tujuh not
heran..
bagaimana sebuah peristiwa kecil bisa memporak-porandakan hari-hari.
dan hujan deras yang mengetuk-ngetuk jendela kaca malah menjadikannya bulan-bulanan
heran..
bagaimana dari tujuh not saja bisa menjadikan jutaan musik indah
dan entah bagaimana kombinasi2 tujuh not itu merapikan hari-hari yang terlajur porak-poranda
dan memunculkan pelangi dari hujan yang mengetuk jendela
sesudah ia sendiri mengetuk pintu hati sang manusia
dan memindahkan gerimis pada sudut matanya
magis
maka hari ini saja, tak ada L’arc~en~Ciel, AKG, muse, MCR
dan berikut hanyalah playlist edisi mellow mood yang tak berlaku di hari-hari normal, ok. syarat dan ketentuan berlaku *halah.
peringatan: bakal banyak lagu minimalis dengan tapping gitar saja, lagi hobi
7. glasses ~ do as infinity
tak pernah gagal suara serak-tapi-lembut Van Tomiko, yang sangat jarang dimiliki vokalis perempuan Jepang, mengalirkan damai dan semangat. salah satunya di Glasses ini, walau gak se-hit Fukai Mori ya. band ini sempat vakum di tahun 2005 dan tengah tahun 2009 kemarin tiba2 ngeluarin single, yang belum nes dengar, hehe..
btw, official web-nya keren, walau lola *loading-nya lama* dengan kapasitas bandwidth indonesia yang gak usah lah dibandingkan dengan Jepang

6. unpretty ~ TLC
tiap perempuan pasti pernah merasa tak cantik. tak menarik. selalu mencari pembanding yang seringkali tak adil bagi dirinya sendiri. lagu ini terpilih karena liriknya, dan suara soul ras afro-american yang bikin ngiri itu..
Look into the mirror who’s inside there
The one with the long hair
Same old me again today * (yeah)
5. Lucky ~ Jason Mraz ft. Colbie Caillat
yang melempar ingatan pada Bintaro C7, C1, Mamat Indomie, sepanjang jalan G112-Kalimongso, Nasi Goreng Bu Dhe, Nasi Gila Sejahtera, Pecel Lele Ceger, jalur busway, sepeda orange posko.. I’m lucky were in love in every way, lucky to have stayed where we have stayed, lucky i’ll be coming home someday
lucky i’m in love with …
4. Tire Swing ~ Kimya Dawson
“sebagaimana halnya roda yang berputar, begitulah hidup. seperti adanya siang selalu ada malam,” pesan ibu dari sambungan telepon jauh disana. kata-kata yang diulang-ulangnya seperti rapalan ajaib, agar jadi doa, agar lekas terkabul. dan lagu indie yang dinyanyikan seperti berbicara ini sungguh mewakili mood ini.
3. Kaze ~ DEPAPEPE
ah.. DEPAPEPE lagi. musik berirama rancak yang berasal dari dua gitar ini seperti menyiratkan pesan “suara yang paling keras adalah kesenyapan”. tak perlu lirik, cukup musik. sedang asik-asiknya me-mode pemutar mp3 putar-terus-menerus-lagu-ini [repeat current track] agar semangat belajar gitarnya menular ni, hehe..
You’re a part time lover and a full time friend
The monkey on you’re back is the latest trend
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you
band indie ini memang unik. sedang lagu ini populer setelah jadi OST film Juno, dan versi lain lagu ini dinyanyikan oleh dua pemain utama film Juno, dengan gitar. liriknya lucu dan sangat indie.
