Archive Page 2

17
Sep
08

Nez kepada Noe…

Noe…

sedih banget gw denger lu DO

jalan yang mungkin lu ‘pilih’ sendiri

puas lu nyakitin hati gw, stapala, semuanya

lulus stan emang bukan segalanya

tapi kita tetap orang2 yang pernah berlari sama-sama

jadi mau gak mau kita tetap saudara..

-gw ga tau harus ngasi ucapan ’selamat’ atau ’semangat’, silakan lu pilih sendiri…-

Bcc: Di’i, semangat ya, Sis

Cc: Vijay, Rawon, Barong, Tian Feng, dan kita semua yang pernah berlari sama-sama…

Setelah pengumuman kelulusan semester genap 2008 kemarin (16/9/08)…

04
Sep
08

Selamat Hari Pengumuman STAN 2008: seperti dé javu

Apakah kamu seorang pendaftar STAN yang menurut pengumuman kemarin dinyatakan lulus? Atau  tidak?

Kemarin dipastikan baik situs resminya, maupun situs2 lain yang me-link pengumuman, juga Kampus STAN dan segala yang berhubungan dengannya, selain sms info penuh sesak. Banyak juga anak2 STAN yang dijadikan mata2 langsung, berharap dengan demikian dapat menerima pengumuman dengan secepat2nya…

Pengalaman Nes sendiri, Nes baru tahu kalau keterima STAN dari teman, bahkan Nes gak tau hari itu ada pengumuman STAN, hehe…  Pas pengumuman2 seperti itu, Nes seperti de javu.. . Bukan hanya pernah mengalami sendiri, tapi juga pengalaman teman2, adik, selain pernah jadi sukarelawan Pusat Pelayanan Informasi/PPI [2006], dan jadi pengawas  USM [2007].

Hari pengumuman STAN 2006, waktu itu Nes lagi kebagian tugas piket di Sekre BEM, hampir tiap menit ada telepon –kebanyakan sih- dari orang tua, yang kebanyakan lagi sih ibu2, atau ybs, rata2 seperti ini:

Nes : Selamat pagi BEM STAN, ada yang bisa kami bantu?

Penelepon : Anak saya nomor BPU sekian lulus STAN gak ya?

Nes : Maaf bu/pak, ini nomor telepon BEM STAN, silakan menguhubungi telepon Sekretariat STAN nomornya sekian sekian…

Penelepon : Tadi saya sudah nelepon kesitu, trus dikasih nomor telepon ini

Nes : -mengumpat dalam hati: sialan, sekre-

Karena saking banjirnya telepon yang masuk, kami yang piket si Sekre BEM sepakat untuk membeli kopian lembar pengumuman, yang harganya –ya ampun- Rp. 10.000, cuman beberapa lembar ini. Malah pas paginya ada yang jual sampai 50 ribu!! Nes sendiri ‘menodong’ teman Sekretariat STAN di Gedung L (Perpus) buat mengkopi salinan. Apa2an ahrus beli dengan harga segitu.

Hal ini terjadi bukan hanya di kampus STAN, dari pengalaman Andi, juga teman2 Nes SMA lainnya, di BPPK Jogja juga begitu. Sebuah momen yang tidak disia-siakan oleh para pengeruk untung dadakan, yang disambut pemburu informasi. Pertanyaan yang sedari dulu menghinggap, KENAPA? Sebentar atau lama dapat pengumumannya, apa bedanya? Kalau memang ‘bernasib baik’ keterima kan nanti juga tahu sendiri. Kalau dengan alasan mau tahu siapa saja yang keterima, kan nanti malah malu kalau sudah beli pengumuman mahal2 malah dirinya sendiri gak diterima, kan?!

Hari pengumuman STAN 2007 lalu, kali ini Nes sibuk mengamati dan memfoto2 saja, para pemburu pengumuman itu, terutama yang di kampus STAN. Waktu itu lagi jadi wartawan Warta Kampus punya BEM. Lumayan dapat berita2 buat ditulis2. Adik Nes, Risa juga sedang menunggu pengumuman STAN untuk yang kedu kalinya, dan tak diterima juga. Bagi yang dinyatakan lulus STAN 2008 hari ini, selamat. Buat yang tidak, bisa mencoba lagi sampai tiga kali.

Sekedar cerita. Banyak orang telah mencoba sampai tiga kali dan gagal. Yang lulus di kesempatan kedua, seperti, sebut saja Dini, yang rela melepas kuliahnya di universitas lain, dan ketiga, seperti sebut saja Adit, yang memilih bekerja dulu juga banyak. Banyak juga yang sudah diterima STAN, dengan berbagai alasan, tahun depannya ikut lagi. Si Een aka Dompu, ikut tes lagi dengan alasan bosan dengan jurusannya, hehe… ia lulus jurusan PBB, lalu tahun depannya pindah Perpajakan. Alasan ‘jaga2 kalau hasil UAS ternyata DO –Drop Out-‘ jadi alasan paling banyak anak2 ini. Beberapa anak STAN yang Nes kenal baik melakukan ini. Sebut saja Fandy, TIGA kali mendaftar STAN gara2 antisipasi DO, benar-benar DO, dan lalu lulus STAN juga TIGA kali, ketiga2nya di jurusan yang sama: Perpajakan, hehe.. Teman dan dosen sama-sama bingung, tahun ini dia tingkat satu, kok tahun depannya tingkat satu lagi, tahun depannya lagi, pas teman2 kenalannya di tahun sebelumnya sudah mau lulus, eh eh dia masih tingkat satu lagi, hehe… Nes sendiri sempat mengalami kuliah di dua jurusan yang berbeda, Anggaran [Kebendaharaan Negara] dan Akuntansi.

Gimana sih rasaya jadi anak STAN?

Kuliahnya sih biasa saja malah cenderung bosan, hehe… Kalau pas ujiannya, yah gitu deh, hehe… apalagi pas karya tulis. Mungkin karena persiapan jadi PNS, yang berorientasi bukan kinerja dalam menggaji, tapi absen, di STAN masalah absen juga ketat. Hati2 dengan dosen yang sekali pertemuan dihitung dua absen. Terus, demi alasan mempersiapkan aparatur negara yang bersih, JANGAN sampai ketahuan mencontek atau bentuk2 korupsi nilai lainnya, berperilaku menyimpang –silakan diartikan sendiri-, berambut gondrong, atau berbaju hijau terang, ehm… kalau gak mau namamu terpampang dalam pengumuman DO akhir semester.

Bosan dengan rutinitas? Banyak sekali kegiatan, mulai dari kepanitiaan2 dari kecil sampai besar [Daftar Ulang, Dinamika –ospek-, Wisuda] sampai UKM [Unit Kegiatan Mahasiswa, tentu selain lembaga2 seperti BEM dan BLM. Tapi realitasnya di STAN, jangan heran kalau dimana2 –kepanitiaan dan badan- kamu bakal ketemu dengan orang2 itu juga. Kenapa kah? STAN dengan lebih kurang dua ribu mahasiswa, adalah tipikal kampus yang apatis. Alasannya sih, takut kalau kegiatan kemahasiswaan bisa bikin DO. Jadi jangan heran kalau di kampus ini bakal ketemu dengan orang2 mirip buku berjalan, maaf, dan imbasnya ‘sepi’ ide. Tentu saja, bukan cuma itu alasannya, silakan cari sendiri.

Nes sendiri memilih BEM, lalu Panitia Wisuda , dan akhirnya STAPALA. STAPALA adalah wadah yang paling mengubah hidup Nes, paling banyak teman –terutama alumni dari tahun ‘80an- yang sangat membantu dari kuliah, setelah penempatan –seperti sekarang- sampai kelak kemudian hari. Pengalaman seru di STAPALA banyak banget, antara lain disini, dan banyak lagi di blog ini. Bagi kamu yang lulus, jangan lupa daftar STAPALA ya. Hehe.. loh kok malah promosi.

TPS 2 di Jalan Raden Intan, Way Mengaku, Liwa

TPS 2 di Jalan Raden Intan, Way Mengaku, Liwa

Kemarin juga, bertepatan dengan Pengumuman USM STAN 2008 juga terjadi PilGub Lampung. PNS se-Lampung diliburkan, tentu saja kantor kami -yang kantor vertikal- tetap masuk. Siapa pun yang terpilih, semoga bisa membawa Lampung ke arah yang lebih baik. Boleh lah di Liwa dibikin mall, atau paling tidak swalayan2 francise -seperti ****maret- itu, biar gak sepi2 amat. Ok, Pak..

28
Aug
08

Dari Gili Trawangan ke Mataram

Ketika Godwin bilang “Hari ini kita nginap di Gili Trawangan,” kami –yang terdiri dari Nes dan Ignal- langsung mengeluh dan memprotes. Maklum, sudah lima hari kami kemping di gunung, sudah bosan kami membongkar carrier, memasang tenda, melepas tenda, packing carrier lagi, jalan lagi…

Maunya hari ini ya leha2 di pantai trus malamnya tidur di kasur yang empuk di Mataram…

“Gak akan cukup waktunya, perahu hanya datang dua kali sehari,” lanjut Godwin.

Siapa yang turis asing?

Sebenarnya rencana langsungan dari Rinjani ke Gili Trawangan adalah rencana kelompok, tapi karena ada insiden

Dari Senaru kami naik angkot dua jam menuju pantai utara Lombok Barat. Walaupun menyeberang dari utara Lombok Barat, Bangsal Pemenang, ke Gili Trawangan tak lebih dari 45 menit, kami menunggu hampir 1,5 jam sampai perahu tradisional bermesin itu mencapai kuota minimal 20 orang. Perahu itu dimuati juga barang2 seperti kasur, sepeda, telur, makanan, dsb. Tarif perahu Koperasi Jasa Angkutan Wisata Bahari itu per orang sekali jalan Rp. 10.000, bisa juga dicarter. Perahu ini akan membawa kami melintasi dua gili [pulau] lain, Gili Air dan Gili Meno. Kedua gili itu juga resor dan tempat wisata, hanya saja Trawangan memiliki sarana yang paling lengkap dan beragam antara lain; scuba diving, snorkeling, kano kayak, dan berselancar.

Perahu yang meluncur memercikkan air laut ke muka kami, beberapa saat kemudian di wajah kami sudah ada serbuk2 kecil putih halus dan berasa asin, yaa kami telah membuat garam di muka kami, hehe.. Air lautan Lombok ini sungguh asin, paling asin yang pernah Nes tahu, tak heran kering sedikit langsung jadi garam.

