Air Terjun Madakaripura
Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.
~Gajah Mada #5: Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna, via Goodreads
This slideshow requires JavaScript.
Ani, Syukron, Denis, Faisal, Mb. Maya, Gerie, dan saya
Air terjun Madakaripura dipercaya sebagai tempat pertapaan Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada. Kisahnya mempersatukan nusantara pertama kalinya, selain sekilas di pelajaran Sejarah, saya baca di 5 seri novel-biografi Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Madakaripura Hamukti Moksa, adalah sub-judul untuk seri ke-5 atau terakhir. Di buku terakhir ini diceritakan Gajah Mada memilih bertapa untuk mempensiunkan diri sebagai mahapatih. Saya belum baca seri ke-5 ini, tapi sejauh ini favorit saya adalah seri ke-4 Perang Bubat. Kenapa menarik? Ohoho.. saya sarankan sekali untuk baca sendiri.
Teman-teman dan saya kesana setelah dua hari dua malam di Bromo (yeah, Bromo saya yang ke-3). Letaknya di Probolinggo. Kalau mengunjunginya dari Bromo, perjalanan cukup ditempuh selama +- dua jam arah Probolinggo, atau 1/2 jam dari Terminal Probolinggo. Meski termasuk destinasi populer di kota ini, tapi air terjun Madakaripura ini tak terurus. Masuk satu mobil elf dihargai Rp. 20.000,- tanpa karcis. Itu, dan masih ditambah parkir yang..
Tukang Parkir (TP) : “7500″
Nes (N) : “whoa whoa.. tadi masuk udah bayar 20 ribu, pak”
TP : “nggak termasuk ongkos parkir, mbak”
N : “mana karcis parkirnya?”
TP : “nggak ada karcis parkirnya”
Gerie (G) : “wah, terus itu tarif 7500 dari mana?” <– insting auditor, red
TP : “disini memang nggak ada karcisnya. tapi biasanya tarifnya segitu”
N : “di kota besar aja, Pak, parkir mobil cuma 3-5 ribu. masa disini 7.500?! di tempat yang –bla bla bla– gini?!” *disensor karena mencakup beberapa kata sifat yang offensif
G : “mana nggak ada karcisnya lagi …” <– ngomong sesuatu tentang pendapatan APBD
TP : “yaudah 5 ribu”
G : “lho kok jadi 5 ribu. hitung dari mana?”
TP : “ya tadi mbaknya bilang di kota 5 ribu”
G : “lha kok jadi berubah-ubah gini. lagian itu di kota, pak. disini kan –bla bla bla– ” *disensor dengan alasan sda
Perdebatan masih berlanjut sampai beberapa saat yang membosankan. Gerie dan saya akhirnya menyerah dengan ’5 ribu’ itu, tapi puas karena udah meluapkan kejengkelan. Plus memotong 50% tarif. Meski begitu kawan, kejengkelan itu bukan yang pertama.
Berikutnya..
Pemandu (P) : “Kesana harus pake guide, mbak. Bisa kesasar kalau enggak”
Gerie (G) : “Gak usah pak, kita jalan sendiri aja”
P : “Jalur banyak keputus karena gempa, harus beberapa kali nyebrang sungai. Nanti nggak sampai air terjun lho..”
Nes (N) : “Gak papa Pak, nanti kalau nggak ketemu kami balik aja. Gak mesti sampai kok”
P : “Ini musim hujan, kalau air meluap bahaya kesana, dsb…”
G : “Kalau hujan kami balik”
P : “Nggak ada yang sampai kalo nggak pake guide, dsb…”
N : “Pak, @#%^&*(” <– disensor dengan alasan sda
Entah kenapa Gerie dan saya yang bawel sekali. Jelas kesan pertama ini bikin kami malas. FYI, meskipun ‘guide’ itu tidak bilang bahwa mereka menarik biaya diawal, tapi menurut sumber kami yang datang sebelumnya kesini, di akhir perjalanan mereka minta ongkos Rp. 50.000,-. Oh tentu, tanpa karcis!
Trekking sampai ke air terjun pertama (dari delapan) butuh waktu 2 jam. Jalur memang banyak terputus karena gempa, sehingga beberapa kali menyeberang sungai, tapi cukup jelas. Di dekat air terjun ada orang-orang yang menawari payung, bahkan ‘memaksa’ memayungi kita, yang tentu saja bayar dan tanpa karcis. Kalau memang siap basah, tolaklah dengan tegas, karena meski kita udah menolak dengan kata-kata dan berlari, mereka bakal mengejar kita. Whoa, that was creepy, freak!