Up up down down left right left right B A start
Just because we use cheats doesn’t mean we’re not smart
I don’t see what anyone can see, in anyone else
But you
tu kan, hihihi…
1. Immortal Mellow ~ Adhitia Sofyan
dan puncaknya adalah lagu ini. FYI, beliau ini royal sekali memberikan gratis lagunya, bahkan dikasi link donlot di blog-nya, bahkan bisa donlot dengan media apa saja, rapid, 4, idws, dll baik se-album maupun per lagu!! wow!! bagi nes yang suka gratisan, hehe.. tapi Adhitia menjanjikan, barang siapa yang beli CD-nya akan mendapat kualitas musik yang jaauuh lebih jernih.
jadi ‘friend’ [bukan fan] di fb pun langsung di-approve!
makasi banyak om Adhit!! *sok kenal
ah jadi lupa mau ngomongin lagu ini, yang dari judulnya saja udah bikin pengen yellow mellow
sayangnya ada sayangnya, musiknya hampir mirip-mirip, terutama bagian intro-nya. atau kah itu ciri khas lagu-lagu adhitia? mungkin.
selesai.
reflection, recent, resolution

Petualangan Memasak

Situ Gintung dan Kenangan yang Hilang

latihan dayung di Situ Gintung 18/02/2007
18/02/2007
Pagi-pagi sekali kami, dengan penuh semangat, sudah kumpul di depan dinding panjat. Setelah melakukan peregangan, lari keliling kampus dua putaran, dan beberapa seri penguatan, kami bergegas menaikkan Sekoneng [nama perahu karet STAPALA] ke atas angkot yang telah dicarter, lalu memasukkan sejumlah dayung, pelampung, helm, pompa perahu, dan peralatan arung jeram lainnya. Tak lupa tenda, fly sheet, tikar, kompor, gas, dan bahan makanan bekal kemping. Ya, hari ini kami akan berlatih salah satu olahraga khas pecinta alam yaitu ORAD [Olahraga Arus Deras] atau yang lebih dikenal luas dengan nama Arung Jeram. Situ Gintung di Ciputat selalu menjadi pilihan tempat berlatih karena letaknya yang dekat kampus STAN [Bintaro, Tangerang]. Situ [danau] yang arusnya tenang akan menjadi area pengenalan kami sebelum nantinya terjun ke sungai.
Untuk masuk ke arena wisata Situ Gintung dikenakan biaya per kepala Rp. 5.000,- sedangkan angkot kena biaya sendiri bila masuk gerbang Situ. Dasar anak kampus yang koceknya minim, kami yang berjumlah sekitar 20 orang ini hanya mencarter satu angkot untuk membawa barang2 dan sekitar 5 orang untuk mengangkut perahu dan barang2 ke dekat Situ. Sebagai informasi, letak gerbang dengan tepi Situ yang akan kami buat tempat kemping lumayan jauh, sekitar 1 km. Nah, sementara itu sisanya yang 15-an orang naik angkot lain sampai ke dekat pemukiman warga, dimana angkot carter-an sebelumnya telah menurunkan pelampung, dayung dan helm dan masuk lewat gerbang depan. Kami yang ber-15 harus berenang sejauh kira2 200m dari jalan kecil dekat pemukiman warga menyeberang ke sisi Situ yang berbayar itu, walah walah..

ayo... renang teruuss, hosh hosh..