Sudah lewat siang ketika kami sampai sana dan langsung jalan-jalan ke bibir pantai dengan masih mengenakan carrier. Bukannya dianggap aneh, rata2 orang bule disana malah ramah pada kami. Belakangan baru kami tahu bahwa rata2 bule yang berkunjung kesini adalah backpackers. Ya, mereka juga membawa2 carrier segede gaban seperti kami, mungkin kami dikira [atau memang] backpackers juga. Sepanjang pengamatan awal kami, kecuali pekerja hotel, resor, dan nelayan, tak ada turis lokal kecuali kami bertiga. Kami jadi merasa asing di negara sendiri. Benarkah ini di Indonesia? Siapakah yang turis asing, kami atau mereka? Hehe…

Snorkeling

Sepanjang mata memandang, tampak penginapan2 dari cottage, vila, sampai bungalo dari yang murah seharga Rp. 60 ribuan sampai yang bertarif dollar; resto masakan khas Indonesia, Cina, Eropa yang memampang menu berbahasa Inggris di depannya; tak ada kendaraan bermotor di pulau2 ini, sesuai dengan kebijakan adat setempat, sebagai gantinya sepeda dan kereta kuda/andong/dokar, yang di seantero Mataram punya panggilan imut, Cidomo. Sepeda disewakan per jam, sedangkan naik Cidomo keliling pulau dikenai tarif Rp 10 ribu per orang. Unik melihat para bule naik sepeda onthel, atau mini khas Indonesia. Jangan salah, sepeda model jadul itu justru yang paling laku disini. Dasar banci sepeda, Nes memohon2 Godwin untuk disewakan barang satu jam saja, maklum tak ada lagi duit di dompet, tapi Godwin tak mengijinkan. “Buat apa naik sepeda, udah mahal, capek lagi genjotnya, kita nanti naik Cidomo aja..,” tandasnya tegas.

'disogok' permen coklat, si Andre mau aja diajak ngobrol dan ditanya2 sama Godwin. Sepeda BMX sewaannya kayak yang di posko gak sih...

'disogok' permen coklat, si Andre mau saja diajak foto sama Godwin

Gagal merayu, Nes beralih ke deretan peralatan snorkeling yang juga disewakan. Sepasang fin dan goggle disewakan Rp. 15 ribu saja, harga untuk turis lokal. Lalu untuk pertama kalinya Nes mencoba ber-snorkeling. Susah ternyata harus bernafas lewat mulut, belum berenang, berkali2 dibawa mundur lagi oleh ombak yang besar. Pantai yang surut sampai karang menonjol2 di tepiannya berkali2 membeset kulit yang sudah luka2 ini. Tapi semuanya tak sebanding dengan pemandangan di bawah sana, indah!! Terumbu karang bentuk jamur, dengan ikan2 kecil, ubur2 menyelinap keluar masuk ruang2 karang. Katanya sih lebih indah agak ke tengah laut sana, dengan scuba diving. Angin yang menderu membuat sebagian turis berselancar. Kano kayak dengan satu atau dua pengayuh juga disewakan. Sebagian lain memilih berjemur, voli, bersepeda, atau melakukan atraksi pantai.

Capek, kami memutuskan untuk mencari penginapan. Di tengah pencarian, kami menemukan mesjid. Aha, berpikir untuk irit, kami lantas memutuskan akan menginap di masjid saja nanti malam. Kami lantas mandi, shalat dan menitip tas pada penjaga masjid, lalu pamit untuk mengelilingi pulau.

Rumah adat = dollar..

Banyak Cidomo juga sepeda lewat, tapi kami memutuskan akan jalan kaki barang beberapa langkah dulu sambil mengambil foto. Saat itu senja mulai tenggelam, objek yang sayang dilewatkan. Hari semakin malam, penginapan2 mulai menyalakan lilin2 dan lampu2 temaram, sedang kami terus menyisir pantai ke arah barat. Kami melihat penginapan dan hotel mewah, sampai rumah2 adat serupa honai, gadang, panggung bahkan joglo mini. “Nah, itu –sambil menunjuk gubug2 rumah khas Indonesia- yang bertarif dollar,” kata Godwin. Nes pun tak sanggup menahan tawa terpingkal2, ternyata bukan hotel berdinding tembok, dengan kolam renang dan fasilitas mewah, yang begitu mahal, tapi rumah2 jaman primitif dulu, hehe…

Kami pun terus berjalan, sampai ke tepi hutan. Yang kami tak tahu, kami telah melewatkan Cidomo terakhir, yang artinya kami harus jalan kaki mengelilingi pulau untuk sampai tempat kembali. Ya sudahlah, kami pikir tak terlalu jauh, apalagi Godwin bilang “habis hutan inilah ada perkampungan lagi.” Kata2 yang jauh dari kenyataan, nyatanya tiga jam lebih kami jalan dalam gelap gulita. Maghrib sudah lewat, dan penerangan satu2nya kami adalah senter kecil pantat korek [mancis] yang Nes beli di KRL ekonomi Jakarta-Rangkas Bitung dalam perjalanan ke pedalaman Badui seharga seribu rupiah! Ya iyalah, keliling pulau terbesar diantara pulau2 kecil di gugusan Mataram ini adalah 7,3 km!

Gara2 itulah kami jadi tahu kehidupan malam di Gili Trawangan ini. Banyak pesta digelar sampai pagi, komunitas backpackers yang menggerombol di cafe2, turis2 borju yang belanja barang kerajinan dan pijat refleksi. Tampak juga penjual/persewaan buku/novel, warnet dan wartel. Deretan resto seafood yang menjual lobster besar, kepiting, ikan segar dengan ukuran jumbo untuk dibakar, mengundang selera. Pastinya kami tak berani lebih dari melirik, karena harganya hohoho… Seperti halnya penginapan, tempat makan juga melimpah. Karena banyak backpacker, Nes menduga bahwa pasti banyaklah tempat2 makan berharga miring, dan ternyata benar. Kami makan besar malam itu; salad tomat keju, Ayam Betutu, Cumi asam manis, Ayam bumbu Bali, jus nanas, kopi Lombok latte, jus tomat, air mineral semuanya dalam porsi bule alias banyak banget dengan harga Rp. 50 ribuan per orang. Lumayan murah untuk tempat makan sekaliber itu.

Kami kembali ke basecamp alias masjid untuk istirahat malam itu. Penjaga masjid tampak tidur di sebelah carrier kami, tak terbangun ketika kami berisik mengambil kantong tidur. Godwin, Ignal memilih tidur di serambi kiri masjid, sedang Nes masuk di dalam masjid gelap gulita, tempat shalat putri yang dihijab dengan kain. Nes hampir terlelap ketika beberapa orang tiba2 masuk masjid. Mereka berbahasa Sasak dan dari pakaiannya sepertinya nelayan. Tiba2 saja ada seorang yang masuk di tempat putri itu dan bertanya –menghardik- dalam bahasa Sasak, membuat Nes telonjak dan berkata “Maaf, Pak. Saya numpang tidur disini.” Hening berapa saat. Sadar kalau perempuan, ia langsung pergi dan mengucap kata2 dalam bahasa Sasak yang kedengarannya seperti ‘permisi’. Agak terjadi keributan malam itu, penjaga masjid terdengar memberikan penjelasan kepada para nelayan, kemudian hening lagi. Tapi peristiwa itu -tambah bunyi dengkur- terlanjur membuat Nes tak bisa tidur sampai subuh.

Keliling Kota Mataram

Kami kembali ke Maratam dengan perahu paling pagi jam 7. Ada Cidomo, angkot, ojeg, carter mobil dan taksi untuk ke Mataram. Kami memilih yang terakhir. Di jalan, kami sempat mampir untuk memotret Pantai Senggigi yang terkenal itu, sayang tak cukup waktu -dan tenaga- untuk mampir.

Selain Senggigi, pantai terkenal disini alah Pantai Kuta Lombok. Kata orang2 termasuk Yusril Ihza Mahendra , pantai ini lebih bersih dan indah daripada saudara kembarnya Pantai Kuta Bali. Kabarnya pantai ini setiap tahunnya digunakan sebagai tempat upacara Bau Nyale Suku Sasak ~Wikipedia.

Godwin, Nes, Mbak Ratna di Karang Sukun

Godwin, Nes, Mbak Ratna di Karang Sukun

Selama di Mataram ini, Nes menumpang di rumah Mbak Ratna 680/SPA/2002 daerah Pagesangan Indah. Mbak Ratna dan Godwin inilah yang jadi pemandu Nes touring keliling Mataram. Mbak Ratna mengajak ke Pasar Karang Sukun, semacam Pasar Klewer di Solo yang menjual baju sisa impor atau baju 2nd layak pakai, bila jeli bisa mendapat barang bermerek yang masih berbandrol dengan harga super miring, terutama jaket bulu angsa. Daerah bernama Udayana, adalah lokasi nongkrong anak muda, warung2 lesehan -beserta pengamen jalanan bersuara merdu- seperti di Malioboro berjajar, dengan menu khas Sate Bulayak.

Pasar Kebon Roek di daerah Ampenan menjual ikan dan sayur mayur segar, tempat kami membeli sebagian besar konsumsi ke Rinjani. Daerah di belakang Mataram Mall adalah lokasi membeli kerajinan khas, kaos2, dan oleh2 dari Mataram. Mau yang lebih lengkap, ada di daerah Cakranegara. Ignal yang menyesal tidak beli badge bordir Rinjani di pos terakhir Senaru untuk dipasang di jaketnya, mendapatkannya disini.

Nes makan Ayam Taliwang yang super pedas itu pas reunian bareng2 sama kelompok naik Rinjani, sambil tukar cerita dan foto2. Mbak Ratna membelikan Pelecing, sejenis Pecel Jawa tapi bumbunya beda, pedasnya minta maaf… Nes cuman makan sesuap, maaf Mbak, habisnya…

Kena dkk yang tak ke Gili Trawangan jalan2 ke Mutiara Lombok, toko mutiara air tawar dan air laut di desa Sekarbela. Sabtu 2 Agustus 2008 sebelum subuh, dengan diantar Mbak Ratna, Nes harus bertolak ke Bandara Selaparang untuk pulang. Tenang aja Mbak Ratna, Nes pergi untuk kembali suatu hari nanti, hohoho… [Mbak Ratna: “oh tidak, jangan lagi Nes, cukup, ini adalah mimpi buruk...”].

Bahkan perjalanan hidup pun perlu berakhir, berhenti, kemudian lepas landas lagi suatu hari nanti, untuk bisa disebut perjalanan.

~

Dalam perjalanan ini Nes ucapkan maaf dan terima kasih pada

Ibu, bapak. Maaf. Semoga tahu dilema ini, kalau ijin terus terang pasti gak boleh, tak ijin sama sekali juga tak mungkin. –FYI: Nes ijin naik gunung, tapi tak bilang kalau Gunung Rinjani, Mataram-

Risa, Ifa. [Lihat komen postingan terakhir] Haih, aq jadi takut pulang nih…

Ren Refli Grandong-821 atas alat2 pendakian sebelum dan sesudah Rinjani, kita kesana kapan2…

Mbak Ratna-680 dan Mbak Ating atas tumpangan rumah, masakan yang lezat, mesin cuci, keramahan, lelucon, touring keliling Mataram…

Godwin BPM Lumbanbatu dan Saputra Ignal buat akomodasinya selama perjalanan, oleh2, obrolan2, tour guide…

Teman2 selama pendakian yang 16 orang itu, kelompok STAN dan Mbak Nisa-640

Barang2 survival kit yang tak pernah lepas dari tubuh: sebotol kecil air minum, gelas, sendok, korek api+senter, pisau, gunting, headlamp, plester luka dan betadine, CTM *obat alergi*, dan cokelat kecil2 pengganjal rasa lapar, baterai2 cadangan. Barang2 kecil, tapi sangat ampuh ni, sangat direkomendasikan!!

