbol dari ‘kalo cinta tu perlu usaha’
mitosnya, kalau kita naik tanjakan cinta, sebut dalam hati nama orang yang disuka, trus kalo pas naik jangan menoleh ke belakang
*logikanya sih: nyebut nama orang yg disuka bikin kita jadi semangat nanjak, jangan menoleh biar gak capek*
yah.. pendek kata cintamu bakalan sukses lah sama orang itu
haha..
maunya sih gak percaya ma gituan, tapi lumayan lah daripada lu manyun, sapa tauuu..
lho ghe.. dimana kamu, wah ngantuk ya, maaf maaf
*berasa kaya nenek2 cerita hikayat begini, beugh..*
pengen ke tanjakan cinta, sebutin dalam hati nama mbak dian sastrowardoyo. dan saat naik, tidak ingin menoleh2 ke belakang…
tuu kan.. uje!! rusuh..
dian sastro dah nikah bukannya?!
~NeZ
wew… serasa dejavu pada agustus 2007.. berat memang berat, waktu itu sempat mw menyerah dan menyuruh orang2 untuk muncak, dan tinggalkan aq saja. tapi ternyata yang terpenting bukanlah kekuatan, hanya teman yang saling menguatkan
selamat…
Waahhh,,ada mb titi..
Makasiy ya mbak,,alat2nya..
Membantu sangadh..
He he
‘menyerah dan nyuruh yg laen muncak’
haha,,aku banget kmrn!!
Jd maluu..
Yap,,ada gambreng857 ‘teman yg menguatkan’
ada teman2 laen yg menunggu d puncak..
ada teman2 yg mendukung d rmh -ya kan je?-
oya,,aku ud liat poto2 semeru mb titi,,
cemoro tunggal nya msi kokoh brdiri,,pas qta kmrn ud tumbang..
*upz,,kok aq jd bnyk ngmg,,yg pnya blog mana ya? Sory nez,hehe
Kaburr ah…….
4 mb titi: iya bener tu..
kita juga naiknya rata2 dikawal sama temen2
agustus 2007?? waw belum stapala saia dan geri
hahaha…
4 geri: jangan sungkan ger, anggap aja rumah sendiri..
ngepel2 sendiri..
ok
~NeZ
agustus 2007 ud jd stapala kali ne,,,
kan kita dilantik 8 juli 2007….^^
ah ya ger..
dah ke gunung maut, salak ya
maafkan saia yg pelupah
~NeZ
Semeru itu The Best Performance di antara gunung yg ada di jawa…
selamat…bisa menjejakan kaki di puncak abadi para dewa…
ah ya itu benar!!
makasih
hoho.. *bangga*
~NeZ
yach, kagak ada poto gue diatas
yee, siape elu?!
hehe..
piss mas erry..
hahaha.telat baca
kalo tahu kehed ikut bisa nanya langsung ke orangnya kmaren :’(
gunung nya para pendaki
mb Arale: gampang mb, kalo kesana, saya juga mau ikut (lagi)
Hijauku: yeah, saya mah heran kalo ada gunungnya para penyelam, kakak
hehe.. selamat datang di blog saya