Jauhnya jarak dari satu sisi ke sisi lain membuat kami sering ‘beristirahat’ di tengah2 danau sambil mengobrol dan mengambil napas, hehe.. secara kami memakai pelampung, jadi aman. Lagipula kedalaman danau bisa mencapai lebih 10 m, sehingga pemakaian helm, pelampung dan dayung, selain sebagai sarana latihan juga berfungsi sebagai prosedur keamanan [safety procedure]. Beberapa kawan yang kepayahan ‘dibantu’ dengan cara memegang tali di sisi-sisi perahu karet yang menyusul ke tengah. Naik ke perahu? Enak saja, kami kan sedang dilatih dalam rangka diklat STAPALA 2007. Malah sialnya, beberapa meter sebelum finish, si KoBo [salah satu pelatih ORAD kami] melajukan perahu tepat dibelakang kepala Nes. Perahu karet itupun menenggelamkan Nes, yang panik dan menyelam sambil berenang ke sisi kiri agar lepas dari himpitan perahu. Dasar KoBo, huh! Jadi kangen ngarung sama lu, Bo…
Setelah istirahat di tepi beberapa saat, kami disuruh berenang lagi ke tengah. Di tengah Situ kami berlatih renang jeram [renang dengan posisi badan depan diatas, searah dengan arah arus sungai], cara SAR menolong korban yang jatuh ketika arung jeram, cara naik perahu karet dari posisi di atas air [sulit karena tanpa pijakan kaki, menggunakan daya tekan air, dan harus pull-up] dan cara menolong orang naik perahu [angkat bahu pelampung, bukan tangan/badan orangnya]. Selain itu kami juga ‘dilatih’ dijatuhkan dari perahu secara mendadak, dan sesegera mungkin membalikkan kembali perahu yang terbalik [flip flop]. Dalam salah satu sesi latihan flip flop ini kami menghilangkan satu dayung merk Boogie. Dayung itu pinjaman dari Arkadia [Pecinta Alam UIN] lagi, haduh… Walau beberapa orang penyelam telah dikerahkan sampai dasar perahu, tetap tak ketemu. Kami pun pucat pasi, bukan apa2, tapi demi mengirit ongkos masuk tadi kami telah berenang sejauh 200 m, sekarang masih harus patungan buat beli dayung baru, dasar nasib…
Tak terasa siang hampir usai, kami pun menepi. Tikar telah digelar, dan kami yang kedinginan, mulai menyalakan kompor dan memasak. Bekicot2 yang bertebaran di keliling Situ bernasib naas hari itu, karena kami menangkapi beberapa dan melempar mereka dalam bara. Lumayan untuk lauk teman nasi yang baru matang, hmm… Kami pun bergiliran masak, makan, dan shalat. Lepas asar, kami mulai latihan dayung sesi kedua. Kami memakai lagi perlengkapan, lalu berenang mengejar perahu karet yang sudah terlebih dulu ke tengah, dan berlatih beragam cara mendayung; dayung kanan, dayung kiri, dayung samping, pancung, manuver, dan yang paling penting dayung skipper. Skipper adalah pengendali arah perahu. Tidak seperti sopir alat transportasi lain yang sopirnya berada di depan, skipper arung jeram berada di posisi paling belakang. Ia tidak mendayung, tapi mengendalikan perahu ke kanan atau kiri, sekaligus pemberi aba-aba awak pengarung lain untuk melakukan dayung maju, dayung mundur, atau berhenti, atau menunduk [bum] menghindari akar/ranting yang biasanya menjulur di sisi-sisi sungai. Seperti kegiatan2 lain dalam olahraga pecinta alam, belajar arung jeram kali ini sangat asyik. Berkali-kali kami jatuh, salah, gugup dan berganjar digetok dayung di helm kepala kami oleh pelatih. Kami tertawa dan ditertawakan, jatuh lalu naik lagi, bergiliran jadi korban lalu jadi penolong, semuanya indah. Tak ada yang lebih berharga dari pengalaman, ia adalah guru terbaik.

Magrib menjelang dibarengi hujan, kami segera menepi untuk bergiliran masak dan shalat. Kami juga mendirikan tenda dan memasang fly-sheet. Kami duduk melingkari makanan kombinasi campur aduk mie dengan nasi, tempe, kerupuk, dan bekicot, dengan sayur sop yang dituang begitu saja diatas yang lain. Lalu kami pun khusyuk di satu2nya kegiatan yang sanggup membuat kami terdiam bersama-sama, makan. Merdu, merdu sekali. Tak ada yang lebih merdu dari suara kebersamaan, diiringi nyanyian alam tepi Situ Gintung, ditingkahi jeritan kodok dan dengungan nyamuk. Nyamuk?! Ah sial, kami akan kesulitan tidur malam ini. Para puan tidur di tenda, yang lain bertebaran di tikar di bawah fly-sheet dan saung-saung tepi Situ. Tentu saja dengan kemping akan lebih menghemat daripada besoknya kami harus datang lagi dan bayar transport dan tiket masuk, hehe..