24
Aug
08

Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl-nya Nes (ketiga)

Indonesia, sebuah kepulauan yang terdiri atas 17.500 pulau, terletak di ujung barat Sabuk Api [Ring of Fire] yang hiperaktif. Inilah zona geofisika yang bergolak, pertemuan antara lempeng-lempeng tektonik yang beradu, melengkung sepanjang 40.000 kilometer melingkari Samudera Pasifik. Secara geografis, Indonesia adalah tempat yang unik dan sulit ditebak. Hanya di sini, begitu ramai orang yang tinggal begitu dekat, dengan begitu banyak gunung berapi aktif –diperkirakan 129 gunung…

~Dewa-dewa Gunung, National Geographic Indonesia.

28 Juli 2008, jalur Senaru dilahap api!

Sore pukul 15.11, setelah turun dari puncak, kami memutuskan untuk segera turun ke danau. Walaupun perjalanan turun biasanya lebih cepat dan mudah, tapi tidak kali ini. Batu-batuan besar, terjal, dan curam menganga di hadapan kami. Danau Segara Anakan, yang terletak 2.000 mdpl, seolah mengingatkan kami bahwa tidak ada sesuatu yang berharga dapat ditempuh dengan mudah, sebaliknya tak ada yang datang dengan mudah akan sungguh berharga.

Ketika kami sampai danau pukul 18.17, matahari sudah hampir tenggelam. Buru-buru kami mendirikan tenda, memasak air hangat, makan malam, sambil menunggu rombongan kedua. Mbak Nita langsung bersih2 badan di danau, sementara Nes setelah makan memutuskan buat tidur. Malam ini kami melihat jalur Senaru terbakar. Kebakaran merayap dengan cepat dan besar membuat kami agak pesimis dapat melewatinya lusa.

Meski di darat Nes hampir tidak pernah masak, tapi ternyata di gunung Nes termasuk yang banci masak. Gak bisa lihat kompor, pasti langsung nongkrong, hehe.. Gak heran Nes jadi partner setianya Fajar yang juru masak bagi kelompok ini. Pagi itu pukul 6.21 kami masak besar: nasi dengan lauk gorengan bakwan, mendoan, cumi goreng, sambal, dan sayur asam.

Lezat.

Menyusur Goa Susu dan Mandi di onsen

Madura dan Soni renang di danau dengan latar Gn. Baru Jari

Madura dan Soni renang di danau dengan latar Gn. Baru Jari

Pagi yang indah. Soni, Ignal, dan Madura berenang di danau dingin itu, sementara Bayu asik dengan pancing yang jauh2 dibawanya dari Jakarta demi mancing di danau ini. Kalau tidak bawa pancing, ikan karper, setengah kiloan satunya, bisa dibeli disini, 8 buah Rp. 50.000,- saja. Entah bagaimana penduduk lokal itu bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bayu sehari dua malam cuma dapat 3 ikan karper yang lumayan besar. Mau yang ‘lebih besar’ lagi, dengar2 sih ada monster ikan Loch Ness di danau seberang yang dipisahkan oleh Gunung Baru Jari dengan danau sisi yang kita tempati ini. Konon, sebelum meletus pada tahun 1994, gunung di tengah Segara Anakan itu baru sebesar ibu jari, makanya disebut Gunung Baru Jari. Sekarang, tingginya sudah 2.376 mdpl.

Usai makan, pukul 13.43 kami menuju Goa Susu. Terletak di bukit yang naik turun, perjalanan kali ini tak kalah sulit medannya. Bedanya, pemandangan jalur ini sungguh luar biasa indah. Sungai dangkal berdasar kekuningan karena belerang, berair hangat, membawa kami sampai ke mulut Goa Susu pukul 14.28. Uniknya, beberapa meter sebelum sampai goa, ada cerukan2 seperti kolam, yang tersekat2 dengan bebatuan, yang masing2 kolamnya memiliki kadar ‘kehangatan’ yang berbeda2. Ada yang hangat2 kuku, panas, sampai air mendidih yang terus2an mengeluarkan gelembung2 dan uap panas. Padahal kolam2 tersebut terletak sejajar, dengan ketinggian yang sama, hanya tersekat batu, tapi bisa beragam suhunya.

kolam bersekat batu yang ditujuk Fajar punya tingkat suhu yang berbeda2

kolam bersekat batu yang ditujuk Fajar punya tingkat suhu yang berbeda2

Dimulai dengan Soni yang nekat menyusur goa licin itu, hampir semua anak akhirnya mencoba masuk Goa Susu. Kata yang masuk, pemandangan di dalam luar biasa. Uap hangat menyembur dari langit2 goa, air terjun kecil membuat sungai kecil berair hangat mengalir di dasar goa. Air terjun yang membawa belerang ini berwarna putih seperti susu yang mengalir. Dinding goa juga berwarna putih, bahkan sampai dinding luar gua. Goa horizontal ini dangkal dengan lubang2 di sekitar dinding goa yang tembus ke sisi kanan goa. Di luar goa, selain terdapat air terjun –airnya dingin, terdapat tebing tinggi yang bisa dipanjat, sayangnya kami tidak membawa alat.

Sore menjelang ketika kami beranjak dari Goa Susu menuju Pemandian Air Panas, pukul 15.28. Kami harus kembali lagi ke tepi danau dan belok kanan, jalan turun lalu naik lagi sampai punggungan yang berangin kencang. Punggungan bukit ini yang membuat sebagian kami malas menceburkan diri di kolam air panas itu, angin kencang akan meniup tubuh kami yang bakal merinding disko kedinginan. Banyak turis asing, juga orang lokal yang menjadikan pemandian ini sebagai tempat pengobatan, maklum kandungan mineralnya tinggi, baik untuk kesehatan. Sama seperti kolam2 Goa Susu, untuk masuk ke Pemandian ini tidak bisa asal cebur, dimulai dari kolam yang suam-suam kuku, naik ke kolam hangat, baru kolam yang lebih panas.

Menyusuri Goa Susu

Menyusuri Goa Susu

Hanya turis Jepang, yang terbiasa dengan onsen di negaranya, yang berani2nya langsung cebur ke kolam panas langsung, hiiihh.. Belok kanan dari pemandian ini adalah lokasi pengambilan air. Kami mengisi perbekalan air untuk masak2 dan perjalanan besok yang kering kerontang dari sumber air.

Pukul 16.37 kami sudah duduk manis di depan tenda kami, melihat sunset. Banyak yang sudah terlelap sebelum benar2 malam, seperti Fajar, Dewa, dan Ignal. Mbak Nita membikinkan kami panekuk [pancake] dan wedang jahe untuk sarapan besok. Kebakaran masih melanda jalur Senaru, jalur yang akan kami lewati esok pagi.

Senaru, Jalur terlengkap

29 Juli 2008 pagi, pukul 10.11 kami memulai perjalanan lagi. Sebelumnya kami telah memutuskan untuk turun lewat jalur Senaru. Pagi ini, syukurlah api telah padam. Untuk turun lewat jalur Senaru dari danau, kami mesti naik lagi. Jalan naik kali ini tidak selandai jalur Sembalun. Setelah menyusur tepi danau, jalan mulai menanjak. Batu2 besar menghadang kami di Batu Ceper. Berikutnya, tebing2 besar menghajar. Di beberapa tanjakan, kami harus scrambling. Jalur Senaru ini bisa dibilang adalah favorit para Rock Climber. Di beberapa tempat sudah dipasang jembatan [pegangan] untuk membantu pendaki, kata Godwin tahun lalu belum ada.

Sisi danau yang terpisah Gn. Baru Jari baru terlihat setelh mendaki Jalur Senaru

Sisi danau yang terpisah Gn. Baru Jari baru terlihat setelah mendaki Jalur Senaru

Lewat jalur ini memang banyak menguras energi, bila lelah melanda silakan berbalik, terlihat danau yang berganti2 warna, kadang biru, kadang hijau, kadang bening atau pekat, bila sore warnanya memerah indah sekali. Dari atas sini juga tampak danau secara keseluruhan, juga kepundan [kaldera] Gunung Baru Jari. Puncak dari pendakian tebing ini, sangat terjal seperti tanjakan setan-nya Gunung Salak, adalah gerbang menuju Puncak [Plawangan] Senaru 2.641 mdpl. Kami sampai puncak pukul 13.37. Dari puncak belok kiri, ada jalur menuju Senthong, sedangkan kami mengambil jalan kanan. Puncak Senaru masih juga gersang, hanya disini lebih banyak batu2 datar.

Debu mengepul dengan jalan berupa kerikil kecil2, yang mengingatkan pada jalur menuju puncak Rinjani, hingga Pos 4 Cemara Lima 2.508 mdpl pukul 14.13. Petunjuk jalan memberi tahu bahwa perjalanan ke Pos berikutnya 1.3 km. Kami mulai khawatir karena persediaan air menipis. Sampai disini, bila Nes menyebut kata ganti ‘kami’ itu berarti tujuh orang: Ignal, Nes, Godwin, Mbak Nita, Madura, Ari, dan Dewa. Sisanya rupanya tertinggal lumayan jauh dari kami. Kena jatuh di tepian danau tadi dan sedang beristirahat di Batu Ceper. Mereka sampai di pos ini kira2 pukul 15.00 dan memutuskan untuk masak dan makan siang dulu. Sedangkan kami hanya istirahat minum dan terus jalan.

Pukul 14.54, dengan sedikit tergesa kami sampai ke Pos 3 Mondokan Malokak 2.000 mdpl. Dari pos ini, suasana gersang padang sabana langsung lenyap, digantikan hutan rimbun yang sejuk ala jalur Gunung Gede-Pangrango.

Godwin, jembatan bantu dan papan informasi

Godwin, jembatan bantu dan papan informasi

Ngomong2, Nes sangat terkesan dengan pos-pos di jalur ini karena sangat bersih, tempat sampahnya banyak, pos berupa gubug beratap seng juga tertata rapi. Satu pos bisa lebih dari satu gubug. Petunjuk jalan juga lengkap, seperti di jalanan kota besar saja. Petunjuk jalan berisi info tentang jarak tempuh antar pos, ketinggian dalam mdpl, info tentang vegetasi hutan, peringatan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian hutan lindung Taman Nasional Gunung Rinjani [TNGR], dsb. Salut untuk jaga wana yang telah bersikap profesional, karena belum pernah Nes mendaki di gunung yang informatif, rapi, bersih, seperti di Rinjani. Jalur Sembalun bagus dan bersih, tapi jauh lebih bagus, terawat, bersih, dan informatif jalur Senaru. Pantas banyak turis asing naik dan turun lewat jalur ini.

