Bromo 2329 mdpl, Kini
‘Kini’ yang saya maksud diatas tentulah pasca hujan abu dari kaldera Bromo sejak 26 November 2010 lalu. Bukan hanya lokasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) saja, melainkan kota-kota di sekitarnya seperti Probolinggo, Malang, bahkan Bali terkena hujan abu. Bromo dibuka kembali Juni 2011 lalu.
Nah, liburan ke Bromo digagas mendadak di awal libur UAS. Maksudnya sih sebagai pelampiasan, karena sudah satu semester ini kami tak bisa keluar Surabaya akibat tugas-tugas yang selalu menumpuk di akhir minggu. Saya diajak oleh kawan-kawan baru, maksudnya baru pertama ‘jalan jauh’ bareng. Sebagai catatan awal, saya sudah pernah ke Bromo akhir 2009 lalu. Spoiler-nya, Bromo 2011 ini jauh berbeda dari yang waktu itu.
Beda dengan Bromo akhir 2009 lalu, dimana tim kami ke Bromo via jalur Semeru naik truk sayur, nginap di posko Arpala (bahkan sebelumnya sempat mendirikan tenda di tubir lembah Cemoro Lawang), jalan kaki pp Bromo dan kenal, berbagi, ngobrol dengan banyak sesama pejalan. Bromo 2011 ini, meski kawan-kawan saya sudah menganggap perjalanan ini ‘nggembel’, tapi bagi saya kurang terasa nuansa ‘kere’-nya. Lebih ke ‘turis’.
Kami berangkat dari kampus ITS ke Bungurasih naik motor. Sambung bus jurusan Probolinggo. Sampai terminal Probolinggo kami shoma. Saya mengusulkan go-show saja, dengan alasan di atas pasti dapat harga lebih murah. Namun kawan2 bersikeras mencari penginapan + sewa jeep sejak dari terminal. Apalagi semua nomor penginapan yang didapat dari internet telah full-booked, menambah parno kami.
Sopir angkot elf Cemoro Lawang menawarkan penginapan 2 kamar @ 100 ribu dan sewa jeep 400 ribu, yang segera kami terima dan bayar dimuka dengan bodohnya (menurut saya). Belakangan, ketika tak sengaja saya bertemu dengan pak Adi, provider jeep tersebut di warung dekat penginapan, beliau bilang tarif ‘sebenarnya’ jeep adalah 250 ribu. Sedangkan kamar ternyata cukup luas sehingga tak perlu sewa dua. Tapi apa lacur, sudah terlanjur dibayar..
Sekitar pukul 7 sore kami sampai Cemoro Lawang. Usai meletakkan tas dan mengambil jaket, kami keluar penginapan untuk makan, ke ATM, dan rapel shalat. Hujan pasir turun saat kami jalan-jalan, membuat kami bergegas. Kasihan kawan saya Miftah. “belum pernah gue pergi ke tempat sedingin ini..,” katanya. Rupanya ia belum pernah melipir ke daerah pegunungan, meski sudah pernah backpacking ke Thailand dan Singapura, haha.. Sementara Jihad dan Novan yang sekamar dengan saya mengaku tak nyenyak tidur karena terlalu dingin dengan selimut setipis itu. Saya yang nempel-molor ini, ditambah dengan membawa light-sleeping-bag, enak-enak aja tuh tidur, haha..
Tepat pukul 3.00 sopir jeep tiba, yang dikomentari Jihad dengan “anjrit, ontime..”, sehingga kami buru-buru bergegas. Sekitar pukul 3.30, jeep kami beserta 100-an jeep lain, bukti bahwa naik jeep adalah klise dan mainstream sekali, menuju Penanjakan dalam waktu 15 menit saja. Oh ya, Pananjakan ini bukan yang biasanya, karena yang ‘aslinya’ longsor kena erupsi. Objek wisata di Pananjakan ini adalah melihat sunrise. Bukan sunrise terbaik yang pernah saya alami, tapi lumayan lah
.
Kami kembali naik jeep sampai di pelataran Pura Luhur Poten. Sisa perjalanan ke Bromo kami tempuh dengan jalan kaki saja. Miftah sudah sejak dari hiking di Pananjakan tadi sering minta berhenti, sedangkan Novan sempat kram kakinya sewaktu jalanan menanjak ke kaki Bromo. Jihad sudah mulai naik puncak, saya di belakangnya. Disana, 250 anak tangga yang dulunya ada, kini ‘hilang’ ditelan abu. Mendaki puncaknya kini selicin mendaki puncak Semeru. Tak ada beton untuk pegangan tangan, tak ada pagar. Hanya sisa-sisa pembatas jalan yang bisa dikenali untuk menuju puncak (kawah) Bromo.
Sampai di puncak saya melipir ke kiri. Ceritanya, saya ingin napak tilas perjalanan 2009 lalu. Sedari kaki Bromo tadi saya sudah menggumamkan lagu yang sama yang saya nyanyikan waktu itu, ‘Saengil chukha hamnida..’, dst. Baru semenit saya disana tiba-tiba muncul gumpalan hitam dari kawah. Mula-mula kecil dan pelan, lama-kelamaan semakin tinggi dan menghitam. Lalu blaar! Erupsi.
Massa yang berada di puncak bergegas turun. Tapi yang di bawah justru meringsek ke atas, termasuk si Yudhis yang nekad naik ketika Jihad dan saya justru sudah sampai bawah. Untunglah dia selamat, hehe.. Saya jadi tak yakin apakah sebenarnya Bromo sudah layak dibuka kembali, ataukah dibuka ‘paksa’ karena banyak warga lereng yang menggantungkan kehidupannya pada pariwisata Bromo?
Belakangan dalam perjalanan turun arah Malang, melewati Pasir Berbisik dan Padang Savana, saya baru sadar dampak kerusakan yang timbul akibat erupsi. Pasir Berbisik yang dulunya berwarna hitam legam kini seperti susu bubuk cokelat. Awan putih yang dulunya menggantung rendah, kini digelayuti serbuk halus pasir cokelat juga. ‘Bukit Teletubies’ (aslinya Padang Savana) yang dulu kami teriakkan dari atas truk sayur di jalur menuju Ranu Pane, kini meranggas dan tertutup pasir yang sama. Bromo yang (dulu) terkenal dengan fotogenik-nya, entah sampai kapan bisa kembali.
Ojek yang kami sewa sejak dari penginapan mengantarkan kami ke Malang, lalu dari Terminal Arjosari kami kembali ke Surabaya. Selain perjalanan yang cukup berkesan, saya menambahkan catatan karakter pada kawan-kawan baru saya yang tak saya dapatkan ketika berinteraksi di kampus. Inilah bagian paling menarik dari sebuah perjalanan, bukan?! hehe..








woiiiiii mantap jalan-jalannya
ini ngabisin berapa uang kira2?
jadi mau pulang kampung ke malang dah..
eh jawab ya kr2 bep yang harus keluar uang klo dari jakarta?
serius?! saya gak rekomend ke Bromo skrg lho
mm.. kami berlima dari surabaya, seorang kira2 300rb
kalo dari jkt tinggal tambahin aja..
~Nez
jangankan 2009 kak, sama 2010 aja beda banget. seremnya erupsi malah naik. tapi… jalan2nya seruan waktu kakak bareng2 anak stapala ah.. kalau naik jeep mah sama aja kaya saya. mehehehe
oiya ya, harusnya tulisan ghea bisa jadi missing link antara Bromo 2009 ke 2011.
tiap jalan punya cerita masing2 seh, hehe..