Esoknya kami bangun pagi-pagi, usai subuh kami langsung pemanasan. Peregangan, joging, penguatan, lalu berendam dan menyelam. Setelah memakai perlengkapan kami berenang ke tengah dan naik perahu. Kami mengulangi lagi latihan kemarin, kali ini lebih serius dan lebih fokus kepada teknik pengarungan. Vijay dan Komeng, para ORAD-ers senior kami, mengingatkan bahwa latihan ini sangat berguna untuk keselamatan diri. Melakukan olahraga pecinta alam tidak seperti dugaan orang yang penuh bahaya, karena kami telah dilengkapi dengan peralatan dan dilatih dengan sungguh-sungguh. Olahraga ini berbahaya hanya untuk orang-orang yang tidak lengkap dan tidak terlatih. Kami pun jadi tambah semangat.
Sayang siang hari cuaca tidak bersahabat, hujan dan petir menyambar, Sekoneng tiba2 menghilang di balik kabut. Sementara kami yang berlatih sedang berada di tengah2 danau. Kami pun cepat2 mengarahkan Sekoneng ke tepi, lalu menjinjingnya [rigging] ke daratan. Tak mudah menggambarkan horor yang mencekam kala itu, tapi yang jelas pengalaman ini tetap indah untuk dikenang, walau tidak indah untuk diulang, hehe…
Lengkap sudah latihan kami hari itu, kami pun siap menyongsong Sungai Cisadane Atas, Sukabumi. But that’s another story.
*
27/03/2009
Kami sedih sekali melihat Situ Gintung, satu tempat kenangan kami, hancur luluh akibat jebolnya tanggul.
Pemukiman yang hancur itu, tempat kami dulu mengambil start renang demi mengemplang tiket masuk…
Di tepi danau yang luluh lantak itu, tempat kami memunguti bekicot2 dan membakarnya untuk disantap…
Di dasar danau yang surut itu, mungkin masih ada dayung kuning merek Boogie sialan pinjaman yang hilang itu…
Situ Gintung bisa hilang, tapi tidak kenangan kami, ia tetap tinggal selamanya, di kotak-kotak kenangan, di relung- relung hati kami, terus-terusan mengingatkan kami bahwa ia setidaknya pernah ada.

Nez kepada Noe…
Noe…
sedih banget gw denger lu DO
jalan yang mungkin lu ‘pilih’ sendiri
puas lu nyakitin hati gw, stapala, semuanya
lulus stan emang bukan segalanya
tapi kita tetap orang2 yang pernah berlari sama-sama
jadi mau gak mau kita tetap saudara..
-gw ga tau harus ngasi ucapan ‘selamat’ atau ‘semangat’, silakan lu pilih sendiri…-
Bcc: Di’i, semangat ya, Sis
Cc: Vijay, Rawon, Barong, Tian Feng, dan kita semua yang pernah berlari sama-sama…
Setelah pengumuman kelulusan semester genap 2008 kemarin (16/9/08)…
Selamat Menjalani Pernikahan
“Banyak orang yang tahu cara menikah, tapi tidak tahu cara menjalani pernikahan.” ~ Istikharah Cinta.
Akhir bulan ini, 2 dari 13 anak geng RHY bakal melepas masa bujangnya. Darno dan Surohman. Sebelumnya, sepasang insan yang dipersatukan di RHY, Erda dan Miko, memutuskan hal serupa. Yang paling duluan adalah Dian, dan yang terakhir adalah Tri. Meninggalkan sisanya; Bibah, Nez, Pampam, Tina, Andi, Imron, dan Topik yang belum laku masih jomblo betah melajang. ^^!
Darno akan menikah dengan Eni Dwi Susanti, akhwat Boyolali. Sedangkan Surohman akan menikah dengan Ani Mintoro Asih. Yaaahh…kayaknya kenal neeehhh, hehehe..
Barakallahu laka wa bara ‘alaika.
Selamat buat kalian.