Pos 2 Montong Satas 1.500 mdpl 2,5 km kami tempuh tepat satu jam, pukul 15.54 kami sampai. Vegetasi di jalur ini semakin beragam, pohon kayu ada Durenan, Niar, Prabu, Klak, Keke, dsb… Perdu paling banyak adalah tumbuhan paku-pakuan. Antara Pos 2 dan Pos 1 ada pos bayangan karena jaraknya yang jauh. Pukul 17.16 kami sampai Pos 1 Jbag Gawah 915 mdpl. Langkah kami semakin ringan meninggalkan gunung yang sudah lima hari kami daki ini. Tak sampai setengah jam, 17.44 kami finish di Gerbang Plawangan Senaru. Bila kami banyak mengeluh karena jalur Sembalun begitu gersang dan panas, kami mendapat gantinya di jalur Senaru yang lengkap ini; melewati sungai, tepi danau, batu2an, tebing, jalan kerikil, padang sabana, lalu hutan lebat. Dari panas, berkabut, dingin, terang, hingga gelap. Ari, Madura, Mbak Nita sempat membeli minuman bersoda sebagai minuman Eureka, Dewa minum air pengganti ion, Godwin dan Nes memilih susu.

Eureka Nes!!

Eureka, Nes!!

Terpisah

Kami sempat ingin menunggu teman2, tapi karena hampir senja, kami memutuskan untuk menunggu mereka di basecamp saja. Perjalanan ke basecamp jauh, hingga pukul 19.36, sekitar 2,5 jam berjalan, kami baru sampai. Basecamp kami berupa warung yang pemiliknya mengijinkan kami untuk bermalam disana. Kami makan dengan lahap, lalu bersih2 dan mandi dengan sabun.

Dua jam kemudian, kami dikejutkan dengan sms dari mas Ivan yang mengabarkan sisa rombongan terpaksa bermalam di Pos 2 karena lelah baik mental maupun fisik, ditambah gelap tanpa senter yang memadai. Kami sungguh khawatir karena semua tenda terbawa kami, belum makanan dan air yang mulai menipis, ditambah dingin yang menusuk. Belakangan Kena cerita, mereka tidur di gubug Pos 2 dengan matras disusun tegak sebagai barikade terhadap angin, saling merapat dengan kantong tidur, dan makan buah2an: apel, pear –yang sedianya akan dimakan sebagai makanan Eureka, merayakan turun puncak Rinjani. Maria dan Soni tetap berjalan ke basecamp karena didukung senter, dan tiba sekitar pukul 00.00. Untuk pertama kalinya dalam lima hari perjalanan ini kami tidur terpisah dan gelisah.

Esoknya, Soni dan Fajar membawa makanan dan minuman hangat kembali menuju Pos 2. Ketika rombongan kedua sampai basecamp siangnya, mereka tak akan menjumpai Nes, Godwin, dan Ignal yang pamit untuk melanjutkan petualangan selanjutnya di salah satu pulau eksotis Lombok, Gili Trawangan.

16
Aug
08

Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl-nya Nes (kedua)

“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia tidak guncang bersama mereka, dan Kami jadikan pula di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk”~QS 21:31

Usai packing, pukul 10 pagi, kami berangkat dengan angkot dari Mataram ke Desa Sembalun Lawang. Selain kami, angkot penuh dengan ibu-ibu suku Sasak pedagang sayur dan ikan di Pasar Desa Sembalun. Paham bahwa kami akan mendaki Gn. Rinjani 3.726 mdpl, ibu-ibu itu mulai menceritakan macam2. Tentang pendaki baru2 ini yang tersesat, tentang dongeng Rinjani, diselipi pesan untuk selalu menjaga omongan dan perilaku ketika mendaki. “Keramat,” kata mereka. Sebagian terhibur, dan tertawa2, sebagian lagi –yaitu Nes- malah merasakan kecemasan yang mengada-ada… ^^’
Memasuki Desa Sembalun yang sejuk berkabut, terlihat bertaburan rumah-rumah kaca yang ditanami buah-buahan: strawberi, apel, pear, dsb yang bisa dibeli di tempat. “Milik [investor] Jepang,” kata seorang ibu pada Nes tentang kepemilikan kebun itu, “kalau milik orang desa itu tuh, bawang putih.” Lanjutnya “Bawang putih yang betul asli berasal dari sini. Kalau ada penanam bawang putih di daerah lain itu bibitnya pasti dari sini,” jelas ibunya, entah kebenarannya.

Penting vs Nyaman

Tiba di Pos Lapor di Desa Sembalun Lawang pukul 13.05, kami tertegun oleh kerapian dan keinformatifan pos ini. Informasi tempat wisata, flora dan fauna, info jalur disajikan dua dan tiga dimensi [maket miniatur gunung] ada di pos ini, ditulis bilingual: Indonesia dan Inggris. Bila membutuhkan jasa porter dan guide, bisa disewa juga di tempat ini. Guide dan Porter juga bilingual lho, maklum selain dari kelompok jaga wana, banyak juga mahasiswa yang menyambi jadi guide. Jasa porter disini selain mengangkat barang, juga mendirikan [dan membongkar] tenda, packing, bahkan memancingkan ikan dan masak. Porter dapat disewa Rp. 85.000 per hari, dengan rata2 pendakian 4-5 hari. Kalau mau sewa porter ‘setengah’ pendakian [pas naik saja, minus turun] saja juga bisa. Gak perlu malu menyewa porter, sebagai informasi saja, hanya pendaki2 muda dari Indonesia saja yang mau berat2 bawa carier sendiri. Banyak yang membawa keluarga termasuk anak2nya yang masih kecil untuk ‘piknik’ dengan mendaki Rinjani. Sebuah keluarga yang Nes temui, bahkan bawa WC portable, lampu dan genset mini. Halah… *Boleh dunk, nitip nge-charge hape?! Hehe..* Bagi mereka, naik gunung iya, nyaman teteep. Bulan ini sebagian besar pendaki adalah turis asing, dan mereka cukup bawa daypack dan ski pool, porternya orang2 setempat. Itupun mereka masih becanda dengan bilang “where is the helicopter?” Ngeliatnya seakan liat Indonesia jaman penjajahan deh… Kami yang memutuskan buat ‘repot2 bawa carrier’ ini tentu mengutamakan membawa yang ‘penting2’ daripada yang ‘nyaman’. Kita mau emm… naik gunung, kan?!

Kami didaftar lalu membayar karcis masuk, seharga Rp. 2.500,- dan mendapat Tiket Masuk dari plastik mika untuk digantung di tas, bukti bahwa kami resmi jadi pendaki Rinjani. Meski jalur asli Jalur Sembalun terletak di sebelah pos lapor, kami masih mengangkot lagi untuk ‘memotong’ jalan, jalur baru, yaitu dari Boak Nao. Kelebihan jalur ini mempersingkat jalan, kekurangannya, kami akan melewatkan kebun stawberi, padang rumput, dan sebuah hotel ?? *garuk2*. Seusai shalat dhuhur, pukul 14.00 kami jalan. Jalan berkabut, tak tampak lereng apalagi puncak Rinjani, hanya kaki gunung saja. Jalanan mendaki, tapi landai, dengan kanan kiri padang sabana yang kering gersang. Untung saat itu mendung, jadi tidak panas. Kami sampai di Pos 1 [satu-satunya pos yang anonim] pukul 15.59.
Kami jalan lagi dengan semangat bahwa pos berikutnya tak kan lebih lama dari sini, dan ternyata benar. Kami tiba di Pos 2 Tangengean pukul 17.13. Di pos ini terdapat mata air yang penampungan airnya berupa bak yang telah disemen. Dibangun pula jembatan kokoh yang tampaknya menghubungkan dua sisi, dan di bawahnya tampak bekas sungai yang mengering. Sungai ini dulunya tempat wisata yang bagus [lihat foto di Pos Lapor], entah kenapa mengering, meninggalkan batu dan jejak pasir warna gelap. Kami beristirahat, membuat teh, membuka bekal nasi dari rumah, dan mengambil air. Ingat, pos berikutnya sampai habis perjalanan satu hari penuh tidak ada lagi mata air.
Senja merayap ketika kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, dan benar2 gelap ketika sampai Pos 3 Pada Bolong pukul 20.44. Dalam perjalanan ini, Ari terpeleset, tangan kirinya keseleo dan tak bisa digerakkan hingga akhir perjalanan nanti. Sampai pos, kami mendirikan tenda dan masak. Makanan hari itu istimewa: nasi, sayur dari frozen food yang dipanaskan dan sayur sawi putih racikan sang koki, Fajar, dan rendang yang dibawa Dewa, nyam nyam… Disinilah kami mulai membaur, mempersempit jarak, tampak semua sifat2 asli kami. Mudahnya menilai seseorang memang dari perjalanan naik gunung, karena disanalah tampak kepribadiannya yang sebenarnya. Kami akan beranjak tidur ketika datang 5 pendaki lain yang nantinya akan menginap bersebelahan dengan kami, dan akan terus begitu hingga beberapa hari berikutnya.

Fajar menyingsing di Pos 3 Pada Bolong
Fajar menyingsing di Pos 3 Pada Bolong

Sampah, dibawa atau dibakar?

Kawanan monyet berisik membangunkan kami pagi itu 27 Juli 2008. Kami bersegera masak, makan, lalu packing. Setelah itu kami menggelar operasi semut [mengambil sampah2 non organik]. Tak seperti biasanya ketika mendaki bersama STAPALA, Nes agak kaget mendapati rombongan ini selalu membakar sampahnya, bukannya membawa. Bagusnya di setiap pos di Rinjani selalu ada bak sampah, terbuat dari beton dan disemen. Mungkin inilah kenapa jalur pendakian Rinjani, berbeda dengan gunung2 lainnya, relatif bersih dari sampah. Di pos2 berikutnya yang lebih terawat, selain terdapat lebih banyak tempat sampah, juga disertai plang tulisan yang kira2 berbunyi “Pastikan Anda tidak meninggalkan sampah di pos ini sebelum melanjutkan perjalanan. Terima kasih.” Yang jadi masalah, sebaiknya sampah dibawa atau dibakar? Nes cenderung membawa sampah, seperti kebiasaan bersama STAPALA, tapi mungkin membakar sedikit bisa mengurangi beban bawaan. Sampah dibakar akan menghasilkan ‘sampah lain’ yaitu polusi udara, dan karbondioksida hasil pembakaran akan membumbung tinggi, melubangi ozon. Dibakar atau dibawa memang pilihan, tapi tujuannya sama, bertanggung jawab atas sampah di gunung. Menurutmu?
Pagi itu, seekor monyet memungut sampah yang baru dibakar, berlari membawanya dan melepasnya di rumput kering. Rumput itu segera terbakar dan merambat, menyusahkan Bayu, Soni, Fajar yang berlarian mengejar si monyet dan memadamkan api…