Menjemput Impian
Pagi itu cerah nyaris tanpa pertanda. nes memaksa diri bangun pagi itu, tak cukup tidur semalam. Tiga malam sebelumnya nes dan Alit bermalam di kontrakan Alit, dan kami berdua hampir tak tidur karena cerita macam-macam. Alit adalah kawan baik nes disini, dia istri Agung, kawan sejak di Semarang. Ceritanya, si Agung dinas luar tiga hari di Tanjung Karang, jadi Alit mengundang Nes buat bermalam disana. Selain cerita kami juga masak-masak dan berburu kodok, hiii..
Setengah mengantuk, iseng Nes buka Facebook *Saykoji mode: on, hehe.. Situs jejaring ini seringkali lebih cepat menginfokan daripada yang lain, termasuk adanya pengumuman kelulusan tes pertama beasiswa internal dari Ditjen. Ya ya, nes termasuk yang beruntung sebagai salah satunya, untuk masuk ke tes selanjutnya yaitu wawancara. Kantuk sisa semalam, lenyap begitu saja.
Dua minggu sebelumnya, 5/6 tepat ketika sahabat karib Adit aka Bang Pukon 814/SPA/2007 melepas masa lajang, adalah tepat ketika tes tertulis itu berlangsung. Mengesalkan memang, mengingat nes sudah optimis bakal bisa datang dan jalan-jalan ke Jambi, malah harus kejar tayang tes di Jakarta. Tes itu sendiri melelahkan. Dua hari penuh dari jam 8 sampai jam 5 sore, hanya diselang waktu istirahat sholat dhuhur dan makan siang. Terdiri dari tes komprehensif TPA, TOEFL, dan Psikometri.
Oh ya, ada tiga jurusan beasiswa yang dapat dipilih lulusan D3 ke S1: Sistem Informasi Manajemen Unibraw, Ekonomi Kuantitatif Unibraw, dan Sistem Teknologi Informasi ITS. Masing-masing jurusan mendapat kuota 10 orang. Nes mengambil Sistem TI [bukan Teknik Informatika seperti yang nes pikir semula], dan menjadi satu-satunya kontestan beasiswa bergender perempuan yang mengambil jurusan ini, hoho.. dan tentu saja di pengumuman tes tertulis ya masih tetap nes yang satu-satunya perempuan. Tanya kenapa?
“Kenapa milih TI, nes?”, “kenapa ke ITS sih, Surabaya kan panas? kenapa nggak ngambil di Malang aja?”, “selamat ya nes, bisa keluar dari Liwa..”, “wah akhirnya, bisa balik ke Jawa lagi”, “moga sukses ya nes”, “ih, kok bisa ketrima sih kamu nes?”, hoho… pertanyaan terakhir bohong deng, nggak ada yang nanya gitu, hehe.. 
Kenapa milih TI? ya, karena suka aja. Ketika hobi yang dipelajari, kita jadi ikhlas belajarnya. Nes hampir kuliah TI [Teknik Informatika] di sebuah Sekolah Tinggi di Bandung lulus dari SMA lalu, ketika orang tua menyarankan untuk belajar di STAN saja. Jadi kuliah kali ini *bila nantinya lulus wawancara, amien, adalah ‘perpanjangan’ dari cita-cita masa lalu nes. Allah akan memeluk mimpi manusia, kalau ia berani berjuang untuk itu. Siapa yang sangka, kuliah fakultas ekonomi bisa dilanjutkan di fakultas teknik? Dan dari seluruh ditjen di Depkeu, hanya DJPBN satu-satunya yang membuka kesempatan untuk itu, tepat ketika nes disitu, tidak di ditjen yang lain, yang mungkin lebih keren namanya, misalnya. Satu hal lagi, saran orang tua, bagaimanapun tak enaknya diterima ketika dulu, ternyata adalah yang terbaik. Kini, nes bisa kuliah yang dari dulu nes idamkan dengan gratis, masih dibayar pula, tanpa melepas status pegawai *yang diinginkan orang tua. Meskipun kali ini Sistem, bukan Teknik-nya, walau masih satu fakultas.
Kenapa ITS, Surabaya kan panas? Kenapa nggak di Malang aja? Kalau ada pilihan fakultas TI di Malang, atau Bandung, atau Tokyo sekalipun, nes pasti akan mendaftar kesana. Karena ini bukan masalah “dimana”, “enak tidak enak”, “nyaman tidak nyaman”, tapi masalah jurusannya, fakultasnya, yang TI, bukan yang lain. 
Nes tahu, grade jurusan teknik relatif tinggi, dan sebagian besar peminatnya adalah laki-laki. The Male Brain, buku karya Michael Gurian, menyebutkan bahwa
“secara natural, otak laki-laki menyukai objek-objek yang bekerja di ruang -nyata atau maya- yang menarik bagi pusat-pusat spasial kinestetik di otaknya yang lebih bersifat aural daripada verbal”.