Tulisan berikut adalah sebagai pengganti atas ketidak-bisa-hadiran yang bukan karena-tak-sayang tapi kalian pasti-tahu-lah alasannya. Dan kutipan diatas bukanlah untuk menakut-nakuti atau sikap pesimis. Gak tau sih, karena belum pernah menikah atau mengambil keputusan buat nikah, tapi sepertinya menikah bukan hal gampang, menurut buku itu. Selain buku-buku seperti Indahnya Pernikahan, Ketika Cinta Berbuah Surga, dkk.. sebaiknya perlu disimak juga buku2 seperti Bukan Pernikahan Cinderela, The Real Desperate Housewife, dkk. Yang pasti membekali diri dengan ilmu adalah penting.
Tapi tenang saja, tak menarik hidup tanpa hambatan, anggaplah kehidupan baru ini adalah sebuah tantangan, dan bukankah tantangan ada untuk ditaklukkan, setuju?
Dan apalagi kado yang bisa diberikan seorang sahabat yang suka mencampuri urusan orang menulis, selain tulisannya. Tapi Nez tak hendak menguliahi cara pernikahan yang baik, takut pamali, lagipula pernikahan yang Nez tahu adalah yang terlihat, bukan yang dijalani.
Buat Oman, yaelah Man, kenapa gak dari dulu2, ma temen sendiri ini. Buat Ani, Oman pria yang baik, agak pendiem, seingatku dulu sering dijadiin bahan isengan sama Topik, gak tau tu si Oman masih ‘utuh’ gak, ups..
Buat Darno, selamat bisa keluar dari ‘jejaring tak kasat mata benang kusut hubungan2 antar manusia tempat sekolah kita dulu’, ohoho… Doakan aku, No… Buat Mbak Eni, Darno nakal, hehe.. Gak ding. Darno manusia melankolis romantis. Sukanya The Moffats, koleksi jadulnya lengkap, sampai ketika The Moffats jadi Same Same, bahkan beritanya diikutin terus, tapi dia bilang ‘aku bukan maniak, lho…’ Duluuu, entah lah sekarang. Tenang saja Mbak, kata-kata Darno yang Nez ingat adalah “Satu Salah-satunya hal yang kusesali dalam hidup adalah pernah pacaran.” [Edit ~NeZ] Semoga dengan menikahnya dia bisa jadi manusia yang lebih baik. Amin.
Nah, sobatku Darno dan Surohman, selamat menjalani pernikahan.
~
RHYers, ayo ngumpul Lebaran di Jogja lagi yah..
Setahun yang Lalu
Hari ini setahun yang lalu..
Rasa haru menyesak di dada.
Perjuangan kami selama lebih dari enam bulan berbuah sudah.
Bukan. Bukan slayer merah atau nomor SPA yang kami inginkan.
Kami manusia baru hari itu. Kami bukan lagi diri kami yang enam bulan lalu..
Enam bulan kami berlari bersama, hampir setiap hari
Kami push up, sit up, back up, bending
Berguling-guling dan merangkak
Fisik kami ditempa
“Tak ada yang namanya keterbatasan fisik, yang membatasi hanya pikiran kalian sendiri,” kata Bang Jauhari terus terngiang-ngiang disaat kami merasa lemah dan tak sanggup lagi.
Mental kami diuji
“Dicaci, dimaki, dan dibentak-bentak,” kata sebuah lagu
Persaudaraan kami diadu domba
Ego kami diberangus
Kemampuan organisasi kami dilatih
Ide-ide bermunculan di bawah tekanan
Kritik disambut hangat
Pujian jadi pemicu
Empat belas pikiran, satu tujuan
Pengalaman yang memperkaya wawasan
Pelajaran menghadapi rintangan hidup
Perjalanan yang mendekatkan hati
Kesadaran akan kuasa Tuhan
Diklat Lapangan Gunung Kencana
Pengarungan Sungai Cisadane
Pendakian Gunung Salak
Pemanjatan Tebing Cidomba
Penelusuran Goa Asem
Bakti Sosial Anak Lapak Sarmili
Menjadi ‘Paspor’ kami memasuki organisasi Pecinta Alam STAPALA
tanggal 7/7/2007 kami berangkat untuk menjadi orang ke 810-824 dalam keluarga besar itu..