Monyet memunguti sisa2 nasi
Monyet memunguti sisa2 nasi

Ketemu saudara se-SPA

Setelah berdoa dan toast bersama, pukul 9.17 kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan ini akan melewati apa yang disebut Tujuh Bukit Penyesalan. Perjalanan kering, gersang, panas dan berdebu, hanya manyisakan pemandangan kanan kiri padang sabana ini menanjak, lalu menurun, lalu menanjak lagi, sehingga mendapat julukan seperti itu. Tak ada pos sebelum pos terakhir menuju puncak, Pos Plawangan Sembalun setinggi 2.639 mdpl. Tak ada mata air sepanjang perjalanan ini, sementara panas dan gersangnya melelehkan keringat kami. Untungnya pemandangan bukit2 itu sangat menawan bak lukisan alam. Semakin ke atas, kabut naik melingkupi kami, membawa muatan air. Segeralah berjalan kalau tidak mau tiba2 basah kena embun. Semakin ke Plawangan, semakin gundul tanah, hanya sedikit pepohonan, dan terpaan angin semakin kencang menderu-deru.
Nes mendapat ‘tamu’ tak diundang, ‘tamu bulanan’ yang membuat tak nyaman, tak bisa duduk istirahat. Kepala sudah pening sejak naikan tadi, dan kontrol emosi yang menurun. Perjalanan hari kedua ini Nes lebih banyak jalan sendiri daripada menggerombol, jalan lebih cepat dan terburu, menjaga jarak dengan teman di depan dan belakang Nes. Makanya tak heran, meski menurut catatan Nes sampai di Plawangan Sembalun pukul 14.25, rombongan lain baru datang 2-3 jam setelahnya. Maaf, bukan berniat meninggalkan, hanya, seperti kata Bayu “karena ada yang dicemaskan,” hehe…
Ngomong2, karena Nes jalan duluan, Nes bareng dengan lima pendaki yang menginap di tenda sebelah kami malam tadi. Seorang dari mereka, cewek, yang beberapa kali sempat mengambilkan foto Nes, tiba2 bertanya, “Ini –gantungan kunci perak logo STAPALA- dari mana?”
“Dari STAPALA,” jawab Nes. Melihat mbak-nya agak bengong dan terdiam, Nes menambahkan “STAN Pecinta Alam.” Tiba2 “Kyaaaaaa,” teriaknya “AKU JUGAA.” Halah… jauh2 ke Rinjani, Mataram, ketemu juga sama anak SPA. Nisa-680 kali ini naik Rinjani dengan anak STAN lainnya , tapi bukan STAPALA, telah nge-camp di samping kami sejak kemarin, berjalan bersama hampir seharian ini, tapi kami baru tahu kalau ternyata kami ‘satu keluarga’ gara2 gantungan kunci ini, hehe… Setelah mendirikan tenda, masak, makan, menjerang air, sambil menunggu rombongan, Nes pun ‘bertamu’ ke rombongan anak2 alumni STAN penempatan kantor pusat itu, ngobrol sana sini mengenang almamater dan STAPALA. Setelah dua hari pendakian, sering kali berpikir andai naik Rinjani kali ini dengan Gery, Isma, Rian dan anak2 STAPALA lain, pasti beda ceritanya, dsb pertemuan dengan Mbak Nisa 680 kali ini benar2 pengobat rindu. Kami pun bak telah mengenal lama, saling berpelukan dan bercerita, Plawangan Sembalun terasa seperti posko…

Maureen yang sedang mengambil foto, diambil fotonya oleh Godwin..
Maureen yang sedang mengambil foto, diambil fotonya oleh Godwin..

Pos ini indah bukan main. Bila melihat ke atas, tampak jalur mendaki puncak, dan puncak Rinjani. Bila melihat ke bawah, tampak danau Segara Anakan dan Gn. Baru Jari 2.376 mdpl. Pas di garis cakrawala, tampak puncak Gn. Agung 3.142 mdpl yang simetris, segitiga sama kaki. Kata Madura yang sudah tiga kali naik Gn. Agung, naik gunung ini tidak ada ‘bonusnya’ sama sekali, alias menanjak terus tanpa ada jalan datar atau menurun [bonus]. Akibatnya, tak seperti gunung2 lain yang tampak ‘mbleyot’ naik turun, gunung ini terlihat seperti gambar gunungnya anak SD, garis lurus ke atas, lalu garis turun ke bawah…

Ketemu bule? Sapa saja..
Di pos inilah kami melihat betapa turis asing, bule Amerika dan Eropa, Cina, Arab, Jepang jumlahnya lebih banyak dari pendaki lokal. Mungkin karena di barat saat ini sedang libur musim panas [summer]. Bedanya bule dengan kami, selain tampang dan postur tubuh, adalah –tentu saja- ketahanan mereka terhadap dingin. Mereka tampak hangat seperti ‘di rumah sendiri’ sementara kami terus2an meler, berjaket tebal dan menggigil, sangat katro’ hehe… Tapi tak beda dari kami, mereka juga asik mengabadikan pemandangan sunset. Orang2 serumpun dengan kita, Melayu, seringkali kami sapa dengan bahasa Indonesia. Nes bahkan pernah sotoy nyapa2, eh yang disapa cuman senyum, taunya pas tanya porternya ternyata orang Filipina, hehe…
Pernah juga Nes dan Godwin beberapa kali menyapa bule, tapi yang ditanya juga hanya senyum dan ketika ditanya dia tidak menjawab, hanya mengendikkan bahu. Salah kaprah kami yang berpikir bahwa semua [orang bertampang] bule bisa berbahasa Inggris, karena banyak juga dari mereka negaranya bukan berbahasa Inggris, dan bukan native [speaker], hehe.. Ya maaf.
Ternyata etiket mendaki gunung sama, yaitu salinglah menyapa. Tak peduli bahwa bule Eropa dan Amerika kalau di ‘darat’ acuhnya bukan main, atau orang Melayu dan Cina yang kita paling sering bertengkar pas di ‘darat’, tapi di gunung, semuanya saudara kok. Mereka mendadak dangdut ramah pada kita, orang Indonesia. Makanya tak perlu ragu2 menyapa duluan, tatap mata mereka. Menurut mereka, sikap malu2, menunduk, segan kita membuat mereka berpikir kita bangsa yang bermental lemah dan tak percaya diri. Walaupun sekali lagi ‘di darat’ mungkin kita memang seperti itu, tapi di gunung, silakan sombong sedikit. Kita ini yang punya alam mempesona Rinjani, bukan mereka, kok?!

Belum tentu diantara mereka fasih bahasa Inggris

Belum tentu diantara mereka fasih bahasa Inggris

“Ternyata Indonesia sangat terkenal, ya” adalah pikiran Nes hampir sepanjang jalan. Bayangkan, hampir semua etnis ada disini, dan banyak dari mereka berasal dari negara seperti Slovenia, Chechnya, Belgia, Canada, Austria, Switzerland –sering2 aja nanya “where are you from” dan dapatkan jawaban2 yang mengagumkan, yang biasanya cuma kita baca di buku atau koran. Tak perlu bahasa Inggris yang mumpuni, asal tau saja. Nes mendengar dari mereka bahwa ternyata orang Indonesia, tidak seperti perkiraan mereka yang bodoh dan terbelakang, ternyata bisa bahasa Inggris dan lumayan fasih mengucapkannya. Tentu mereka merujuk khususnya pada porter2 dan guide, tapi juga pendaki Rinjani.
Dalam pendakian ke puncak paginya, Nes bertemu dengan bule yang berbicara dengan bahasa asing bukan Inggris, yang sebelum selesai bicara sudah dijawab, jadi tampak aneh, tapi geli, aksennya kedengaran ganjil. Tak bisa menyembunyikan penasaran Nes bertanya bahasa apakah yang mereka pergunakan. “Chech,” jawab salah satu dari tiga bule cewek itu. Mereka tampak antusias, lalu kami pun mengobrol dengan bahasa Inggris, tentang Rinjani, danau di bawah, jalur ke puncak yang tampaknya sempit dan curam, membuat mereka ragu untuk melangkah..
They,” tunjuk Nes pada cahaya2 senter kerlap kerlip di jalur puncak,”everybody can reach the top, so why can’t us?” kata2 seperti mantra, dan keesokan paginya Nes menyesal telah berkata sombong seperti itu.

People don’t lack strength, they lack will
“Dari 14 kali mendaki Rinjani, hanya 3 kali aku sampai puncak.”~Mbak Nita

“Butuh 7 kali naik Rinjani dulu, baru saya berhasil naik sampai ke puncaknya.”~ seorang guide cowok lainnya.

Dini hari 28 Juli 2008 sekitar jam 1 tampak kesibukan luar biasa, hampir semua tenda ribut, apalagi kalau bukan karena persiapan menuju puncak. Ada batasan, bahwa karena Rinjani masih aktif, maka puncak boleh didaki tak lebih dari sampai jam 10 pagi, lebih dari itu, gunung akan mengeluarkan belerang yang beracun. Pukul 2.36 rombongan kami dengan jaket, senter, sedikit logistik mulai berjalan menuju puncak. Tenda, dsb kami tinggal di pos, dengan Ari, yang tangannya masih cedera, berinisiatif buat menjaganya. Sebenarnya tanpa ada yang menjaga, membiarkan tenda di pos tak berbahaya, asal semua barang masuk, lalu pintu ditutup. Hanya untuk lebih amannya, lebih baik bila dipasang gembok.

Jalanan menuju puncak adalah melulu kerikil dan batu2. Angin kencang menderu tanpa aling2 pepohonan membuat jalan kami terhuyung-huyung. Perjalanan penuh kerikil ini akan menjadi perjalanan puncak paling berat yang Nes alami. Masalahnya, apalagi kalau bukan ‘kebandelan’ dengan mengandalkan sendal gunung dan kaus kaki. Beberapa saat setelah terbenam dalam lautan kerikil, dan kerikil2 nakal itu menyusup antara celah sendal dan kaus kaki, mengakibatkan sakit dan tak nyaman, Nes memakai cara andalan Muladi-822, yaitu lepas sendal. Mulanya sih kaki terasa lebih nyaman, seperti dipijat lah, lama2 kok ya seperti diakupuntur!!!

Sampai di daerah yang disebut Letter L, tandanya adalah danau sudah kelihatan, kami mulai perjalanan Jalur Putih. Jalur ini sempit memanjang, landai sekaligus curam karena di kanan kirinya jurang, gundul tanpa pepohonan, angin lebih kencang dari sebelumnya, kerikilnya berwarna putih tajam. Rombongan ‘gemuk’ kami yang enam belas orang terbagi dua tanpa konsensus. Yang paling depan adalah Ignal, agak jauh dibelakangnya Nes dan Godwin, jauh lagi di belakang kami Madura, lalu Dewa. Mbak Nita memutuskan berhenti sampai Letter L. Sisanya berselisih satu jam. Dengan formasi seperti itu, ketika Godwin, yang berinisatif membawakan sendal Nes, tiba berjalan cepat menyusul Ignal, Nes benar2 total berjalan sendirian. Kami bertiga seperti parade kejar mengejar: Ignal mengejar sunrise, Godwin yang lapar mengejar makanan yang dibawa Ignal, Nes mengejar sendal yang dibawa Godwin…

Semburat jingga mulai tampak di sisi kiri jalan, ketika Nes berada pada titik psikologis. Berjalan hanya dengan kaos kaki yang sudah koyak, telapak kaki penuh luka baret dari kerikil yang tambah keatas tambah tajam, pergelangan kaki masuk ke lautan kerikil membuat susah berjalan naik tanpa terperosot turun kembali, sendirian lagi. Lebih dari sejam kemudian, Nes mulai ‘berjalan’ dengan lutut dan telapak tangan, alias ‘gaya monyet’. Walaupun kini tambah luka di tangan dan memar di lutut, tapi cara ini efektif dapat menahan tubuh agar tidak merosot turun ketika mendaki. Tetap saja terdapat kesalahan terbesar Nes dalam mendaki puncak Rinjani ini, yaitu tanpa sepatu!!! Dalam kondisi payah ini, Nes tak lagi berpikir lain kecuali niat ke puncak.