Berada di area ini, yang sebenarnya secara natural bukan bidang nes, membuat nes belajar lebih keras. Jurusan ini bukan “pilihan dua minggu” atau “pilihan detik2 menjelang pengumpulan formulir” atau bahkan “pilihan mudah karena ingin keluar dari Liwa”. Bukan. Ini adalah pilihan lama, sadar, dan terukur.
Tak dapat dipungkiri, Liwa memang faktor besar mengikuti tes beasiswa ini, tapi bukan yang paling besar. Kenapa tak menuggu saja mutasi akhir tahun ini? Kenapa dua kali nes tak ikut tes seleksi KPPN Prima? Kalau memang tujuannya cuma keluar dari sini, dan pulang ke Jawa. Silakan muntah dulu, tapi niat nes memang pengen kuliah, lebih dari sekedar bekerja dan pindah, hehe..
Sukses. Apa pengertian sukses? Bila ukuran sukses diidentikkan dengan jenjang karir, atau jabatan, maka itu bukan kriteria sukses setidaknya menurut nes. Karena ukuran sukses bagi nes adalah bahagia, itu saja. Apa karir tinggi tak bisa membawa bahagia? Bisa saja, asal sesuai dengan minat, hati nurani, dan kita menikmatinya.
Hari sudah menjelang pagi. Maafkan nes kawan, tak bisa ke Jambi untuk hari bahagiamu. Tak bisa bersama yang lain menyerahkan plakat bergilir itu. Melanggar janji bertemu tanpa meninggalkan selarik kata pun. Maafkan karena nes harus pulang, menjemput impian.
Petualangan Memasak

Perempuan2 dalam Peradaban Dunia
“Satu-satunya teman yang kumiliki, yang tidak menunjukkan perubahan terhadap diriku, tetap jujur dan transparan bagai air, adalah Arjumandku tersayang. Baginya, aku belum pernah menjadi seorang pangeran, dan saat ini aku bukan seorang Sultan. Aku adalah suaminya, kekasihnya, hatiku masih terjalin erat dengan hatinya. Cinta kami adalah kepercayaan…” ~Shah Jahan.
“Bagi perempuan2 sedunia; adalah penting untuk menjaga wajahmu tetap cantik, dan badanmu tetap langsing, tapi lebih penting untuk mempertajam otakmu dan mengasah mentalmu untuk jadi pemberani..” Itulah pesan tersirat dari dua novel epik tentang perempuan2 dalam sejarah, yang dengan tangan otaknya, mengubah dunia. Mari berkenalan dengan Arjumand Banu dari India dalam Taj (Mizan) dan Tsi Tzu, seorang selir pada masa Kaisar Hsien Feng dalam Empress Orchid dan The Last Empress (Hikmah).
Wanita pertama adalah keajaiban dunia. Siapa tak kenal Mumtaz Mahal. Masjid yang dibangun karena cinta terhadap wanita ini, menjadi satu dari 7 keajaiban dunia. Maka, siapa meragukan bahwa Arjumand, nama gadis Mumtaz Mahal, adalah salah satu wanita yang mengubah peradaban manusia?
Mari kita mengenal kisah cinta abad ke 16 ini.
Arjumand muda harus rela menunggu Shah Jahan lima tahun sejak pertemuan pertama mereka sebelum menikah, dengan hanya tiga kali pertemuan, bahkan diselingi pernikahan politik raja muda itu dengan putri negara tetangga.
Ketika kemudian mereka menikah, pecah perang. Bahkan dengan kondisi mengandung, wanita pemberani ini ikut berperang. Ia menjadi penasehat pribadi sang raja. Seberapa cantik sang Arjumand, tak ada yang mengetahuinya dengan pasti, bahkan dikabarkan tubuhnya melar karena terlalu banyak mengandung, dan menghitam terkena debu jalanan akibat ikut berperang. Tapi kebijakan dan keberaniannya seluruh penduduk India tahu, dan tak ada yang meragukan.
Pada saat beberapa perempuan di harem mempraktikkan perdagangan, mengumpulkan kekayaan; yang lain merengek-rengek meminta jagir besar atau hadiah yang hebat, tidak ada yang memuaskan mereka, Arjumand justru seperti seorang sanyasi, dia hanya sedikit memiliki kebutuhan. Kebutuhan mendasarnya -makanan, minuman, dan cinta- sudah cukup terpuaskan. Ia justru mengingatkan kesederhanaan pada Shah Jahan.
“Kau sudah berubah. Bagaimana aku bisa tetap melihat seorang anak lelaki yang pertama kali melihatku di pasar malam Bangsawan Meena bertahun-tahun lalu?,” sindirnya dengan halus.