Selamat Ulang Tahun yang pertama angkatan 2007
Jekpot-810, Tongky-811, Ma’il-812, Gerwani-813, Pukon-814, Petot-815, Codot-816, Nesting-817, Bakwan-818, Rawon-819, Geplak-820, Grandong-821, Muladi-822, Odah-823 /SPA/2007
Dilantik tanggal 8/7/2007
oleh Cahyana Tri Raharja 591/SPA/99
di Sungai Cidahu, Kaki Gunung Salak
Semoga ikatan hati kita tetap dan selalu akan ada, selamanya…
~
Jrk0m07
Rykan uLtah angk’07.
Agnda:j0ging 2ptran,pushUp,sitUp,bending brg,msg2 2seri,gmn?
KmpL dp0sk0w,sLsa 8JuLi,jm05.30,NO TELAT!
Usai Subuh
Usai subuh.
Masih bergelung dengan selimut, sayup terdengar nada dering.
Sambil terhuyung, memicing mata, melihat sebuah nama, dan ah..
“Halo Om, Assalamu’alaikum…”
~
Menakjubkan bahwa, setelah bertahun-tahun, masih bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak, demi mendengar penuturan satir hidup, yang seharusnya disambut haru. Maka kesan adalah, sesuatu yang dibangun, bukan yang senyatanya terjadi.
Menakjubkan bahwa kebahagiaan bisa diciptakan awalnya, dari kesedihan. Seperti satu tambah satu sama dengan satu..
~
Hanyalah seorang bocah kecil usia TK yang naif, tak tahu apa arti kematian, belum kenal yang bernama kesedihan, tahu-tahu meledak dalam tangis, diantara orang-orang yang menggumam doa. Melepas kepergian Putri (Nenek), yang tanpa setahunya, semestinya justru sedang berbahagia, lepas dari sakit fisik maupun mental, dan meninggalkan dunia ini setelah tertidur. Tak ada keriuhan apalagi pertanda, hanya sudah tiba ujung usianya. Si bocah kecil perempuan dekil lagi naif ini, melesat diantara kerumunan, dan tiba-tiba melompat ke liang kubur…
Seperti biasa, ia bertindak sebelum berpikir, hanya tak ingin Putri-nya, yang ia cintai, dikubur.
Sesaat, hanya hitungan sepersekian detik, sebelum entah-siapa menangkapnya.
Si bocah masih meraung-raung dalam gendongan si-entah-siapa, disingkirkan jauh-jauh dari khusyuknya pemakaman.
~
Sepasang mata nanar menatap si bocah, si bocah balas menatap si-mata-nanar. Tahu sama tahu bahwa mereka sedang bersedih, hanya dengan ekspresi yang berbeda.
Seorang pemuda tanggung, pemilik mata nanar, memandang kehilangannya dengan diam. Seolah, ketika ibunya _nenek dari si gadis kecil_ tiada, separuh hidupnya pun dibawanya serta. Di hari-hari berikutnya, ia menangis, bukan dengan air mata, tapi dengan tangannya _dengan berkelahi_ dan mulutnya yang kasar. Kakung (Kakek), bapaknya, tak tahan dengan tingkahnya, mengirim si pemuda tanggung ikut kakaknya di kota lain.
Disanalah pemuda itu, bertemu kembali dengan si bocah kecil. Mereka memandang dengan mata yang sama, menatap kesedihan yang sama, dan sejak itu mencari kebahagiaan bersama. Sejak itu, pemuda yang baru masuk kuliah, dan gadis kecil yang masih TK, sering terlihat berdua; di pasar malam, di tempat bermain, di kampus, dsb.. membentuk kombinasi yang aneh, dan pasangan yang ganjil. Om adalah adik bungsu Ibu. Meski memanggil Om, tapi jarak usia kami tak terpaut jauh, sekitar 15 tahunan.