Madura tiba, mengulurkan bantuan menarik Nes dengan webbing. Maka dimulailah perjalanan gaya baru menggantikan gaya monyet. Madura yang berbadan kecil berkali2 terperosok turun lagi ketika menarik Nes. Kami berjalan pelan sekali hingga daerah Letter A, meski demikian, sisa rombongan di belakang kami berjalan jauh lebih pelan.

Nes tercatat menginjakkan kaki di puncak tanggal 28 Juli 2008 jam 7.27 WITA

Rasa haru tiba2 merayap. Ini adalah perjalanan puncak tersulit bagi Nes. Sujud syukur bagi Allah yang telah mengaruniakan pemandangan dan pelajaran hidup sebegitu nyata dan indah di hadapan hamba-Nya ini, yang tak semua orang beruntung dapat melihatnya. SubhanAllah…

Kami berpose bersama bule di puncak kemenangan 3.726 mdpl

Kami berpose di puncak kemenangan 3.726 mdpl

Setelah mengabadikan momen Eureka! Ini, pukul 8.57 kami turun. Dalam perjalanan turun hampir semua dari kami tersasar ke lautan kerikil dalam, walaupun akhirnya berhasil keluar, hal ini sempat membuat tegang juga. Apalagi jalan turun ini Nes hanya dengan Mas Nova, yang dengan baik hati mau menukar sepatu dengan sendal Nes. Juga Dewa yang setengah menyeret turun Nes yang berkali2 mengaduh kesakitan dan memilih menutup mata.
Ketika yang lain sedang sibuk bercanda, masak, makan, dan menceritakan pengalaman individu ke puncak Rinjani yang berbeda2 dan luar biasa ini, Nes malah sibuk mencungkil2 kerikil2 yang masuk2 ke telapak kaki…Maka benarlah bahwa tidak ada manusia yang kurang kekuatan, yang ada hanyalah kurang niat. Tidak ada keterbatasan fisik, hanya kurangnya akal…

Diposting di rumah Semarang, 16 Agustus 2008. Pulang!!

10
Aug
08

Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl-nya Nes (pertama)

Senja di Plawangan Sembalun 27/07/2008. Tampak di garis horizon puncak Gn. Agung 3.142 mdpl [Bali], di bawah tampak Segara Anakan dan Gn. Baru Jari 2.376 mdpl

Benar kata Trinity dalam The Naked Traveller, saat sudah merasa jenuh bekerja dan kalau setiap bangun pagi merasa malas luar biasa, ini saatnya harus pergi berlibur. Sayangnya ‘undangan’ untuk pergi berlibur kali ini datang dengan sangat mepet – dua minggu sebelum hari H -, dengan tujuan yang ekstrem – Gunung Rinjani -, peralatan naik gunung yang tercecer – di Jakarta -, persiapan fisik yang kurang – cuma dua kali seminggu jogging -…
Alhasil selama dua minggu itu Nes belingsatan sendiri, duduk gak tenang, makan gak enak, telpon sana-sini, googling2 dalam rangka perencanaan. Ingat kata pepatah, “gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal”. Sayangnya, jarang sekali pendaki Rinjani yang pernah menulis tentang rencana perjalanannya di internet, jadi agak kesulitan untuk menyiapkan semuanya, sendiri lagi. Tapi disini serunya, merencanakan petualangan ternyata sama dengan petualangan itu sendiri.

Berapa duit?
Paling banyak menyerap dana adalah transport, lalu logistik [baik berupa peralatan pendakian, konsumsi, maupun obat2an], oleh2, lain2 [jalan2, wisata kuliner, dsb].

Berapa lama?
Mumpung ke Mataram, Pulau Lombok, yang terkenal eksotis itu, rugi kalau cuman ke Rinjani. Nes memasang target waktu bisa menjelajah tempat2 wisatanya, makan makanan khas-nya, tempat beli oleh2 khas-nya. Jumlah cuti tahun ini hanya tujuh hari, jadi setelah hitung2an, Nes ‘terpaksa’ mengambil hari bolos – dengan resiko potong gaji tentunya – hehe.. Hasilnya dengan 4 hari cuti, dua hari bolos, satu hari libur besar, dan ijin setengah hari, Nes dapat total 12 hari. ^^’

Naik apa?
Ada dua alternatif, ngeteng naik kereta, atau pesawat. Kedua2nya yang pasti harus via Jakarta. Ngeteng naik bis-kereta-pesawat akan makan waktu beberapa hari – sayang waktu jalan2 jadi berkurang – jadi Nes putuskan buat naik pesawat saja. Karena di Liwa tidak ada agen perjalanan dengan pesawat –atau Nes belum tahu ya- yang jelas satu2nya sarana buat pesen tiket hanya lewat internet. Ternyata hanya satu tiket yang bisa dipesan online dengan ATM kartu Debit, dan harganya terjangkau, maka tak ada pilihan lain selain mengambil yang ini.

Bawa apaan aja?
Selain tiket, peralatan pribadi, dan excess cash, kita perlu… peralatan pendakian, dong!! Namanya juga naik gunung, hehe… Yaa udah tahuu… Tapi tahukah teman, kalau banyak hal yang Nes gak bawa dan ternyata sangat menyulitkan??
Ingat, ini Gunung Rinjani 3.726 mdpl yang medannya bisa jadi sangat berat dan beda karakteristik dengan gunung2 yang pernah Nes daki sebelumnya.

Sama siapa aja?
Guide kami, cewek tangguh asal Mataram, yang rumahnya juga sebagai basecamp kami, Mbak Nita. Selain Mbak Nita ada juga mantan Mapala FE UnRam (Univ. Mataram) Mas Ivan. Keduanya sudah belasan kali naik Rinjani.
Hari Kamis malam 24 Juli 2008 yang datang ada Nes, Ignal dan Godwin. Sorenya datang Soni, Bayu, Aji, Fajar. Jumat malam datanglah Kena, Maureen (Momo), Maria, dan Dewa. Ketika paginya Sabtu, 26 Juli 2008 kami naik angkot menuju pos pendakian, di tengah jalan kami ketemu lagi dengan tiga makhluk Madura, Nova, dan Ari. Jadilah kami berenam belas dipersatukan nasib jadi kelompok sehidup semati enam hari perjalanan di Rinjani.
Uniknya kami berasal dari latar belakang dan asal yang berbeda2, ada Fajar yang koki sebuah resto top di mall ibukota, Soni yang bertampang sangar khas anak gunung, ternyata seorang web decoder. Ada pasangan-ketemu-di-Semeru, Bayu (Bandung) dan Kena (Jakarta). Momo, Maria, Dewa temen se-Mapala UI, sekarang sudah bekerja di tempat yang berlainan. Aji yang adiknya Kena. Madura yang cuti kuliah di Singaraja buat hobi petualang, ternyata baru ketemu Nova dan Ari di posko mapala-nya UnRam. Nova dan Ari lulusan UI yang freelancer, penerjemah buku2 sekaligus penjelajah dan penulis budaya2 kuno Indonesia.
Ignal asli Padang, tapi besar di Jakarta, dulunya sekelas Nes di 1C, sekarang ngantor di Singaraja. Godwin asli Medan, orang Batak tulen, dulunya temen magang di Semarang, selain ngantor, sekarang si Godwin dah jadi banci kondangnya Mataram, jadi penyiar radio bo’…

Nah, kebayang gak sih serunya perjalanan kami?

Lalu, gimana dengan rekor trek mereka? Selain Mb. Nita dan Mas Ivan yang gak usah diragukan lagi, kata Kena “Kami berdelapan sebelumnya kenal di Semeru tahun 2004. Bayu, Soni, dan Momo tahun lalu sudah naik Rinjani..” Selain itu, ini adalah kali kedua Godwin naik Rinjani…

Oh *pandangan langsung berkunang2*, dalam hati “Mampus gak lo Nes.. Lu kira Rinjani buat pendaki kacangan yang baru setahun belakangan naik gunung kaya’ lo…” Wah, alamat besok mendaki jadi ‘anak bawang’, jalan ‘paling kincrit’ dah… Paginya setelah packing sebelum berangkat, Nes berdoa seperti biasanya “Ya Allah, jadikan hamba-Mu yang lemah ini kuat sehingga tidak merepotkan kelompok.. Dan jadikanlah hamba-Mu ini setidaknya bermanfaat bagi kelompok walau sedikit, amin..”
Dan dengan doa itu, Nes mantap melangkah mendaki Rinjani 3.726 mdpl..

Ari, Ignal, Madura, Aji, Nes, Dewa. Soni ma Fajar manaa..

Pos 2 Tangengean. Sabtu, 26/7/2008. Dari kiri atas: Mas Nova, Maria, Maureen, Kena, Godwin, Bayu, Mb. Nita, Mas Ivan. Kiri bawah: Ari, Ignal, Madura, Aji, Nes, Dewa. Soni ma Fajar manaa..

Lanjutannya, to be contineud uploaded

Sabtu, 10/08/2008 Diposting dengan penuh frustasi…
Sebenarnya judul tulisan ini Ekspedisi Rinjani 3.726 mdpl Nes, jalur Sembalun-Senaru lanjut ke Gili Trawangan (ERNEST) ^^!
Tapi karena kepanjangan, dan tema blog ini judulnya gak bisa huruf kapiltal, jadi ya gitu deh…

21
Jul
08

Perempuan2 dalam Peradaban Dunia

“Satu-satunya teman yang kumiliki, yang tidak menunjukkan perubahan terhadap diriku, tetap jujur dan transparan bagai air, adalah Arjumandku tersayang. Baginya, aku belum pernah menjadi seorang pangeran, dan saat ini aku bukan seorang Sultan. Aku adalah suaminya, kekasihnya, hatiku masih terjalin erat dengan hatinya. Cinta kami adalah kepercayaan…” ~Shah Jahan.

“Bagi perempuan2 sedunia; adalah penting untuk menjaga wajahmu tetap cantik, dan badanmu tetap langsing, tapi lebih penting untuk mempertajam otakmu dan mengasah mentalmu untuk jadi pemberani..” Itulah pesan tersirat dari dua novel epik tentang perempuan2 dalam sejarah, yang dengan tangan otaknya, mengubah dunia. Mari berkenalan dengan Arjumand Banu dari India dalam Taj (Mizan) dan Tsi Tzu, seorang selir pada masa Kaisar Hsien Feng dalam Empress Orchid dan The Last Empress (Hikmah).

Wanita pertama adalah keajaiban dunia. Siapa tak kenal Mumtaz Mahal. Masjid yang dibangun karena cinta terhadap wanita ini, menjadi satu dari 7 keajaiban dunia. Maka, siapa meragukan bahwa Arjumand, nama gadis Mumtaz Mahal, adalah salah satu wanita yang mengubah peradaban manusia?

Mari kita mengenal kisah cinta abad ke 16 ini.

Arjumand muda harus rela menunggu Shah Jahan lima tahun sejak pertemuan pertama mereka sebelum menikah, dengan hanya tiga kali pertemuan, bahkan diselingi pernikahan politik raja muda itu dengan putri negara tetangga.