Dalam hidup pernikahannya, Arjumand 14 kali melahirkan. Dari 14, hanya 7 yang lahir hidup. Sebagian besar dari mereka, lahir di medan perang, dan tak satu pun anaknya yang hidup, baik laki-laki maupun perempuan, yang tak ikut dalam medan perang. Padahal pada jaman itu, tidak ada perempuan, yang ikut perang. Mereka bercadar dan tersembunyi dibalik istana-istana mewah, dengan puluhan pelayan dan budak. Arjumand bersikap berbeda.
“Kalau aku tak keras kepala, bagaimana bisa kau mencintaiku,” katanya pada Shah Jahan.
Wanita keajaiban dunia itu meninggal akibat daya tahan tubuhnya melemah, karena terlalu sering melahirkan.
Shah Jahan dikabarkan sangat bersedih dan menenggelamkan diri dalam proyek pengerjaan Taj Mahal. Tak heran Taj Mahal sendiri dibangun selama 22 tahun (1631-1653), mungkin lebih untuk menebus kesepian hati sang sultan daripada menjadikan sebuah bangunan..
~
Kota Terlarang, Dinasti Ch’ing. 26 Juni 1852. Ini adalah kisah seorang selir muda yang di kemudian hari menjadi Maharani, kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Putri Yehonala, Tzu Hsi (Orchid).
Salah satu orang bijak Cina meramalkan bahwa “Cina akan dihancurkan oleh seorang perempuan”.
Bersaing diantara ribuan orang untuk jadi salah satu dari 200 orang yg terpilih jadi selir kaisar, lalu bersaing untuk jadi satu dari tujuh istri, Tzu Hsi akhirnya terpilih menjadi Selir Kerajaan Tingkat Keempat, dengan gelar Putri Kebajikan nan Tak Tertandingi. Meski terpilih jadi satu dari tujuh istri, ia masih harus bersaing dengan dua ribu orang selir lainnya yang sebelumnya sudah menetap di istana.
Berbulan2 lamanya, bahkan sekedar bertemu dengan ‘suami’-nya pun tak pernah. Ia menyuap Kasim Shim, Kepala Kasim dengan mahar perkawinannya, hanya untuk merancangkan jadwal ‘tidur’ satu kali dengan Paduka. Ketika jadwal itu diraih, ia tak segan untuk ‘belajar’ di Wisma Lotus (rumah bordil) ‘cara menyenangkan lelaki di tempat tidur’.
Singkat kata, sejak itu ia jadi selir kesayangan Kaisar. Di sanalah ia belajar politik, intrik, kekuasaan. Kaisar, yg terbiasa dimanja sejak kecil, mentalnya tak cukup kuat menghadapi serangan Inggris dalam Perang Candu (1852). Maka, ia berinisiatif meresume surat2, membuat konsep traktat, putusan, dsb. Inilah karier pertamanya di kekaisaran. Pada jaman itu, peran wanita di kerajaan sangat terbatas, dan sang Empress memakai baju laki-laki untuk menyamarkan perannya sebagai sekretaris pribadi Kaisar. Ia rela berjalan kaki, dan bukannya ditandu pada saat pengungsian perang, tak seperti wanita lainnya. Ia juga tidak lebih memperhatikan penampilannya -yang memang sudah cantik- daripada karier politik dan kepentingan negaranya. Kisah Empress Orchid berakhir hingga kematian Kaisar Hsien Feng.
Di sekuelnya, The Last Empress, lebih banyak menceritakan karier politik sang Maharani. Meski ia hanya selir, tapi berhasil melahirkan satu2nya keturunan laki2 yang kelak akan menjadi Kaisar, Tung Chih. Meski demikian, karena Tung Chih masih sangat muda, politik lebih banyak ‘dimainkan’ oleh ibunya. Menjadi satu2nya wanita yang berdiri tegak dengan guncangan fitnah, dengan satu demi satu pendukungnya dibunuh, terbunuh, atau diasingkan, Tsu Hsi benar2 mencerminkan tipikal perempuan tangguh. Ia sama sekali tidak silau terhadap harta atau kekuasaan, ia menyebut masuknya ia ke Kota Terlarang sebagai “sebuah ketidakberuntungan”.
Wanita yang pantang menyerah ini, berpengaruh terhadap peradaban dunia.
Melalui novel Empress Orchid dan sekuelnya The Last Empress, pengarangnya -seorang wanita juga- Anchee Min berkata ‘peradaban seharusnya berterima kasih kepada sosok Tzu Hsi (Orchid), bukannya menuduhnya sebagai penghancur peradaban Cina, seperti kata ramalan.’
Semoga bisa dijadikan pelajaran.




kata kita