~
“Ih, Om. Jangan sentuh, habis wudhu ini..,” ketika kami hendak berjamaah.
“Sinih,” direngkuhnya tangan si bocah, “kamu itu cuman pipisku,” katanya, sebagai pengganti kalimat ‘kamu dan om (Paman)-mu adalah muhrim.’
Bertahun kemudian, ketika bocah sudah jadi gadis SMP, membelah kota dengan motor, seperti biasanya…
“Uhuk..uhuk.. Kok Om ngerokok sih,” sebenarnya batuknya hanya pura-pura, banyak teman laki-laki seusianya sudah merokok, dan ia tak merasa terganggu. Tapi si gadis merasa perlu untuk berpura-pura, sebagai simbol, karena kalau ia tak mengingatkan hal-hal baik, berarti tanda tak sayang. Dan karena sayang Om-nya, maka ia merasa perlu melakukan itu.
“Mau coba?”
Meski sudah jadi gadis SMP, ia tetaplah si bocah _yang pernah melompat ke liang kubur_ yang bertindak dulu baru berpikir, yang selalu tertarik mencoba hal-hal baru. Maka hari itu adalah pertama kali dan satu-satunya, si gadis naif mencoba rokok.
Maka Om-nya adalah pelajaran pertama si gadis mengenal pria.
Om-nya juga yang sering mengajaknya diskusi tentang berita yang ada di koran, tentang gadis manis tetangga yang ditaksirnya, tentang hidup, masa depan, dosa ibukota, krisis lubang ozon…
~
Setelah bertahun-tahun, lelucon yang sama masih membuatnya tertawa.
Setelah bertahun-tahun, diskusi tentang hidup terasa ringan, karena kami menciptakan kesan. Karena kesan adalah, sesuatu yang dibangun, bukan yang senyatanya terjadi. Satu hal yang kami pelajari, karena kesedihan kehilangan sosok Nenek dan Ibu.
Setelah bertahun-tahun pemuda itu menjadi ‘laki-laki’, ‘suami’ gadis tetangga, ‘ustadz’ mesjid kampung, ‘imam dan khotib’ shalat jumat dan kemudian ‘bapak’ dari anak-anak yang lebih bisa dibilang mengerikan daripada lucu, kenakalannya.
“Jangan sedih, jangan sepi. Om bakal sering2 nelpon kamu, Nduk. Mau?”
Yang Berasal dari Hati…
keping satu
“Telat?”
“Ya, Kak”
“Ada surat ijinnya?”
“Ada, Kak”
“Ya udah sekarang kamu jalan jongkok dari sini (posko STAPALA) sampai gedung F.”
“Mampus” -dalam hati-
Kenangan dengan Butho-757, Korlak Diklat yang irit senyum selama Diklat. Ternyata setelah kenal, oh… lepas semua jaim-nya. Banyak ketawa2 sendiri gak jelas.
Gampang dikerjain, bahan ceng-cengannya Nez dan Gery-813.
Butho-757 lepas dari image anak PA yang gak suka ngerokok, nongkrong, dan abai masalah agama. Sebagai
korlak diklat 2007, dia adalah panutan kami, siswa diklatnya.
“Every team needs a hero, every hero needs a team”
keping dua
“‘Habisin’, Ed,” kata salah seorang yang tiba-tiba lewat di depan kami. Malam itu, malam pelantikan, usai ‘dikompres’ di sungai Cidahu, Kaki Gunung Salak.
“Kamu dengar, siswa?,” tanya Zaed-780.
“Ya, Kak”
“Apa maksudnya?”
“Em.. mungkin Kakak disuruh marahin saya”
“Kamu berani nantang saya, hah?! Turun! (push up_red)”
Zaed, yang ternyata suka gak nyambung dan gak jelas kalau ngomong, tapi lucu, baik hati dan gak pernah marah. Kata favoritnya yang populer adalah ‘mbleyot’.