Ketika kemudian mereka menikah, pecah perang. Bahkan dengan kondisi mengandung, wanita pemberani ini ikut berperang. Ia menjadi penasehat pribadi sang raja. Seberapa cantik sang Arjumand, tak ada yang mengetahuinya dengan pasti, bahkan dikabarkan tubuhnya melar karena terlalu banyak mengandung, dan menghitam terkena debu jalanan akibat ikut berperang. Tapi kebijakan dan keberaniannya seluruh penduduk India tahu, dan tak ada yang meragukan.

Pada saat beberapa perempuan di harem mempraktikkan perdagangan, mengumpulkan kekayaan; yang lain merengek-rengek meminta jagir besar atau hadiah yang hebat, tidak ada yang memuaskan mereka, Arjumand justru seperti seorang sanyasi, dia hanya sedikit memiliki kebutuhan. Kebutuhan mendasarnya -makanan, minuman, dan cinta- sudah cukup terpuaskan. Ia justru mengingatkan kesederhanaan pada Shah Jahan.

“Kau sudah berubah. Bagaimana aku bisa tetap melihat seorang anak lelaki yang pertama kali melihatku di pasar malam Bangsawan Meena bertahun-tahun lalu?,” sindirnya dengan halus.

Dalam hidup pernikahannya, Arjumand 14 kali melahirkan. Dari 14, hanya 7 yang lahir hidup. Sebagian besar dari mereka, lahir di medan perang, dan tak satu pun anaknya yang hidup, baik laki-laki maupun perempuan, yang tak ikut dalam medan perang. Padahal pada jaman itu, tidak ada perempuan, yang ikut perang. Mereka bercadar dan tersembunyi dibalik istana-istana mewah, dengan puluhan pelayan dan budak. Arjumand bersikap berbeda.

“Kalau aku tak keras kepala, bagaimana bisa kau mencintaiku,” katanya pada Shah Jahan.

Wanita keajaiban dunia itu meninggal akibat daya tahan tubuhnya melemah, karena terlalu sering melahirkan.

Shah Jahan dikabarkan sangat bersedih dan menenggelamkan diri dalam proyek pengerjaan Taj Mahal. Tak heran Taj Mahal sendiri dibangun selama 22 tahun (1631-1653), mungkin lebih untuk menebus kesepian hati sang sultan daripada menjadikan sebuah bangunan..

~

Kota Terlarang, Dinasti Ch’ing. 26 Juni 1852. Ini adalah kisah seorang selir muda yang di kemudian hari menjadi Maharani, kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Putri Yehonala, Tzu Hsi (Orchid).

Salah satu orang bijak Cina meramalkan bahwa “Cina akan dihancurkan oleh seorang perempuan”.

Bersaing diantara ribuan orang untuk jadi salah satu dari 200 orang yg terpilih jadi selir kaisar, lalu bersaing untuk jadi satu dari tujuh istri, Tzu Hsi akhirnya terpilih menjadi Selir Kerajaan Tingkat Keempat, dengan gelar Putri Kebajikan nan Tak Tertandingi. Meski terpilih jadi satu dari tujuh istri, ia masih harus bersaing dengan dua ribu orang selir lainnya yang sebelumnya sudah menetap di istana.

Berbulan2 lamanya, bahkan sekedar bertemu dengan ’suami’-nya pun tak pernah. Ia menyuap Kasim Shim, Kepala Kasim dengan mahar perkawinannya, hanya untuk merancangkan jadwal ‘tidur’ satu kali dengan Paduka. Ketika jadwal itu diraih, ia tak segan untuk ‘belajar’ di Wisma Lotus (rumah bordil) ‘cara menyenangkan lelaki di tempat tidur’.

Singkat kata, sejak itu ia jadi selir kesayangan Kaisar. Di sanalah ia belajar politik, intrik, kekuasaan. Kaisar, yg terbiasa dimanja sejak kecil, mentalnya tak cukup kuat menghadapi serangan Inggris dalam Perang Candu (1852). Maka, ia berinisiatif meresume surat2, membuat konsep traktat, putusan, dsb. Inilah karier pertamanya di kekaisaran. Pada jaman itu, peran wanita di kerajaan sangat terbatas, dan sang Empress memakai baju laki-laki untuk menyamarkan perannya sebagai sekretaris pribadi Kaisar. Ia rela berjalan kaki, dan bukannya ditandu pada saat pengungsian perang, tak seperti wanita lainnya. Ia juga tidak lebih memperhatikan penampilannya -yang memang sudah cantik- daripada karier politik dan kepentingan negaranya. Kisah Empress Orchid berakhir hingga kematian Kaisar Hsien Feng.

Di sekuelnya, The Last Empress, lebih banyak menceritakan karier politik sang Maharani. Meski ia hanya selir, tapi berhasil melahirkan satu2nya keturunan laki2 yang kelak akan menjadi Kaisar, Tung Chih. Meski demikian, karena Tung Chih masih sangat muda, politik lebih banyak ‘dimainkan’ oleh ibunya. Menjadi satu2nya wanita yang berdiri tegak dengan guncangan fitnah, dengan satu demi satu pendukungnya dibunuh, terbunuh, atau diasingkan, Tsu Hsi benar2 mencerminkan tipikal perempuan tangguh. Ia sama sekali tidak silau terhadap harta atau kekuasaan, ia menyebut masuknya ia ke Kota Terlarang sebagai “sebuah ketidakberuntungan”.

Wanita yang pantang menyerah ini, berpengaruh terhadap peradaban dunia.

Melalui novel Empress Orchid dan sekuelnya The Last Empress, pengarangnya -seorang wanita juga- Anchee Min berkata ‘peradaban seharusnya berterima kasih kepada sosok Tzu Hsi (Orchid), bukannya menuduhnya sebagai penghancur peradaban Cina, seperti kata ramalan.’

Semoga bisa dijadikan pelajaran.

18
Jul
08

Menjadi ‘ibu’

Kini masanya menikmati peran sebagai ibu.

Tentu bukan dalam arti harafiah lhawongnikahsajabelum, lantas?

Di Departeman Keuangan, fungsi Dirjen Perbendaharaan (Pb) kerap diidentikkan dengan peran ‘ibu’, yaitu ‘bagi-bagi duit’. Sedangkan sebagai fungsi ‘bapak’ yaitu pencari nafkah, dikerjakan oleh Dirjen Pajak dan Bea Cukai. Dirjen Pb sendiri punya ‘kepanjangan tangan’ yaitu kantor vertikal yang ada di daerah2. Di kantor vertikal sendiri terdapat beberapa seksi, dimana seksi yang menjadi ujung tombak sebelum uang benar2 berada di tempat yang tepat, untuk tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya adalah, tentu saja, seksi Pb. Ibarat perang, seksi inilah ‘garda depan’ pengeluaran ‘uang rakyat’ yang secara legal formal disebut APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara).

Secara ringkas, kerjaan ‘ibu’ ini adalah meneliti kelayakan pembayaran, apakah pengeluaran yang diminta itu sesuai dengan yang direncanakan. Sebagai ‘ibu’ juga, yang prinsip utamanya dalam membelanjakan duit ‘ayah’ adalah ‘hemat’, maka permintaan uang yang dianggap kelebihan akan dipertanyakan, sedangkan bila kurang, ya gak apa-apa.

Kerjaan pelaksana seksi ini dimulai ketika Satker, sebagai rekanan, menyerahkan Surat Perintah Membayar (SPM), disertai rincian perhitungan, dan lampiran2nya. Bila semua sudah benar, kerjaan itu akan diperiksa kembali oleh Kepala Seksi Pb. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) keluar dan berdasar surat tersebut pembayaran pun dilakukan oleh bank.

Di kota kecil ini ada 39 satker, jadi setiap pelaksana kebagian rata2 13. Nez sendiri mengerjakan 11 Satker, tapi volumenya lumayan ‘gemuk.’

Mudahkah? Hmm…

Pertama. Di kota2 yang hampir semua orang ‘melek’ komputer sih, gampang. Apalagi semua-muanya sekarang sudah memakai aplikasi (program software), tinggal masukin angka2, kode2, jadi. Tapi disini… Pernah suatu hari seorang bendaharawan yang datang jauh2 dari pelosok, membawa daftar perhitungan kekurangan gaji banyak orang, banyak bulan, dalam bentuk ketikan dengan mesin ketik.

Ketika diperiksa, daftar itu hampir semuanya salah…

“Pak, ini daftar setoran pajaknya kok kosong, seharusnya ada selisihnya?”

Baru Nez bilang gitu, bapaknya langsung pucat pasi, keringat dingin menetes di dahinya. Nez langsung membayangkan perjuangannya dengan mesin ketik itu –banyak di tipe-X-, perjalanannya ke kantor sini yang memakan waktu satu jam, orang2 di kantornya yang sudah dijanjikan bakal dapat rapel…

“Bukannya sudah ada di aplikasi ya, pak. Bapak tinggal masukin saja angka2nya saja.”

“Iya iya mbak..”

Bapak itu lantas undur diri. Beberapa hari kemudian si bapak kembali dengan perhitungan yang baru. Yah benar sih, tapi tetap saja manual, dengan mesin ketik dan bekas tipe-X, hehe…

Satker lainnya yang datang dengan kasus sama, kali ini dengan komputer. Wah udah senang aja. Tampilannya sih kayak yang baru keluar dari aplikasi. Tapi setelah dihitung2 kok banyak kejanggalan…

“Pak ini menghitungnya pakai aplikasi, kan?”

“Enggak mbak, pake komputer Excel…”

“Ohh… Pantas. Maaf Pak, masih banyak yang salah ini. Mohon diperbaiki dulu hitungannya…”

Ada lagi yang dengan nekadnya minta…

“Nez, tolong periksa dulu lah hitunganku ini. Baru nanti kalau sudah benar aku ajukan ke Kepala. Kalau bikin salah2 melulu, Kepala bisa marah2 samaku. Dikiranya aku mau ngapain uang orang ini…”

Sekali dua sih gak papa, lah ini setiap bulan, dan sering sekali salah. Boro2 kalau jumlah yang harus diperiksa sedikit, Satker si bapak ini membawahi lebih dari 500 personel, dengan perubahan2 tiap personelnya sangat kompleks –misal tambah istri, tambah anak, naik pangkat, mutasi, dsb- Wah wah…

Kedua. Jarak tempuh bervariasi kantor Satker dengan kantor kami. Ada yang dekat, biasanya Satker daerah yang berkantor di kompleks Pemda-, tapi ada juga yang jauh sekitar satu sampai dua jam… offroad!!

“Wah, salah ya, Mbak. Saya itu kalau SPM sudah salah, rasanya berat sekali. Dua hari baru jadi tu yang baru. Boro-boro kalau Pak Kepala-nya selalu ada di tempat, lebih sering beliau pergi. Lagipula kantor beliau dengan kantor kami berbeda dengan jarak yang agak jauh…” keluh seorang Bendaharawan Satker.