Zaed jadi pemimpin perjalanan STAPALA Leuser Expedition di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) akhir 2007 lalu. Gakdiragukan, Zaed adalah salah satu kebanggaan STAPALA.
keping tiga
“..semua harus datang jam 6 pagi besok. Jangan lupa sarapan dulu”
“Tanya, Kak. Gimana kalo gak kebiasa sarapan?”
“Mulai sekarang, biasain. Gak bagus itu kebiasaan gak sarapan, apalagi kita mau olahraga berat”
Razet-764, juga Ucup-791 adalah dua orang seksi acara di Diklat STAPALA. Seksi acara bisa dibilang yang paling ‘baik hati’ dengan siswa. Setiap pulang diklat, mereka nanya: ‘gimana kabarnya, gimana diklat hari ini, ada yang sakit gak..,’ hal2 yang buat kami, siswa, merasa didengarkan, dan ‘disambungkan’ suaranya dengan panitia yang lain, yang memang sedang diset ‘jaim’.
Razet juga yang waktu itu minta maaf sama Nez atas nama panitia, pas ‘bentrok’ sama Wulan-782. Hoho..
keping empat
Terlalu banyak ‘kenangan’ dengan Kobo-758, bukan saja bagi Nez tapi juga semua siswa, baik di angkt 2006, 2007, 2008. Kobo ‘menghabisi’ lebih dari separuh jumlah siswa diklat di hari kedua diklat kampus 2007, hanya dengan kata-katanya, haha..
Kobo salah satu even organiser kami yang jago, wawasan luas, dan relasinya banyak, dekat sama senior di angkatan atas2, juga sama anak2 mapala lain. Bicaranya ceplas-ceplos dan langsung, sering kritik dengan pedas, tapi juga membangun. Sering jadi sumber inspirasi kami. Oraders yang handal, dan ‘pelatih’ ORAD yang sistematis. Gara2 Kobo Nez gak takut jadi skipper _lebih tepatnya dipaksa_ Meski garang, ternyata si Kobo hatinya tempe, hobinya nulis puisi, haha…
Buat kalian berempat, selamat ya dah penempatan. Tulisan ini sebagai pengganti, dan permintaan maaf, karena Senin, 21 Juli 2008 malem gak bisa ikutan Makrab (Malam Keakraban) buat melepas kalian berempat.
Dah lama gak ngerasain rapat di posko _yang sering adu otot, hujan kritik pedas, saling menyerang, tapi justru itu yang mendewasakan kita, dan gak jadi pribadi yang anti-kritik_, makrab _yang isinya ngobrol dari hati ke hati, suka bilang suka, gak suka bilang gak suka, tapi semua demi kebaikan bersama_, jadi EO acara2 outbond, lingkungan hidup, bakti sosial, pecinta alam _yang berguna bagi masyarakat luas_, semua hal yang bikin ‘hidup lebih hidup’.
Balik lagi ke kalian berempat, selamat menempuh hidup baru di penempatan yang baru. Kemampuan survival-nya anak2 STAPALA benar2 diakui dan dihargai dimanapun kalian berada. Bila gunung, sungai, tebing, gua pernah ditaklukkan, penempatan hanyalah sarana buat mencari petualangan2 baru yang lain, yang lebih menantang, yang lebih ‘keluar kotak’, yang beda dari yang lain.
Oh ya, selain berempat ada Mel-775 _seksi P3K bersuara cempreng_, Tegil-809 _tandem Kobo adalah ‘penjahat’ siswa diklat, Uhe-768 _penakluk gunung2 di Jawa dan Sumatra_, Ebol yang di Aceh _dulunya mengundurkan diri dari seleksi atlet Leuser, sekarang mungkin bisa naik sana,Bol, Gadis-785_yang pernah nemenin lari pas pre-tes diklat, tanpamu, mungkin Nez da putus asa, Dis_ , Wulan-782 _cavers cewek yang tangguh_, Ocol-769 _dengan teori ‘burung’ dari novel Taiko-nya_, semua yang gak tersebut satu per satu, maaf..
Perjalanan dan pelajaran dari kalian semua…
semua yang berasal dari hati akan sampai ke hati…
makasih banyak..


kata kita