Pemberitahuan kesalahan itu biasanya dilakukan via sms. atau kalau salahnya agak parah dan butuh penjelasan, via telepon. Bila kantornya jauh, biasanya si Satker itu memilih mencocokkan pekerjaannya dengan Nez dulu –sebenarnya gak boleh ini- lalu menunggu hingga diperiksa Nez benar, baru balik. Satker yang kantornya dekat, jumpa saja kadang tak pernah –sebenarnya seharusnya memang begini, untuk mengurangi ketemuan dengan Satker, yang memicu timbulnya gratifikasi-, dan kalau ada kesalahan, baru di-sms saja selang beberapa menit kurir sudah datang membawakan gantinya yang baru… Praktis dan efisien.

Tapi ada gak enaknya juga punya Satker yang letaknya dekat. Pernah suatu hari sabtu pagi2 Bendahara Satker datang ke kosan. Udah ge-er aja kan, kirain mau diajak jalan2, hehe ternyata…

“Waduh mbak, saya lupa kalau hari ini batas terakhir, saya juga lupa kalau hari ini sabtu dan kantor mbak tutup…” Wah wah… Sabtu2 juga jadi ada kerjaan, kan… Hehe…

Ketiga. Karena fungsinya sebagai bahan rujukan, atau tempat konsultasi, pelaksana Pb paling tidak mesti tahu peraturan2 terbaru, aplikasi2 terbaru, bersedia mendengar keluhan Satker, mengatasi perbedaan pendapat antara Satker dengan Kepala Seksi (Kasi) Pb. Sering kali dalam kondisi terjepit antara kepentingan Satker dan Kasi. Nez sudah keburu meloloskan SPM, eh mentok di Kasi. Kedua pihak kan jadi ‘menyerang’ Nez. Wah kalo dah gini suka bingung nih, mau belain siapa, hehe…

“Gimana ini, katanya kemarin salah, sudah diganti… Lha sekarang sudah dibenarkan kok masih salah lagi…” Wah, maaf maaf… Kadang benar menurut pelaksana belum tentu benar menurut Kasi, sayangnya sebelum kerjaan benar menurut pelaksana, juga belum berani maju ke Kasi. Kasi juga gak mau kerjaan belum benar dah maju. Jadinya gitu deh… Lagi, hape harus stand-by terus buat dihubungi, baik telpon maupun sms. Temen seksi malah ada yang sengaja matiin hape pas lagi jam istirahat “biar gak diganggu” katanya. Pernah suatu kali ada yang menelepon Nez dengan suara yang ramah tentang kesalahan SPM, tapi begitu sudah selesai, telepon belum sepenuhnya ditutup ketika terdengar makian “Kampret banget SPM gw disalahin. Sialan!” Ahaha…

Keempat. Meski sudah dibilang mengenai reformasi birokrasi, gak ada KKN, dan larangan memberi gratifikasi, tapi tetap adaa saja yang coba2 buat ngasih ‘buat pulsa’ lah, ‘jatah bulan ini’ dsb. Kadang maksa lagi. Kalau sudah maksa gitu, ‘mantra’ yang paling ampuh memang menyebut asma Allah: MasyaAllah, demi Allah, dsb, hehe… Kata teman satu seksi, dia malah pernah tiba2 pulsanya nambah, kalau sudah gitu susah terlacak siapa yang ngasih, dan bingung gimana cara balikinnya, kan?! Astagfirullah…

Pernah suatu kali Nez nelpon ke Satker karena salah yang lumayan parah, tiba2…

“Gini ya, Mbak… Saya kemarin sudah bicara dengan Pak Kepala saya, yah… kita tahu sama tahu lah… Nanti ada jatahnya. Gimana enaknya ini, tiap SPM apa nanti akhir tahun aja, gimana biasanya aja?”

Terang aja jadi emosi dengernya. Sudah dibilang hari gini gak ada ‘gitu2an’ lagi, eh masih ngotot juga…

“Ini bukan karena salah itu lho, ini ya sekedar terima kasih lah, sudah mengerjakan, ya saya tahu lah…” Ih males. Akhirnya besok2 kalau satker ini salah, bikin aja surat, balikin lewat kantor pos. Gampang, kan.

Gak enaknya lagi, walau kita sudah nolak2 yang begituan, tapi banyak dari bendaharawan yang mengatasnamakan kantor kami untuk ‘memalak’ ganti pegawainya, alasannya “Ini potongan buat pegawai kantor bayar” Astagfirullah…

Sebenarnya, yang paling menarik dari kerjaan ini ya jadi banyak kenalan. Lalu ada fungsi pelayanan dan sosial pada masyarakat. Pastinya ya harus banyak belajar, jadi nyesel dulu tuh kuliah jarang merhatiin, karena ternyata ilmu itu aplikatif sekali di kantor. Secara global kerjaan ini memang ‘menantang’. Ternyata urusan bagi2 duit tu susah2 gampang, ada seninya. Sebagai ‘ibu’ mesti jeli apakah pengeluaran itu cukup rasional, hemat, dan sesuai kebutuhan. Disini, memang insting yang berperan, selain Standar Harga dan Biaya 2008 sih, hehe… Lalu, di tiap akhir bulan juga mesti bikin laporan pagu dan realisasinya.

Meski gitu, kerjaan ‘ibu’ yang cuman bagi2 duit ini ternyata dianggap lebih ‘gak penting’ dibanding fungsi ‘bapak’ yaitu pencari duit bagi negara. Nyatanya remunerasi tunjangan kami mendapat grade yang paling rendah diantara semua Dirjen di Dep Keu. Hmm…

08
Jul
08

Selamat Menjalani Pernikahan

“Banyak orang yang tahu cara menikah, tapi tidak tahu cara menjalani pernikahan.” ~ Istikharah Cinta.

Akhir bulan ini, 2 dari 13 anak geng RHY bakal melepas masa bujangnya. Darno dan Surohman. Sebelumnya, sepasang insan yang dipersatukan di RHY, Erda dan Miko, memutuskan hal serupa. Yang paling duluan adalah Dian, dan yang terakhir adalah Tri. Meninggalkan sisanya; Bibah, Nez, Pampam, Tina, Andi, Imron, dan Topik yang belum laku masih jomblo betah melajang. ^^!

Darno akan menikah dengan Eni Dwi Susanti, akhwat Boyolali. Sedangkan Surohman akan menikah dengan Ani Mintoro Asih. Yaaahh…kayaknya kenal neeehhh, hehehe..

Barakallahu laka wa bara ‘alaika.

Selamat buat kalian.

Tulisan berikut adalah sebagai pengganti atas ketidak-bisa-hadiran yang bukan karena-tak-sayang tapi kalian pasti-tahu-lah alasannya. Dan kutipan diatas bukanlah untuk menakut-nakuti atau sikap pesimis. Gak tau sih, karena belum pernah menikah atau mengambil keputusan buat nikah, tapi sepertinya menikah bukan hal gampang, menurut buku itu. Selain buku-buku seperti Indahnya Pernikahan, Ketika Cinta Berbuah Surga, dkk.. sebaiknya perlu disimak juga buku2 seperti Bukan Pernikahan Cinderela, The Real Desperate Housewife, dkk. Yang pasti membekali diri dengan ilmu adalah penting.

Tapi tenang saja, tak menarik hidup tanpa hambatan, anggaplah kehidupan baru ini adalah sebuah tantangan, dan bukankah tantangan ada untuk ditaklukkan, setuju?

Dan apalagi kado yang bisa diberikan seorang sahabat yang suka mencampuri urusan orang menulis, selain tulisannya. Tapi Nez tak hendak menguliahi cara pernikahan yang baik, takut pamali, lagipula pernikahan yang Nez tahu adalah yang terlihat, bukan yang dijalani.

Buat Oman, yaelah Man, kenapa gak dari dulu2, ma temen sendiri ini. Buat Ani, Oman pria yang baik, agak pendiem, seingatku dulu sering dijadiin bahan isengan sama Topik, gak tau tu si Oman masih ‘utuh’ gak, ups..

Buat Darno, selamat bisa keluar dari ‘jejaring tak kasat mata benang kusut hubungan2 antar manusia tempat sekolah kita dulu’, ohoho… Doakan aku, No… Buat Mbak Eni, Darno nakal, hehe.. Gak ding. Darno manusia melankolis romantis. Sukanya The Moffats, koleksi jadulnya lengkap, sampai ketika The Moffats jadi Same Same, bahkan beritanya diikutin terus, tapi dia bilang ‘aku bukan maniak, lho…’ Duluuu, entah lah sekarang. Tenang saja Mbak, kata-kata Darno yang Nez ingat adalah Satu Salah-satunya hal yang kusesali dalam hidup adalah pernah pacaran.” [Edit ~NeZ] Semoga dengan menikahnya dia bisa jadi manusia yang lebih baik. Amin.

Nah, sobatku Darno dan Surohman, selamat menjalani pernikahan.

~

RHYers, ayo ngumpul Lebaran di Jogja lagi yah..

08
Jul
08

Setahun yang Lalu

Hari ini setahun yang lalu..

Rasa haru menyesak di dada.

Perjuangan kami selama lebih dari enam bulan berbuah sudah.

Bukan. Bukan slayer merah atau nomor SPA yang kami inginkan.

Kami manusia baru hari itu. Kami bukan lagi diri kami yang enam bulan lalu..

Enam bulan kami berlari bersama, hampir setiap hari

Kami push up, sit up, back up, bending

Berguling-guling dan merangkak

Fisik kami ditempa

“Tak ada yang namanya keterbatasan fisik, yang membatasi hanya pikiran kalian sendiri,” kata Bang Jauhari terus terngiang-ngiang disaat kami merasa lemah dan tak sanggup lagi.

Mental kami diuji

“Dicaci, dimaki, dan dibentak-bentak,” kata sebuah lagu

Persaudaraan kami diadu domba

Ego kami diberangus

Kemampuan organisasi kami dilatih

Ide-ide bermunculan di bawah tekanan

Kritik disambut hangat

Pujian jadi pemicu

Empat belas pikiran, satu tujuan

Pengalaman yang memperkaya wawasan

Pelajaran menghadapi rintangan hidup

Perjalanan yang mendekatkan hati

Kesadaran akan kuasa Tuhan

Diklat Lapangan Gunung Kencana

Pengarungan Sungai Cisadane

Pendakian Gunung Salak

Pemanjatan Tebing Cidomba

Penelusuran Goa Asem

Bakti Sosial Anak Lapak Sarmili

Menjadi ‘Paspor’ kami memasuki organisasi Pecinta Alam STAPALA

tanggal 7/7/2007 kami berangkat untuk menjadi orang ke 810-824 dalam keluarga besar itu..

Selamat Ulang Tahun yang pertama angkatan 2007

Jekpot-810, Tongky-811, Ma’il-812, Gerwani-813, Pukon-814, Petot-815, Codot-816, Nesting-817, Bakwan-818, Rawon-819, Geplak-820, Grandong-821, Muladi-822, Odah-823 /SPA/2007

Dilantik tanggal 8/7/2007

oleh Cahyana Tri Raharja 591/SPA/99

di Sungai Cidahu, Kaki Gunung Salak

Semoga ikatan hati kita tetap dan selalu akan ada, selamanya…

~

Jrk0m07

Rykan uLtah angk’07.

Agnda:j0ging 2ptran,pushUp,sitUp,bending brg,msg2 2seri,gmn?

KmpL dp0sk0w,sLsa 8JuLi,jm05.30,NO TELAT!